
Sumber Gambar:Artificial Intelligence (foto seorang wanita dari kota Palu)

Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore GanSist semuanya!
Nusantara Series kembali membahas makanan Indonesia, tetapi kali ini pembahasannya sedikit berbeda. Nusantara Series #53 mencoba melihat makanan tradisional dari sudut pandang yang lebih praktis, apakah kuliner lokal dapat ikut masuk ke dalam program MBG untuk anak sekolah?
Salah satu makanan yang menarik untuk dibahas adalah duo sale, sambal khas Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang dibuat menggunakan ikan teri kering kemudian dimasak bersama cabai, bawang merah, dan tomat. Di Palu, duo sale dapat dimakan bersama nasi putih maupun nasi jagung. Radio Republik Indonesia juga memasukkan duo sale sebagai salah satu kuliner khas Kota Palu dan menjelaskan bahwa ikan teri kering menjadi bahan utamanya.
Dalam konteks program MBG, gagasan menggunakan duo sale cukup menarik. Namun, ada catatan penting sejak awal, yang dimaksud bukan menjadikan sambal sebagai satu-satunya lauk makan anak, melainkan menjadikan duo sale sebagai salah satu komponen menu dalam porsi yang terukur, berdampingan dengan sumber karbohidrat, protein lain, sayuran, dan buah.
Badan Gizi Nasional menyatakan bahwa menu MBG dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan gizi berdasarkan Angka Kecukupan Gizi, dengan porsi makan pagi sekitar 20–25% kebutuhan gizi harian dan makan siang sekitar 30–35%. Program ini juga diarahkan untuk melibatkan bahan pangan lokal serta petani, nelayan, dan UMKM dalam rantai pasoknya.
Lalu, mengapa duo sale cukup menarik sebagai salah satu kandidat menu lokal MBG untuk anak-anak Kota Palu?
Quote:
1. Duo Sale Menggunakan Bahan Pangan yang Sangat Dekat dengan Identitas Pesisir Palu
Alasan pertama adalah kesesuaian antara makanan dan lingkungan setempat. Kota Palu mempunyai hubungan yang kuat dengan kawasan pesisir. Duo sale memanfaatkan ikan teri kering sebagai bahan utama, kemudian menggabungkannya dengan cabai, bawang merah, dan tomat.
Hal tersebut mempunyai relevansi dengan konsep pangan lokal. Program makan sekolah tidak harus menggunakan menu yang sama persis di seluruh Indonesia. Justru, pemanfaatan bahan pangan yang tersedia secara lokal dapat membuat menu lebih sesuai dengan kebiasaan makan masyarakat.
FAO menjelaskan bahwa program makan sekolah yang menghubungkan pengadaan pangan dengan produsen lokal dapat membantu memperkuat sistem pangan lokal, meningkatkan keterlibatan masyarakat, serta memberikan manfaat ekonomi kepada produsen kecil.
Dalam konteks Palu, ikan teri dapat menjadi salah satu bahan yang menghubungkan tiga hal sekaligus, yaitu gizi anak, budaya pangan lokal, dan ekonomi masyarakat.
Quote:
2. Ikan Teri Menyumbang Protein Hewani
Alasan kedua berkaitan langsung dengan nilai gizi. Ikan merupakan kelompok pangan sumber protein hewani. FAO menjelaskan bahwa pangan akuatik merupakan sumber protein hewani sekaligus menyediakan berbagai mikronutrien dan asam lemak tak jenuh rantai panjang yang penting bagi kesehatan dan perkembangan anak.
Protein diperlukan anak untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh. Masa sekolah merupakan periode ketika anak masih mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan berbagai fungsi tubuh.
Oleh karena itu, menu sekolah idealnya tidak hanya menyediakan sumber energi seperti nasi, mi, atau umbi, tetapi juga sumber protein. Duo sale dapat memberikan kontribusi terhadap komponen tersebut karena bahan utamanya adalah ikan teri.
Namun, sekali lagi, kata kuncinya adalah kontribusi. Duo sale tidak boleh diposisikan sebagai pengganti seluruh sumber protein dalam satu paket MBG. Porsi ikan teri dalam sambal biasanya relatif kecil dibandingkan porsi lauk utama seperti ikan segar, telur, ayam, tahu, atau tempe.
