Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat pagi GanSist semuanya!
Setelah pada Nusantara Series #59 kita membahas Kota Palu dengan bentang alam, budaya, dan sejarah kebencanaannya, sekarang kita melanjutkan perjalanan ke bagian timur Indonesia. Kali ini, bukan sebuah kota yang menjadi pusat perhatian, melainkan makanan yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maluku dan Papua, yaitu papeda.
Papeda merupakan makanan berbahan dasar sagu dengan tekstur kenyal, lengket, dan menyerupai bubur berwarna putih bening. Di berbagai daerah Indonesia timur, papeda dapat menjadi makanan pokok dan biasanya disantap bersama ikan berkuah, terutama ikan kuah kuning. Kementerian Kesehatan juga menyebut papeda sebagai salah satu kekayaan kuliner Nusantara dari kawasan Papua, Maluku, dan beberapa daerah di Sulawesi Selatan.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia yang terbiasa makan nasi, papeda mungkin terlihat agak membingungkan pada percobaan pertama. Bentuknya seperti bubur, tetapi cara makannya berbeda. Teksturnya sangat lengket, dan papeda biasanya digulung menggunakan garpu atau sepasang sumpit sebelum dipindahkan ke piring. Manusia memang berhasil menciptakan makanan yang membuat alat makan biasa mendadak membutuhkan pelatihan khusus.
Namun, di balik teksturnya yang unik, papeda mempunyai nilai gizi, sejarah, budaya, dan ekologis yang menarik.
Berikut 6 alasan mengapa papeda layak dicoba.
Quote:
1. Papeda Menunjukkan Bahwa Makanan Pokok Indonesia Tidak Harus Nasi
Alasan pertama sangat sederhana, tetapi penting. Indonesia mempunyai banyak sumber karbohidrat selain beras.
Papeda dibuat dari pati sagu yang berasal dari batang pohon sagu. Kementerian Kesehatan menyebut sagu sebagai salah satu pangan pokok yang populer terutama di Maluku dan Papua, sekaligus sebagai alternatif pangan pengganti nasi.
Hal ini memperlihatkan hubungan yang erat antara makanan dan lingkungan. Masyarakat tidak memilih makanan pokok secara acak. Jenis tanaman yang tersedia di lingkungan sangat memengaruhi pola pangan suatu masyarakat.
Di wilayah yang cocok untuk persawahan, beras dapat menjadi makanan utama. Di wilayah Indonesia timur yang mempunyai tradisi pemanfaatan sagu, sagu dapat menjadi sumber karbohidrat penting.
Sagu bahkan mempunyai sejarah pemanfaatan yang sangat panjang di Maluku dan Papua. Penelitian etnografi kesehatan yang disimpan dalam repositori Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sagu merupakan makanan pokok masyarakat Kampung Waru di Seram dan secara umum merupakan makanan penting masyarakat Maluku.
Oleh karena itu, papeda sebenarnya mengajarkan satu hal penting mengenai ketahanan pangan. Makanan pokok tidak harus seragam. Diversifikasi pangan justru dapat membuat masyarakat tidak terlalu bergantung pada satu komoditas.
Kementerian Kesehatan juga mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi seimbang. Dalam peringatan Hari Gizi Nasional 2026, Kemenkes menekankan pentingnya pangan lokal yang sehat, terjangkau, dan sesuai dengan kearifan budaya setempat.
Papeda merupakan contoh nyata bahwa pangan lokal dapat menjadi bagian dari identitas sekaligus sumber energi masyarakat.
Quote:
2. Sagu Mempunyai Hubungan yang Sangat Kuat dengan Lingkungan Indonesia Timur
Alasan kedua berkaitan dengan tanaman sagu itu sendiri.
Sagu bukan sekadar bahan makanan. Bagi masyarakat tertentu di Maluku dan Papua, sagu merupakan bagian dari sistem kehidupan.
Pohon sagu dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pati sebagai bahan pangan. Bahkan berbagai bagian tanaman sagu dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain.
Dokumentasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku mencatat bahwa sagu dimanfaatkan masyarakat bukan hanya sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan nonpangan, termasuk bahan bangunan, perabot rumah tangga, dan bahan lainnya.
Dalam pengolahan tradisional, masyarakat mempunyai berbagai pengetahuan mengenai cara mengambil pati dari batang sagu.
Salah satu dokumentasi kebudayaan Maluku bahkan mencatat penggunaan gona-gona, alat yang dibuat dari pelepah sagu dan digunakan dalam proses penyaringan pati sagu.
Ini menarik, karena menunjukkan bahwa teknologi pangan tradisional tidak berdiri sendiri. Ada tanaman, ada alat, ada teknik, ada pengetahuan, dan semuanya diwariskan antar generasi. Papeda merupakan produk akhir dari rangkaian pengetahuan tersebut.
Dengan kata lain, ketika seseorang menyantap papeda, yang dimakan sebenarnya bukan hanya pati sagu. Ada pengetahuan tradisional mengenai pengelolaan sumber daya alam yang berada di belakangnya.
