
Sumber Gambar:Artificial Intelligence (hayo tebak, ini foto siapa?
)
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya! 
Pada Superwoman Series #174, kita membahas cara menekan kecanduan belanja. Pada seri #180, kita membandingkan hobi yang memberikan nilai positif dengan hobi yang justru merugikan. Kemudian, pada seri #181, kita membahas perubahan dari perilaku impulsif menuju kehidupan yang lebih sehat, mandiri, dan produktif.
Di Superwoman Seriesyang ke-182 kali ini, pembahasannya sedikit lebih serius. Apa hubungan kecanduan belanja dengan perilaku agresif?
Jawabannya bukan sekadar asumsi bahwa wanita yang kecanduan belanja pasti menjadi kasar. Tidak sesederhana itu. Tidak semua orang dengan perilaku adiktif akan menjadi agresif, dan hubungan antara kecanduan dengan agresi dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti jenis kecanduan, impulsivitas, regulasi emosi, stres, kondisi psikologis, lingkungan, serta penggunaan zat tertentu.
Namun, penelitian memang menemukan adanya hubungan antara berbagai bentuk perilaku adiktif dengan kesulitan regulasi emosi dan kontrol impuls, dua faktor yang juga berkaitan dengan agresivitas. Meta-analisis terhadap 189 penelitian dengan lebih dari 78 ribu peserta menemukan hubungan signifikan antara disregulasi emosi dan berbagai perilaku adiktif, termasuk penggunaan zat, perjudian, dan video game.
Penelitian lainnya yang lebih baru juga menemukan bahwa kesulitan mengatur emosi berhubungan dengan agresi, terutama agresi reaktif, yaitu perilaku agresif yang muncul sebagai respons terhadap kemarahan, provokasi, atau frustrasi.
Lalu, mengapa kecanduan dapat berkaitan dengan agresi? Setidaknya, ada 5 jalur ilmiah yang perlu dipahami.
Quote:
1. Kecanduan dapat berjalan bersama dengan lemahnya kontrol impuls
Kita mulai dari mekanisme yang paling mudah dipahami. Seseorang memiliki dorongan dan ingin melakukan sesuatu. Kemudian, muncul kemampuan untuk berhenti dan mempertimbangkan konsekuensi.
Pada kondisi kontrol impuls yang baik, dari dorongan menjadi berpikir, kemudian mempertimbangkan sebelum bertindak.
Pada kondisi impulsivitas yang tinggi, dari dorongan kemudian langsung bertindak.
Masalahnya, mekanisme ini tidak hanya relevan dengan belanja. Seseorang yang terbiasa kesulitan menahan dorongan membeli barang juga dapat mengalami kesulitan dalam menahan respons ketika sedang marah. Namun, ini bukan berarti kecanduan belanja otomatis menyebabkan seseorang menonjok atau menjambak rambut orang lain.
Penelitian terbaru mengenai compulsive buyingmenemukan bahwa orang dengan skor kecenderungan belanja kompulsif lebih tinggi menunjukkan impulsivitas dan kesulitan menahan respons yang lebih besar dalam beberapa pengukuran. Mereka juga lebih cepat memasukkan barang ke keranjang dan mengeluarkan lebih banyak uang dalam simulasi belanja.
Jadi, persoalannya bukan sekadar Sista terlalu suka belanja. Persoalannya adalah apakah terdapat pola yang lebih luas berupa dorongan kuat yang sulit berhenti menyebabkan seseorang suka bertindak sebelum berpikir, setelah itu baru penyesalan di kemudian hari. Pola seperti itu dapat menjadi faktor risiko berbagai perilaku yang merugikan.
Dan ketika objek dorongannya bukan lagi barang, melainkan respons terhadap seseorang yang membuat marah, konsekuensinya dapat menjadi jauh lebih serius.
Quote:
2. Kecanduan sering berkaitan dengan kesulitan mengatur emosi
Ini salah satu bagian terpenting. Banyak perilaku adiktif bukan hanya dilakukan untuk mendapatkan kesenangan. Sebagian juga digunakan untuk mengubah keadaan emosional. Stres? Belanja. Kesepian? Belanja. Lelah? Belanja. Marah? Belanja. Dengan demikian, aktivitas tersebut menjadi semacam alat regulasi emosi.
Masalahnya, strategi tersebut belum tentu menyelesaikan penyebab emosinya.
Meta-analisis tahun 2024 yang mencakup 189 penelitian menemukan bahwa disregulasi emosi berhubungan secara signifikan dengan berbagai perilaku adiktif, termasuk alkohol, tembakau, kanabis, perjudian, dan video game. Penulis juga menyoroti kurangnya kontrol impuls sebagai salah satu faktor yang cukup kuat dalam hubungan tersebut.