Jadi, pendekatan yang lebih masuk akal adalah menjadikan duo sale sebagai lauk pendamping atau komponen protein tambahan.
Quote:
3. Ikan Teri Juga Merupakan Sumber Kalsium
Ini salah satu bagian yang cukup menarik. Kementerian Kesehatan menyebut ikan teri sebagai salah satu sumber kalsium dari pangan hewani, bersama ikan, udang, susu, yoghurt, keju, telur, dan beberapa bahan pangan lainnya.
Kalsium sangat penting selama masa pertumbuhan karena sebagian besar kalsium tubuh disimpan di tulang dan gigi. Untuk anak sekolah, kecukupan kalsium penting dalam mendukung perkembangan tulang dan gigi. Artinya, ikan teri memiliki nilai tambah yang menarik dibandingkan sekadar menggunakan sambal berbahan cabai dan bawang.
Tentu, kandungan kalsium aktual suatu sajian bergantung pada jenis ikan teri, bagian ikan yang dimakan, pengolahan, serta jumlah yang dikonsumsi. Oleh karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa satu sendok duo sale otomatis memenuhi kebutuhan kalsium harian anak. Satu bahan saja tidak tiba-tiba menyelesaikan seluruh kebutuhan gizi.
Namun, jika ikan teri dikonsumsi bersama makanan lain yang kaya kalsium, kontribusinya dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih baik. Inilah alasan mengapa duo sale lebih menarik apabila ditempatkan dalam menu beragam, bukan dimakan sendirian.
Quote:
4. Rasanya Dapat Membantu Meningkatkan Daya Terima Makanan
Program makan sekolah tidak cukup hanya menyediakan makanan yang secara matematis memenuhi kebutuhan gizi. Anak harus mau memakannya.
FAO menekankan bahwa makanan sekolah perlu sehat, aman, bergizi, dan dapat diterima oleh anak. Program makan sekolah juga dapat menjadi sarana membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat.
Duo sale mempunyai karakter rasa yang cukup kuat, antara gurih dari ikan teri, disertai rasa dari cabai, bawang merah, dan tomat. RRI menggambarkan duo sale sebagai sambal dengan perpaduan rasa gurih dan manis serta tingkat kepedasan yang dapat dibuat tidak terlalu menyengat. Karakter ini berpotensi membantu meningkatkan daya terima nasi dan lauk pendamping.
Namun, untuk anak sekolah, tingkat kepedasan harus dikendalikan. Duo sale untuk MBG tidak harus dibuat dengan standar sambal orang dewasa yang ingin menguji ketahanan lidah. Cabai dapat digunakan secukupnya, sedangkan rasa gurih dapat diperoleh dari ikan teri dan bumbu aromatik.
Tujuannya bukan membuat anak menahan pedas saat makan MBG. Tujuannya membuat MBG habis dimakan. Sebab, makanan dengan kandungan gizi sangat baik tetapi selalu tersisa di kotak makan pada akhirnya memberikan manfaat gizi yang sangat kecil kepada anak.
Quote:
5. Tomat dan Bumbu Segar Membuat Duo Sale Tidak Hanya Mengandalkan Rasa Asin
Duo sale secara tradisional menggunakan kombinasi ikan teri dengan cabai, bawang merah, dan tomat. Penggunaan bahan-bahan tersebut mempunyai keuntungan kuliner sekaligus memungkinkan rasa dibangun dari berbagai sumber, bukan hanya dari garam.
Tomat, misalnya, memberikan rasa asam dan umami alami. Bawang memberikan aroma dan rasa khas. Cabai memberikan sensasi pedas. Ikan teri memberikan rasa gurih.
Secara prinsip kuliner, semakin banyak sumber rasa yang digunakan, semakin kecil ketergantungan terhadap satu sumber rasa tertentu. Hal ini relevan untuk makanan anak karena konsumsi natrium perlu diperhatikan.
WHO merekomendasikan pengurangan asupan natrium pada populasi dan menyatakan bahwa kebutuhan atau batas konsumsi anak perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi yang lebih rendah dibandingkan orang dewasa.
