
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat siang GanSist semuanya! 
Setelah pada Nusantara Series #60 kita membahas papeda, makanan berbahan sagu yang menjadi salah satu identitas kuliner Indonesia timur, sekarang perjalanan kuliner Nusantara bergerak ke arah yang berbeda.
Kali ini, kita menuju ke Bali, tetapi bukan untuk membahas nasi campur, ayam betutu, atau sate lilit yang sudah sangat populer. Ada satu makanan berbahan rumput laut yang menarik untuk dibicarakan, yaitu bulung.
Bulung merupakan hidangan tradisional Bali yang menggunakan rumput laut sebagai bahan utama. Dalam beberapa jenis hidangan, rumput laut disajikan sebagai lalapan atau campuran dengan bumbu khas Bali. Salah satu rumput laut yang dikenal dalam kuliner Bali adalah Caulerpa sp., yang antara lain dikenal sebagai bulung boni. Penelitian mengenai Caulerpa sp. mencatat bahwa masyarakat di Bali mengonsumsinya sebagai lalapan atau urap, baik dalam keadaan mentah maupun setelah direbus.
Ada pula jenis rumput laut lain yang mempunyai nama lokal bulung rambu, yang dikaitkan dengan Gracilaria verrucosa. Hal ini penting, karena istilah “bulung” tidak selalu menunjuk pada satu spesies rumput laut saja.
Jadi, bulung bukan sekadar makanan laut yang kebetulan berwarna hijau. Di baliknya, terdapat hubungan antara masyarakat pesisir, sumber daya laut, tradisi pengolahan makanan, dan potensi ekonomi.
Berikut 5 alasan mengapa bulung layak dicoba.
Quote:
1. Bulung Membuktikan bahwa Rumput Laut Tidak Hanya untuk Agar-Agar
Ketika mendengar kata rumput laut, sebagian orang mungkin langsung membayangkan agar-agar, jelly, atau bahan industri. Padahal, rumput laut juga dapat menjadi bahan pangan yang dikonsumsi secara langsung.
Contohnya adalah Caulerpa sp., yang di Bali dikenal antara lain sebagai bulung boni. Penelitian dalam Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis mencatat bahwa rumput laut ini dapat dikonsumsi masyarakat pesisir sebagai lalapan, urap, atau setelah direbus.
Ini memperlihatkan bahwa masyarakat pesisir mempunyai pengetahuan mengenai spesies laut yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan.
Dalam konteks Indonesia, pengetahuan seperti ini sangat berharga. Negara kepulauan memiliki wilayah pesisir yang luas dan keanekaragaman hayati laut yang besar. Masyarakat yang tinggal dekat laut selama berabad-abad mengembangkan berbagai cara untuk memanfaatkan sumber daya tersebut.
Bulung merupakan salah satu contoh sederhana. Rumput laut tidak harus selalu dikeringkan, diekstraksi, lalu diubah menjadi produk industri. Rumput laur juga bisa masuk langsung ke meja makan.
Menariknya, tekstur Caulerpa memang berbeda dengan sayuran darat biasa. Beberapa jenis Caulerpa memiliki struktur menyerupai butiran kecil sehingga sering disebut anggur laut. Dalam kuliner, tekstur tersebut menjadi salah satu daya tariknya.
Dengan demikian, mencoba bulung berarti mencoba bentuk pemanfaatan rumput laut yang lebih dekat dengan tradisi pangan masyarakat pesisir.
Quote:
2. Bulung Menawarkan Serat Pangan dan Berbagai Komponen Bioaktif
Alasan kedua berkaitan dengan ilmu gizi.
Rumput laut merupakan kelompok organisme yang mempunyai komposisi kimia yang cukup menarik. Salah satu komponennya adalah polisakarida dan serat pangan.
Penelitian mengenai rumput laut Kappaphycus alvarezii, misalnya, menemukan bahwa fraksi padat rumput laut tersebut didominasi serat pangan, dengan kandungan serat total sekitar 30% berdasarkan berat kering dalam sampel yang diteliti.