Pada gangguan penggunaan zat, meta-analisis lain terhadap 22 penelitian menemukan bahwa orang dengan gangguan penggunaan zat memiliki kesulitan regulasi emosi yang lebih besar dibandingkan kelompok kontrol, terutama pada aspek strategi regulasi emosi dan kontrol impuls ketika mengalami tekanan emosional.
Sekarang, hubungkan dengan agresi. Penelitian meta-analisis tahun 2026 yang mencakup 137 artikel dan 171 studi dengan total lebih dari 252 ribu peserta menemukan bahwa kesulitan regulasi emosi berhubungan dengan agresi, dengan hubungan yang lebih kuat untuk agresi reaktif.
Maka, jalurnya dapat digambarkan secara sederhana emosi negatif menyebabkan regulasi emosi buruk, lalu impulsivitas meningkat, sehingga respons emosi menjadi lebih reaktif.
Dalam sebagian kondisi, respons tersebut dapat berupa agresi. Bukan karena orang yang kecanduan pasti jahat, melainkan karena kemampuan mengelola emosi dan mengendalikan impuls merupakan bagian penting dalam mencegah respons agresif.
Quote:
3. Ketika perilaku adiktif gagal memberikan kepuasan, frustrasi dapat meningkat
Ini bagian yang sering tidak dibicarakan. Perilaku adiktif biasanya memiliki dorongan kuat untuk mendapatkan sesuatu.
Pada kecanduan belanja, seseorang mungkin merasa sangat ingin membeli. Dirinya membayangkan barang tersebut akan membuat dirinya lebih bahagia. Barang dibeli, kemudian kepuasan menurun, lalu muncul keinginan berikutnya.
Jika keinginan tersebut terhalang, frustrasi dapat muncul. Misalnya, tidak memiliki uang, tagihan utang sudah melilit, pasangan melarang pembelian, keluarga mengkritik, barang yang diinginkan habis, transaksi gagal, atau seseorang mencoba menghentikan kebiasaan tersebut.
Jika kemampuan regulasi emosinya buruk, frustrasi dapat berubah menjadi kemarahan, dan ketika kontrol impuls juga buruk, kemungkinan munculnya respons yang tidak dipikirkan matang-matang dapat meningkat.
Sekali lagi, ini bukan hubungan sebab-akibat sederhana. Frustrasi tidak otomatis menghasilkan agresi. Namun, gabungan antara frustrasi, disregulasi emosi, dan impulsivitas merupakan bagian dari mekanisme yang dapat meningkatkan risiko respons agresif.
Oleh karena itu, seseorang yang ingin menghentikan kecanduan belanja perlu belajar tidak hanya melarang diri sendiri, tetapi juga memutuskan apa yang akan diri sendiri lakukan ketika dorongan itu mulai muncul. Kalau tidak ada strategi pengganti, manusia cenderung kembali kepada kebiasaan lama.
Quote:
4. Kecanduan dapat mengganggu fungsi sosial dan memperbesar konflik
Kecanduan tidak berhenti pada perilaku pribadi. Jika sudah cukup berat, dampaknya dapat merambat ke hubungan sosial.
Pada kecanduan belanja, misalnya, masalah finansial dapat muncul. Tinjauan ilmiah mengenai compulsive buyingmenggambarkan gangguan ini sebagai pola belanja atau pengeluaran yang berlebihan dan sulit dikendalikan hingga menyebabkan tekanan psikologis atau gangguan fungsi kehidupan. Kondisi tersebut juga sering disertai masalah suasana hati, kecemasan, penggunaan zat, serta gangguan psikologis lainnya.
Bayangkan seseorang terus menggunakan uang rumah tangga untuk pembelian impulsif. Pasangan mempertanyakan, terjadi pertengkaran, kepercayaan menurun, masalah finansial meningkat, tekanan meningkat, kemudian konflik menjadi semakin sering.
Dalam kondisi tersebut, agresi dapat muncul sebagai bagian dari konflik interpersonal, terutama apabila seseorang memiliki kesulitan mengatur emosi dan mengendalikan impuls
Oleh karena itu, agresi tidak harus dimulai dari dorongan ingin menyakiti orang lain. Kadang-kadang, rantainya jauh lebih panjang. Dimulai dari perilaku adiktif yang menimbulkan masalah finansial atau sosial, kemudian muncul stres, konflik, frustrasi, disregulasi emosi, sehingga terjadilah respons agresif.
Itulah sebabnya, kecanduan perlu dipandang sebagai masalah yang dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan.
Quote:
5. Kecanduan dan agresi dapat memiliki faktor dasar yang sama
Ini mungkin bagian yang paling penting untuk memahami persoalannya secara ilmiah. Jangan buru-buru berpikir bahwa kecanduan menyebabkan agresi.
Hubungan sebenarnya dapat berbentuk faktor tertentu dapat meningkatkan risiko kecanduan sekaligus agresi.