Oleh karena itu, formula duo sale untuk MBG sebaiknya tidak menggunakan garam secara berlebihan. Rasa dapat dibangun melalui tomat matang, bawang merah, bawang putih, rempah, dan ikan teri dalam jumlah yang sesuai. Dengan begitu, makanan tetap mempunyai karakter rasa tanpa menjadikan garam sebagai pemeran utama yang tidak diundang tetapi selalu muncul.
Quote:
6. Duo Sale Dapat Menjadi Media Pendidikan Pangan Lokal
MBG sebenarnya mempunyai peluang lebih besar daripada sekadar menyediakan makanan. Program tersebut juga dapat menjadi sarana pendidikan. BGN menyebut edukasi gizi sebagai bagian dari tujuan program MBG. Maka, menu lokal seperti duo sale dapat digunakan sebagai bahan pendidikan sederhana.
Misalnya, anak dapat diperkenalkan dengan pertanyaan apa itu ikan teri, mengapa ikan dapat dikeringkan, mengapa makanan perlu disimpan dengan benar, apa manfaat protein, mengapa tubuh membutuhkan kalsium, dari mana makanan yang kita makan berasal, dan apa hubungan makanan lokal dengan nelayan. Pembelajaran semacam ini membuat makanan menjadi pintu masuk menuju ilmu pengetahuan. Anak tidak hanya melihat lauk di dalam wadah, tetapi memahami perjalanan makanan dari ekosistem hingga meja makan.
FAO juga menekankan bahwa sekolah merupakan tempat strategis untuk membentuk kebiasaan makan dan pendidikan gizi, sekaligus dapat menghubungkan konsumsi pangan dengan sistem pangan lokal. Dalam konteks Nusantara Series, aspek ini sangat menarik karena makanan tradisional tidak hanya bagian dari budaya, tetapi juga dapat menjadi alat pendidikan mengenai lingkungan dan ekonomi.
Quote:
7. Penggunaan Bahan Lokal Berpotensi Mendukung Nelayan dan Rantai Pasok Lokal
Alasan ketujuh berhubungan dengan ekonomi. Salah satu gagasan penting dalam program makan sekolah berbasis pangan lokal adalah menghubungkan permintaan institusi dengan produsen pangan lokal.
FAO secara khusus mengembangkan panduan mengenai penggunaan ikan dan produk perikanan lokal dalam program makan sekolah. Panduan tersebut membahas pengadaan ikan lokal yang aman, bergizi, terjangkau, dan berkelanjutan serta bagaimana pengadaan tersebut dapat menghubungkan sekolah dengan nelayan skala kecil.
Hal ini relevan dengan duo sale. Jika bahan ikan teri diperoleh melalui rantai pasok lokal yang memenuhi standar, permintaan dari program makan sekolah dapat menciptakan pasar yang lebih stabil bagi pelaku usaha perikanan dan pengolahan pangan.
Namun, ini tidak berarti pemerintah harus membeli ikan teri secara otomatis dari siapa saja. Rantai pasok harus memenuhi standar keamanan pangan, mutu, kontinuitas, dan harga. BGN sendiri memiliki petunjuk teknis tata kelola penyelenggaraan MBG serta pedoman terkait keamanan pangan dan penyelenggaraan SPPG.
Jadi, konsepnya bukan sekadar memakai bahan lokal karena bahan lokal pasti bagus. Tidak sesederhana itu. Bahan lokal harus aman, bermutu, tersedia, bergizi, terjangkau, dan dapat dipertanggungjawabkan rantai pasoknya.
Quote:
8. Duo Sale Bisa Menjadi Contoh Menu MBG yang Menggabungkan Gizi dan Identitas Daerah
Inilah alasan terakhir sekaligus yang paling cocok dengan semangat Nusantara Series. Program makan bergizi berskala nasional tidak harus menghasilkan menu yang identik dari Sabang sampai Merauke. Justru, terdapat peluang untuk mempertahankan keragaman kuliner Indonesia selama prinsip gizinya tetap terpenuhi.
Anak-anak di Palu dapat mengenal makanan khas Palu. Anak-anak di daerah pesisir dapat mengenal ikan lokal. Anak-anak di daerah pertanian dapat mengenal hasil pertanian setempat. Anak-anak di daerah penghasil umbi dapat memperoleh menu berbasis umbi.