Penelitian lain mengenai serat dari rumput laut yang dalam literatur lama disebut Eucheuma cottonii juga menunjukkan kandungan serat tidak larut yang tinggi pada bahan sisa ekstraksi tertentu.
Namun, ada satu catatan penting. Tidak semua rumput laut mempunyai komposisi gizi yang sama. Spesies berbeda dapat memiliki kandungan serat, mineral, protein, pigmen, dan senyawa bioaktif yang berbeda pula.
Bahkan, nomenklatur rumput laut yang sering disebut Eucheuma cottonii mengalami perubahan taksonomi. Literatur ilmiah terbaru menjelaskan bahwa nama tersebut merupakan nomenklatur lama dan banyak bahan yang secara komersial disebut “cottonii” sebenarnya berkaitan dengan kelompok Kappaphycus.
Oleh karena itu, kita tidak seharusnya mengatakan bahwa semua bulung pasti memiliki kandungan zat gizi tertentu dalam jumlah yang sama. Yang dapat dikatakan adalah bahwa rumput laut secara umum merupakan sumber berbagai komponen pangan yang menarik, termasuk serat dan mineral, sehingga pemanfaatannya sebagai bagian dari makanan memiliki potensi nutrisi.
Namun, jangan mengubah bulung menjadi “obat segala penyakit”. Rumput laut tetap makanan, bukan obat ajaib yang dapat menyelesaikan semua masalah kesehatan manusia.
Quote:
3. Rasanya Berbeda karena Menggabungkan Rumput Laut dengan Bumbu Bali
Alasan ketiga adalah soal rasa.
Bulung menarik bukan hanya karena bahan utamanya berasal dari laut, melainkan juga karena rumput laut dipadukan dengan bumbu dan cara penyajian khas Bali.
Rumput laut mempunyai karakter rasa dan tekstur yang berbeda dari sayuran darat. Beberapa jenis Caulerpa, misalnya, mempunyai tekstur renyah dan sensasi khas ketika dikunyah. Oleh karena itulah, rumput laut tersebut dapat digunakan sebagai lalapan atau urap.
Kemudian, datanglah bumbu. Bumbu khas Bali biasanya melibatkan kombinasi berbagai bahan aromatik dan rempah, seperti bawang, cabai, terasi, jeruk limau, dan bahan lainnya tergantung jenis hidangan serta daerah pembuatannya.
Hasilnya adalah perpaduan yang menarik. Ada sensasi laut. Ada tekstur rumput laut. Ada rasa pedas. Ada aroma rempah. Ada rasa asam atau segar.
Satu bahan utama yang relatif sederhana dapat berubah menjadi hidangan dengan karakter rasa yang jauh lebih kompleks.
Inilah salah satu kekuatan kuliner tradisional. Teknik memasak tidak selalu harus rumit. Kadang, justru bahan lokal yang sederhana dipadukan dengan bumbu yang tepat sehingga menghasilkan identitas rasa yang kuat.
Bulung memperlihatkan bahwa rumput laut dapat ditempatkan sebagai bahan pangan utama dalam suatu hidangan, bukan sekadar hiasan yang ditaruh di pinggir piring lalu dilupakan.
Quote:
4. Bulung Bisa Menghasilkan Nilai Ekonomi dari Sumber Daya Pesisir
Nah, ini dia nomor 4 yang dijamin bikin untung, setidaknya jika pengelolaannya dilakukan secara berkelanjutan.
Rumput laut bukan hanya bahan pangan, melainkan juga merupakan komoditas ekonomi penting. Indonesia mempunyai industri budidaya rumput laut yang besar. Rumput laut dimanfaatkan untuk pangan, hidrokoloid seperti karaginan dan agar, serta berbagai produk industri lainnya.
BRIN bahkan pada 2026 menerbitkan kajian mengenai bioprospeksi makroalga sebagai bagian dari transformasi bioindustri biru Indonesia, menunjukkan bahwa makroalga mempunyai potensi yang lebih luas daripada sekadar bahan mentah tradisional.