Quote:
3. Cara Makannya Paling Beda, Karena Papeda Tidak Diperlakukan Seperti Bubur Biasa
Nah, ini dia nomor 3 yang paling beda.
Papeda mempunyai tekstur yang sangat lengket dan kenyal karena bahan utamanya berupa pati sagu.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa papeda mempunyai tekstur kenyal dan lengket serta biasanya disantap bersama ikan berkuah seperti ikan tongkol, kakap merah, atau ikan kue.
Cara menyantapnya pun menarik. Papeda biasanya diambil menggunakan garpu atau sumpit, kemudian digulung hingga melingkari alat makan tersebut. Setelah itu, papeda dipindahkan ke piring dan disantap bersama kuah ikan.
Bagi orang yang belum terbiasa, teknik ini mungkin terasa aneh. Papeda tidak mudah dipotong seperti nasi. Tidak bisa dengan mudah disendok seperti bubur. Dan kalau terlalu banyak mengambilnya, teksturnya yang lengket dapat membuat proses pemindahan menjadi sedikit dramatis.
Namun, justru di situlah keunikannya. Cara makan merupakan bagian dari budaya pangan. Makanan tidak hanya memiliki resep, tetapi juga mempunyai cara penyajian dan cara konsumsi. Cara seseorang menggulung papeda merupakan bagian dari pengalaman kuliner yang membedakannya dari makanan pokok lainnya.
Selain itu, papeda biasanya tidak disantap sendirian. Ikan kuah kuning menjadi pasangan yang sangat umum. Kuah ikan memberikan rasa gurih, asam, dan rempah yang melengkapi papeda yang relatif netral.
Secara gastronomi, kombinasi tersebut masuk akal. Papeda menyediakan sumber karbohidrat. Ikan memberikan protein. Kuah dan rempah memberikan rasa serta aroma. Sayuran atau pelengkap lain dapat menambahkan vitamin, mineral, dan serat.
Jadi, keunikan papeda bukan hanya pada bentuknya, tetapi juga pada cara makanan tersebut dikombinasikan dalam satu hidangan.
Quote:
4. Papeda Tidak Boleh Dianggap Sebagai Makanan yang Sudah Lengkap Gizinya
Ini bagian yang perlu diperhatikan.
Papeda memang mempunyai keunggulan sebagai sumber karbohidrat, tetapi papeda sendiri tidak menyediakan seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Kementerian Kesehatan menekankan bahwa tidak ada satu bahan makanan yang mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan manusia. Pola makan yang baik harus terdiri atas beragam makanan untuk memperoleh karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin, dan mineral.
Komposisi papeda terutama didominasi karbohidrat dari pati sagu. Dokumen edukasi Kementerian Kesehatan mengenai papeda mencantumkan bahwa dalam 100 gram papeda, komponen terbesar adalah karbohidrat, sedangkan kandungan protein dan lemaknya sangat rendah.
Oleh karena itu, papeda lebih tepat dipandang sebagai komponen sumber energi, bukan satu-satunya makanan dalam satu kali makan.
Di sinilah ikan kuah kuning memainkan peranan penting. Ikan dapat menyediakan protein dan berbagai zat gizi lain. Jika ditambah sayuran, buah, serta sumber lemak yang sesuai, pola makan menjadi lebih beragam.
Prinsipnya sama seperti pedoman Isi Piringku. Sebuah makanan tradisional tidak perlu diagung-agungkan sebagai makanan super sehat. Cukup ditempatkan secara tepat dalam pola makan yang seimbang.
Papeda mempunyai keunggulan. Ikan mempunyai keunggulan. Sayuran mempunyai keunggulan. Menggabungkan semuanya justru lebih masuk akal daripada menganggap satu makanan mampu memenuhi seluruh kebutuhan tubuh.
Quote:
5. Papeda Adalah Contoh Nyata Kearifan Lokal dalam Memanfaatkan Pangan
Alasan kelima berkaitan dengan budaya.
Papeda bukan sekadar resep yang kebetulan populer di Papua dan Maluku. Papeda berhubungan dengan kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan sagu sebagai sumber pangan.
Dalam kehidupan masyarakat Maluku, sagu telah lama menjadi bagian dari sistem pangan. Dokumentasi Kementerian Kesehatan mengenai masyarakat Seram menunjukkan bahwa sagu digunakan sebagai makanan pokok dan juga mempunyai berbagai fungsi lain dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai pengetahuan mengenai lingkungan tempat mereka tinggal. Mereka mengetahui tanaman yang dapat dimanfaatkan. Mereka mengetahui bagaimana mengambil pati. Mereka mengetahui bagaimana mengolahnya. Dan mereka mengetahui cara mengombinasikannya dengan bahan pangan lain.
Pengetahuan seperti ini sering disebut sebagai pengetahuan ekologis tradisional. Salah satu nilai pentingnya adalah kemampuan masyarakat beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Pangan lokal memungkinkan masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Itulah mengapa makanan tradisional tidak seharusnya hanya dinilai dari rasa. Ada aspek sejarah. Ada aspek ekonomi. Ada aspek lingkungan. Ada aspek sosial. Dan ada aspek identitas.