Konsep seperti ini sejalan dengan pendekatan home-grown school feeding, yaitu pengadaan makanan sekolah yang menghubungkan kebutuhan sekolah dengan produksi pangan lokal. FAO menyebut pendekatan tersebut dapat memperkuat sistem pangan lokal sekaligus mendukung mata pencaharian produsen kecil.
Duo sale dapat menjadi salah satu contoh penerapannya di Kota Palu. Bukan berarti seluruh menu MBG harus berupa makanan tradisional. Tidak. Menu tetap harus bervariasi agar anak memperoleh beragam zat gizi dan tidak bosan. Namun, memasukkan makanan lokal secara terencana dapat membuat program memiliki dimensi budaya yang lebih kuat.
Anak-anak bukan hanya mendapatkan MBG. Mereka juga mengenal identitas daerahnya.
Quote:
Ada Satu Masalah Besar, yaitu Natrium
Bagian ini tidak boleh dilewati. Duo sale menggunakan ikan teri kering. Produk ikan yang diasinkan atau dikeringkan dapat memiliki kandungan natrium yang tinggi, tergantung metode pengolahan dan formulanya.
Oleh karena itu, duo sale versi MBG tidak boleh sekadar mengambil resep rumah tangga lalu diproduksi massal tanpa modifikasi. WHO menempatkan pengurangan natrium sebagai bagian penting dari pencegahan penyakit tidak menular dan merekomendasikan agar asupan anak disesuaikan dengan kebutuhan energi mereka.
Maka, ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan. Pertama, porsi duo sale harus kecil dan terukur. Kedua, garam tambahan perlu dibatasi. Ketiga, rasa dapat diperkuat menggunakan tomat, bawang, cabai dalam tingkat kepedasan yang sesuai, dan rempah. Keempat, kandungan natrium produk akhir perlu dianalisis, bukan sekadar diperkirakan berdasarkan resep. Kelima, duo sale sebaiknya menjadi lauk pendamping, bukan satu-satunya sumber protein. Dengan pendekatan tersebut, keunggulan ikan teri tetap dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan masalah natrium.
Quote:
Bagaimana Bentuk Menu MBG yang Masuk Akal?
Jika duo sale benar-benar akan digunakan dalam menu MBG Kota Palu, komposisinya sebaiknya tidak hanya nasi dan duo sale. Itu terlalu sederhana.
Model yang lebih masuk akal misalnya nasi atau nasi jagung ditambah duo sale porsi kecil, lauk pauk, sayuran, dan buah. Duo sale berfungsi sebagai lauk pendamping yang memberikan cita rasa sekaligus tambahan zat gizi dari ikan teri.
Contoh lainnya adalah nasi ditambah duo sale, ikan segar panggang, sayur bening, dan pepaya. Atau, nasi jagung ditambah duo sale, telur, sayur daun kelor, dan pisang.
Komposisi pastinya tentu harus ditentukan berdasarkan kelompok umur, kebutuhan energi, standar menu MBG yang berlaku, harga bahan pangan, dan hasil analisis kandungan gizi.
Jangan membuat menu berdasarkan intuisi semata. Kalau programnya memberikan MBG anak dalam jumlah besar, asumsi “kira-kira cukup” bukanlah metode ilmiah.
Quote:
Keamanan Pangan Juga Harus Menjadi Prioritas
Ada satu hal lain yang sangat penting, yaitu keamanan. Produk ikan kering membutuhkan pengendalian mutu bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi.
BPOM telah lama melakukan pengawasan terhadap produk pangan seperti ikan asin karena kelompok pangan tersebut dapat menjadi objek penyalahgunaan bahan berbahaya. Dalam pengawasan di pasar, BPOM juga melakukan pengujian terhadap sampel ikan asin untuk memastikan tidak mengandung bahan kimia berbahaya.
Untuk MBG, standar tersebut tentu harus lebih ketat karena penerimanya adalah anak-anak dalam jumlah besar. Bahan baku harus berasal dari pemasok yang dapat ditelusuri. Proses pengeringan harus higienis. Penyimpanan harus sesuai. Produk yang menunjukkan tanda kerusakan tidak boleh digunakan. Proses produksi harus mengikuti standar keamanan pangan SPPG.