Dalam konteks bulung, nilai ekonominya dapat muncul melalui beberapa tingkatan.
Pertama, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya rumput laut sebagai bahan pangan.
Kedua, bahan tersebut dapat diolah menjadi hidangan tradisional.
Ketiga, hidangan dapat dijual sebagai bagian dari kuliner lokal.
Keempat, identitas kuliner tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Rangkaian tersebut menciptakan nilai tambah. Rumput laut yang awalnya merupakan sumber daya alam memiliki nilai ekonomi yang berbeda setelah dipanen, dibersihkan, diolah, dibumbui, disajikan, dan dijual sebagai makanan.
Ini merupakan konsep penting dalam ekonomi pangan. Nilai ekonomi tidak selalu berasal dari bahan yang mahal. Kadang, nilai tersebut muncul karena kemampuan masyarakat mengolah bahan lokal menjadi produk yang mempunyai identitas.
Bulung adalah contoh menarik mengenai bagaimana sumber daya pesisir dapat masuk ke rantai ekonomi berbasis budaya.
Namun, ada syarat penting. Pemanfaatannya harus dilakukan secara berkelanjutan. Jika permintaan meningkat tetapi pengelolaan lingkungan buruk, keuntungan jangka pendek justru dapat merusak sumber daya yang menjadi sumber pendapatan.
Oleh karena itu, budidaya, pemanenan, kebersihan perairan, pengolahan pascapanen, dan pengelolaan ekosistem harus diperhatikan. Keuntungan yang baik adalah keuntungan yang masih memungkinkan sumber dayanya tersedia untuk generasi berikutnya.
Quote:
5. Makan Bulung Berarti Mengenal Kearifan Pangan Masyarakat Pesisir Bali
Alasan terakhir mungkin yang paling penting dalam konteks Nusantara Series.
Bulung bukan hanya tentang rasa, melainkan juga merupakan bagian dari pengetahuan masyarakat mengenai cara memanfaatkan lingkungan pesisir.
Masyarakat pesisir tidak hanya melihat laut sebagai tempat menangkap ikan. Laut juga menyediakan berbagai organisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Rumput laut merupakan salah satunya.
Dalam kasus Caulerpa sp., penelitian mencatat penggunaan rumput laut tersebut dalam bentuk makanan oleh masyarakat pesisir, termasuk di Bali dengan nama lokal bulung boni.
Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan kuliner tradisional dapat menjadi salah satu bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungan. Masyarakat mengenali bahan. Masyarakat mengetahui cara mengolahnya. Masyarakat mengetahui bumbu yang sesuai. Kemudian, pengetahuan tersebut diwariskan.
Dari sudut pandang antropologi pangan, proses seperti ini penting karena makanan dapat menjadi bagian dari identitas budaya. Sebuah masyarakat tidak hanya mewariskan bahasa, pakaian, musik, dan upacara. Masyarakat juga mewariskan cara makan, dan cara makan tersebut sering kali menyimpan informasi mengenai lingkungan tempat mereka hidup.
Bulung memberi contoh yang sangat jelas. Lingkungan pesisir menyediakan rumput laut. Pengetahuan lokal menentukan bagaimana bahan tersebut dipilih dan diolah. Bumbu lokal memberikan karakter rasa. Kemudian, masyarakat mengubah semuanya menjadi hidangan yang mempunyai identitas.
Dengan demikian, bulung dapat dipandang sebagai pertemuan antara laut, budaya, ekonomi, dan kuliner.
Quote:
Jadi, Mengapa Harus Makan Bulung?
Setelah 5 alasan tersebut dibahas, terlihat bahwa bulung mempunyai cerita yang lebih panjang daripada penampilannya yang sederhana.
Pertama, bulung menunjukkan bahwa rumput laut dapat menjadi makanan langsung, bukan hanya bahan baku agar-agar atau produk industri. Caulerpa sp. yang dikenal sebagai bulung boni di Bali telah dimanfaatkan sebagai lalapan atau urap.