Contohnya adalah impulsivitas, kesulitan regulasi emosi, stres kronis, pencarian sensasi, gangguan kesehatan mental tertentu, lingkungan sosial yang buruk, pengalaman kekerasan, serta faktor biologis maupun psikososial lainnya.
Tinjauan mengenai hubungan gangguan penggunaan zat, gangguan kontrol impuls, dan agresi patologis juga menunjukkan keterkaitan antara penggunaan zat, impulsivitas, dan agresi.
Dalam konteks alkohol, hubungan bahkan dapat bersifat dua arah. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alkohol dapat meningkatkan agresi melalui gangguan kontrol eksekutif dan peningkatan reaktivitas emosional, sementara sifat agresif dan disregulasi emosi juga dapat menjadi faktor yang mendahului masalah penggunaan alkohol.
Artinya, pada sebagian kondisi, kecanduan dapat memperburuk faktor yang sudah ada, sementara faktor yang sama juga dapat meningkatkan kecenderungan terhadap kecanduan.
Ini jauh lebih ilmiah daripada menggeneralisasi bahwa orang yang berperilaku kecanduan pasti agresif.
Quote:
Lalu, bagaimana dengan kecanduan belanja secara khusus?
Ini perlu dibedakan dari kecanduan zat. Compulsive buying-shopping disorderatau CBSD merupakan kecanduan perilaku yang berkaitan dengan pembelian dan belanja berulang yang sulit dikendalikan dan menimbulkan konsekuensi negatif. Literatur ilmiah mengaitkannya dengan impulsivitas, masalah regulasi emosi, serta berbagai komorbiditas psikologis.
Namun, bukti bahwa kecanduan belanja secara langsung menyebabkan perilaku agresif masih jauh lebih terbatas dibandingkan bukti mengenai hubungan antara beberapa gangguan penggunaan zat dan agresi.
Ini penting.
Jadi, judul thread ini harus dipahami sebagai risiko melalui mekanisme psikologis dan faktor yang saling berhubungan, bukan sebagai hukum bahwa setiap orang yang kecanduan belanja akan berubah menjadi agresif.
Bahkan, penelitian mengenai terapi CBSD masih berkembang. Tinjauan sistematis tahun 2023 menemukan bahwa terapi kelompok berbasis cognitive behavioral therapy (CBT) menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam mengurangi gejala CBSD, meskipun kualitas dan jumlah penelitian masih terbatas.
Jadi, jika kebiasaan belanja sudah terasa tidak terkendali, menimbulkan utang, mengganggu pekerjaan, merusak hubungan, atau digunakan terus-menerus sebagai satu-satunya cara menghadapi emosi, masalahnya sudah lebih serius daripada sekadar Sista gemar belanja.
Quote:
Jadi, apa 5 alasan utamanya?
Kalau seluruh pembahasan diringkas, ada 5 alasan utama.
1) Kontrol impuls
Perilaku adiktif dapat berkaitan dengan kesulitan menghambat dorongan. Ketika kemampuan berhenti dan berpikir melemah, respons emosional juga lebih sulit dikendalikan.
2) Disregulasi emosi
Banyak perilaku adiktif digunakan untuk mengubah keadaan emosional. Ketika kemampuan regulasi emosi buruk, kemarahan dan frustrasi lebih sulit dikelola.
3) Frustrasi
Ketika keinginan adiktif terhambat atau tidak lagi memberikan kepuasan seperti sebelumnya, frustrasi dapat meningkat. Jika ditambah impulsivitas dan regulasi emosi yang buruk, respons reaktif menjadi lebih mungkin.
4) Konflik sosial
Konsekuensi kecanduan dapat menciptakan masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan, dan hubungan. Konflik yang semakin sering dapat menjadi konteks munculnya perilaku agresif.
5) Faktor risiko bersama
Impulsivitas, disregulasi emosi, stres, pencarian sensasi, serta faktor psikologis dan lingkungan tertentu dapat meningkatkan risiko baik terhadap perilaku adiktif maupun agresi.
Quote:
Apa yang harus dilakukan Sista?
Pertama, kenali pola.
Jangan hanya menghitung berapa rupiah yang dikeluarkan. Perhatikan juga kapan dorongan belanja muncul. Apakah setelah disalahpahami orang lain? Setelah merasa ditolak? Ketika bosan? Ketika merasa minder? Ketika sedang marah?
Kemudian, perhatikan apa yang terjadi setelah belanja. Apakah masalah emosional benar-benar selesai, atau hanya hilang selama beberapa jam?
Jika jawabannya yang kedua, berarti belanja mungkin sedang berfungsi sebagai strategi regulasi emosi, bukan sekadar aktivitas konsumsi.
Kedua, bangun alternatif.