BGN sendiri mencantumkan Pedoman Sertifikasi Keamanan Pangan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam kumpulan petunjuk teknisnya.
Jadi, jika duo sale ingin masuk ke MBG, resep tradisionalnya perlu diterjemahkan menjadi produk pangan institusional yang terukur dan aman. Ini memang terdengar kurang indah dibandingkan “resep warisan nenek”. Namun, ribuan anak yang makan setiap hari membutuhkan keamanan pangan, bukan sekadar keindahan saja.
Quote:
KESIMPULAN
Duo sale merupakan salah satu makanan khas Kota Palu yang menarik untuk dipertimbangkan sebagai komponen menu MBG lokal, terutama karena bahan utamanya berupa ikan teri dan bumbunya menggunakan bahan pangan yang umum dalam masakan daerah seperti tomat, bawang, dan cabai. RRI juga mencatat duo sale sebagai kuliner khas Palu yang lazim disantap bersama nasi putih atau nasi jagung.
Ada beberapa alasan ilmiah dan praktis yang mendukung gagasan tersebut.
Pertama, duo sale mempunyai identitas kuat sebagai makanan lokal Palu.
Kedua, ikan teri merupakan sumber protein hewani.
Ketiga, ikan teri juga dapat menyumbang kalsium.
Keempat, rasa gurih dan berbumbu berpotensi meningkatkan penerimaan makanan anak.
Kelima, penggunaan tomat dan bumbu aromatik memungkinkan cita rasa dibangun tanpa sepenuhnya bergantung pada garam.
Keenam, duo sale dapat digunakan sebagai media pendidikan mengenai pangan lokal dan gizi.
Ketujuh, penggunaan bahan ikan lokal berpotensi menghubungkan program makan sekolah dengan rantai pasok perikanan setempat.
Kedelapan, makanan tradisional dapat menjadi bagian dari identitas budaya dalam program makan bergizi nasional.
Namun, ada syarat yang tidak bisa ditawar. Duo sale untuk MBG harus dibuat dengan porsi terukur, kadar natrium terkendali, bahan baku aman, proses higienis, dan tetap menjadi bagian dari menu beragam.
Dengan demikian, gagasan menggunakan duo sale bukan berarti menganggap semua makanan tradisional otomatis sehat. Justru sebaliknya. Makanan tradisional perlu dipelajari secara ilmiah agar bagian terbaiknya dapat dipertahankan, sementara aspek yang perlu diperbaiki dapat disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak.
Inilah pendekatan yang seharusnya digunakan ketika kekayaan kuliner Nusantara bertemu dengan program pangan nasional. Bukan memilih antara tradisi atau ilmu gizi, melainkan membuat keduanya bekerja bersama. Dan untuk anak-anak Kota Palu, semangkuk nasi dengan lauk bergizi yang ditemani sedikit duo sale dapat menjadi contoh kecil bahwa makanan lokal pun bisa mengambil bagian dalam masa depan program gizi Indonesia.
Quote:
SUMBER
Badan Gizi Nasional Republik Indonesia. (2025). BGN akan memulai Program MBG secara bertahap. Badan Gizi Nasional.
Badan Gizi Nasional Republik Indonesia. (2025). Dokumen petunjuk teknis (Juknis) Program Makan Bergizi Gratis. Badan Gizi Nasional.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2006). (I(Bahan berbahaya yang dilarang untuk pangan(/I). Badan POM RI.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2012). 24 sampel yang diambil di pasar semuanya negatif. Badan POM RI.
Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2024). A toolkit for incorporating fish into the home-grown school feeding programme. FAO.
Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2026). Aquatic food for nutrition at school. FAO.
Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2026). School food and nutrition. FAO.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Serba-serbi kalsium. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
Radio Republik Indonesia. (2024). Beragam kuliner tradisional khas Kota Palu. RRI.
Radio Republik Indonesia. (2024). Sambal Duo Sale, sensasi pedas manis dari Palu. RRI.
World Health Organization. (2012). Guideline: Sodium intake for adults and children. WHO.
World Health Organization. (2026). Policies and interventions to create healthy school food environments: WHO guideline. WHO.