Papeda menjadi simbol yang kuat karena sagu sendiri mempunyai kedudukan penting dalam budaya pangan Indonesia timur. Ketika resep tradisional dipertahankan, yang dipertahankan sebenarnya bukan hanya makanan. Yang dipertahankan adalah pengetahuan tentang bagaimana manusia hidup bersama lingkungannya.
Quote:
6. Makan Papeda Berarti Ikut Mengenal Indonesia yang Sangat Beragam
Alasan terakhir mungkin yang paling sederhana. Makan papeda adalah salah satu cara mengenal keragaman Indonesia.
Indonesia terlalu luas untuk memiliki satu pola makanan nasional yang seragam. Ada nasi. Ada jagung. Ada singkong. Ada ubi. Ada sagu. Dan berbagai sumber karbohidrat tersebut berkembang dalam konteks lingkungan serta budaya yang berbeda.
Papeda menjadi representasi penting dari kawasan Indonesia timur. Kementerian Kesehatan sendiri memasukkan papeda sebagai salah satu contoh kekayaan kuliner Nusantara dari Papua dan Maluku.
Menariknya, makanan ini juga memperlihatkan hubungan antara daratan dan laut. Sagu berasal dari tanaman darat. Ikan berasal dari perairan. Keduanya kemudian bertemu dalam belanga (eh, maksudnya di meja makan
Ini sebenarnya gambaran sederhana tentang kehidupan masyarakat pesisir dan kepulauan. Lingkungan darat menyediakan sagu. Laut menyediakan ikan. Masyarakat mengolah keduanya menjadi makanan.
Dengan demikian, papeda dapat dilihat sebagai kuliner yang mempertemukan dua sumber daya utama wilayah kepulauan, yaitu hutan dan laut, dan mungkin inilah alasan mengapa makanan tradisional begitu penting dalam memahami Indonesia.
Quote:
Jadi, Mengapa Harus Makan Papeda?
Setelah membahas 6 alasan tersebut, kita dapat melihat bahwa papeda lebih dari sekadar makanan bertekstur lengket.
Pertama, papeda menunjukkan bahwa makanan pokok Indonesia tidak selalu harus berupa nasi. Sagu telah lama menjadi sumber karbohidrat penting bagi sebagian masyarakat Maluku dan Papua.
Kedua, sagu mempunyai hubungan erat dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat Indonesia timur. Berbagai bagian tanaman sagu bahkan dimanfaatkan untuk kebutuhan non pangan.
Ketiga, cara menyantap papeda sangat unik. Teksturnya yang lengket membuat papeda biasanya digulung menggunakan garpu atau sumpit sebelum disantap bersama ikan berkuah.
Keempat, papeda merupakan sumber karbohidrat, tetapi tetap harus dikombinasikan dengan sumber protein, sayuran, buah, dan pangan lain agar membentuk pola makan yang seimbang.
Kelima, papeda merupakan bagian dari pengetahuan pangan tradisional masyarakat yang telah beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Keenam, papeda merupakan salah satu contoh nyata keragaman kuliner Indonesia dan memperlihatkan hubungan antara sumber daya darat dan laut dalam kehidupan masyarakat kepulauan.
Pada akhirnya, papeda mengajarkan bahwa makanan pokok tidak hanya berbicara mengenai rasa kenyang. Ada lingkungan di belakangnya. Ada budaya di belakangnya. Ada pengetahuan di belakangnya. Dan ada sejarah panjang mengenai bagaimana masyarakat menyesuaikan diri dengan sumber daya yang tersedia.
Pada seri sebelumnya, kita sudah melihat rabeg dari Banten dan Palu dari Sulawesi Tengah. Sekarang, papeda membawa kita lebih jauh ke timur. Dari rempah Banten, kita bergerak ke sagu Maluku dan Papua. Dari hidangan daging, kita beralih ke pati sagu dan ikan.
Namun, benang merahnya tetap sama. Kuliner Nusantara adalah bagian dari sejarah Indonesia.
Maka, kalau suatu hari berkesempatan mencicipi papeda, jangan hanya memperhatikan teksturnya yang lengket dan cara makannya yang unik. Perhatikan juga apa yang ada di dalam satu piring tersebut. Ada sagu dari daratan. Ada ikan dari laut. Ada rempah. Ada teknik pengolahan. Ada tradisi. Dan ada pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Itulah Nusantara Series #60. Enam alasan untuk makan papeda, dan alasan terbesarnya mungkin bukan karena makanan ini berbeda dari nasi, melainkan karena papeda mengingatkan kita bahwa Indonesia mempunyai lebih dari satu cara untuk merasa kenyang, dan setiap cara tersebut membawa cerita budaya masing-masing.
Quote:
SUMBER
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Papeda, kuliner lezat khas Indonesia Timur. Mediakom, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Isi Piringku, panduan kebutuhan gizi seimbang harian. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Seri etnografi kesehatan ibu dan anak 2012: Etnik Alifuru Seram, Desa Waru, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Peringati HGN ke-66: Kemenkes ajak masyarakat penuhi gizi seimbang lewat pangan lokal. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku. (2020). Peralatan pertanian masyarakat Maluku. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