Dalam seri sebelumnya, kita sudah membahas olahraga, hobi produktif, keterampilan, dan aktivitas yang dapat membantu mengalihkan energi secara sehat.
Ketiga, buat hambatan terhadap perilaku impulsif. Misalnya, hapus aplikasi belanja, matikan notifikasi promosi, berdiam diri di dalam rumah untuk belajar bahasa Inggris, gunakan daftar belanja, terapkan masa tunggu sebelum membeli, pisahkan rekening kebutuhan dan uang hiburan, dan catat pemicu emosional.
Keempat, jangan takut mencari bantuan profesional jika perilaku sudah sulit dikendalikan.
Tinjauan sistematis terhadap terapi CBSD menunjukkan bahwa pendekatan psikoterapi, khususnya CBT, memiliki bukti yang cukup menjanjikan meskipun penelitian masih memiliki keterbatasan.
Jika sudah muncul perilaku kriminalitas, kekerasan, ancaman, atau risiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain, persoalannya harus ditangani lebih serius dan segera oleh tenaga kesehatan mental atau UGD rumah sakit jiwa setempat.
Quote:
PENUTUP
Superwoman Series #182 sebenarnya masih berhubungan erat dengan seri-seri sebelumnya. Pada #174, kita belajar menekan kecanduan belanja. Pada #180, kita belajar memilih hobi yang membangun. Pada #181, kita membahas transformasi dari perilaku impulsif menuju kesehatan, kemandirian, dan kontribusi.
Sekarang, kita melihat alasan ilmiahnya. Mengendalikan kecanduan belanja bukan hanya masalah uang. Ini juga berkaitan dengan kontrol diri, regulasi emosi, hubungan sosial, kesehatan mental, dan kemampuan menghadapi frustrasi.
Sista tidak perlu menjadi manusia yang tidak pernah marah. Marah adalah emosi. Yang penting adalah kemampuan memilih apa yang dilakukan ketika marah.
Tidak perlu menjadi manusia yang tidak pernah memiliki keinginan membeli. Keinginan membeli juga normal. Yang penting adalah kemampuan mengatakan bahwa Sista menginginkannya, tetapi Sista tidak harus membelinya.
Tidak perlu menjadi manusia yang tidak pernah frustrasi. Yang penting adalah memiliki strategi untuk menghadapi frustrasi tanpa merusak diri sendiri maupun orang lain.
Dan inilah salah satu bentuk Superwoman yang sebenarnya, bukan perempuan yang tidak mempunyai dorongan, melainkan perempuan yang mampu mengendalikan dorongannya sebelum dorongan tersebut mengendalikan dirinya.
Sebab, kebebasan bukan berarti bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Kebebasan yang lebih manusiawi adalah kemampuan memilih tindakan meskipun dorongan sesaat mengatakan sebaliknya.
Dan ketika kemampuan itu semakin kuat, Sista bukan hanya menjadi lebih sehat secara finansial. Sista juga sedang membangun pengendalian diri, ketahanan mental, hubungan sosial yang lebih sehat, dan kehidupan yang lebih mandiri.
Itulah semangat Superwoman Series #182.
Quote:
SUMBER
Akun Y*ut*be Pria Seratus Persen (tetapi diadaptasi dengan gaya wanita).
Black, D. W. (2022). Compulsive shopping: A review and update. Current Opinion in Psychology, 46, 101321.
Eliyahu, S., Rahamim, S., Natan, N., & Weinstein, A. M. (2025). Impulsivity and compulsivity in compulsive buying. Frontiers in Psychiatry, 16, 1665182.
González-Roz, A., Castaño, Y., Krotter, A., Salazar-Cedillo, A., & Gervilla, E. (2024). Emotional dysregulation in relation to substance use and behavioral addictions: Findings from five separate meta-analyses. International Journal of Clinical and Health Psychology, 24(3), 100502.
Müller, A., Laskowski, N. M., Thomas, T. A., Antons, S., Tahmassebi, N., Steins-Loeber, S., Brand, M., & Georgiadou, E. (2023). Update on treatment studies for compulsive buying-shopping disorder: A systematic review. Journal of Behavioral Addictions, 12(3), 631–651.
Smith, K., Jones, A., Daly, N., Widdrington, H., Garofalo, C., & Gillespie, S. M. (2026). Emotion regulation and aggression: A systematic review and meta-analysis. Aggressive Behavior, 52(1), e70055.
Stellern, J., Xiao, K. B., Grennell, E., Sanches, M., Gowin, J. L., & Sloan, M. E. (2023). Emotion regulation in substance use disorders: A systematic review and meta-analysis. Addiction, 118(1), 30–47.
Brady, K. T., Myrick, H., & McElroy, S. (1998). The relationship between substance use disorders, impulse control disorders, and pathological aggression. The American Journal on Addictions, 7(3), 221–230.