Kedua, rumput laut mempunyai berbagai komponen pangan seperti serat dan mineral, meskipun komposisinya berbeda-beda menurut spesies dan kondisi bahan.
Ketiga, bulung mempunyai karakter kuliner yang khas karena tekstur rumput laut dipadukan dengan bumbu dan teknik penyajian Bali.
Keempat, rumput laut mempunyai potensi ekonomi yang besar dan dapat menciptakan nilai tambah melalui pengolahan pangan serta pengembangan produk berbasis ekonomi biru.
Kelima, bulung memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir memanfaatkan sumber daya lingkungan sekaligus mempertahankan pengetahuan pangan tradisional.
Di sinilah bulung menjadi menarik untuk dimasukkan ke dalam Nusantara Series #61.
Pada seri sebelumnya, papeda membawa kita mengenal sagu sebagai sumber pangan penting Indonesia timur. Sekarang, bulung membawa kita kembali ke wilayah kepulauan dengan perspektif berbeda.
Kalau papeda memperlihatkan hubungan manusia dengan sagu dan daratan, bulung memperlihatkan hubungan manusia dengan rumput laut dan pesisir.
Keduanya mempunyai kesamaan. Keduanya menunjukkan bahwa makanan tradisional lahir dari kemampuan masyarakat membaca lingkungan. Apa yang tumbuh di sekitar mereka dimanfaatkan. Apa yang tersedia di alam diolah. Kemudian, lahirlah makanan yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi bagian dari kebudayaan.
Itulah sebabnya, makanan Nusantara layak dipelajari lebih serius. Satu piring makanan dapat menyimpan cerita mengenai ekologi, ekonomi, teknologi pangan, sejarah, dan identitas masyarakat. Bulung adalah salah satu contohnya.
Di balik sepiring bulung terdapat keanekaragaman hayati laut, pengetahuan masyarakat pesisir, teknik pengolahan pangan, budaya Bali, dan potensi ekonomi sumber daya laut. Dan mungkin, itulah alasan terbaik untuk mencobanya.
Tidak hanya supaya tahu rasanya, tetapi juga supaya semakin memahami bahwa Nusantara mempunyai banyak cara untuk mengubah kekayaan alam menjadi kebudayaan di atas meja makan.
Nusantara Series #61 selesai.
Dari sagu ke rumput laut. Dari Indonesia timur ke Bali. Dari pangan pokok ke kuliner pesisir.
Perjalanannya berbeda, tetapi pesannya tetap sama, bahwa Indonesia tidak kekurangan makanan lokal. Yang sering kurang adalah perhatian kita untuk mengenalnya.
Quote:
SUMBER
Aguilar, R. T., Critchley, A. T., & Roleda, M. Y. (2026). Do not call me by your name: The commercially traded “cottonii” seaweed is not Eucheuma cottonii—An obsolete nomenclature now reclassified under a new genus. LWT – Food Science and Technology.
Guo, J., Shi, F., Sun, M., & Ma, F. (2022). Antioxidant and aflatoxin B1 adsorption properties of Eucheuma cottonii insoluble dietary fiber. Food Bioscience, 50, 102043.
Pangestuti, R. (2026). Bioprospeksi makroalga sebagai pilar pangan dan kesehatan dalam transformasi bioindustri biru Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Pratiwi, A. R., et al. (2020). Perubahan komponen serat rumput laut Caulerpa sp. dari Tual, Maluku akibat proses perebusan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis.
Badan Penghubung Provinsi Bali. (2022). Profil Desa Adat Sanggalangit: Potensi kuliner khas Bali. Pemerintah Provinsi Bali.
Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2022). Pengaruh penggunaan pakan buatan berbahan baku tepung makroalga hijau Ulva sp. terhadap pertumbuhan yuwana abalon Haliotis squamata. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia.











