Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya!
Selamat datang kembali di Nusantara Series, seri yang mengajak kita mengenal Indonesia dari berbagai sisi, mulai dari kearifan lokal, budaya tradisional, kuliner, sejarah, wisata alam, hingga kehidupan masyarakat di berbagai daerah.
Pada seri sebelumnya, perjalanan Nusantara Series telah membawa kita ke Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat. Kali ini kita bergerak cukup jauh ke utara, menuju Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Singkawang merupakan salah satu kota yang memiliki karakter budaya sangat khas di Indonesia. Kota ini dikenal luas karena kehidupan masyarakatnya yang mempertemukan unsur budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Pemerintah Kota Singkawang sendiri menggambarkan keberagaman tersebut sebagai salah satu identitas utama kota. Dalam dokumen perencanaan daerah, ketiga kelompok budaya tersebut disebut memiliki tradisi masing-masing, tetapi hidup berdampingan dan saling berinteraksi.
Dari sisi geografis, Singkawang juga menarik karena wisatawan dapat menemukan kombinasi kawasan perkotaan, pegunungan, dan pantai. Pemerintah daerah bahkan sedang mendorong pengembangan wisata terpadu yang memanfaatkan potensi budaya serta wisata alam tersebut.
Jadi, apa saja alasan yang membuat Singkawang layak dimasukkan ke dalam daftar perjalanan?
Quote:
1. Singkawang Merupakan Salah Satu Kota dengan Keragaman Budaya Paling Menarik di Indonesia
Alasan pertama adalah keberagaman. Singkawang sering dikenal sebagai kota yang mempunyai hubungan erat dengan budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Ketiganya tidak berdiri sebagai kelompok yang sepenuhnya terpisah, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sosial kota.
Budaya Tionghoa terlihat melalui keberadaan kelenteng, tradisi Imlek, Cap Go Meh, pawai lampion, barongsai, serta berbagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan. Budaya Dayak hadir melalui Gawai Dayak, Naik Dango, kesenian, serta berbagai tradisi masyarakat adat. Sementara itu, budaya Melayu terlihat melalui tradisi seperti Saprahan, seni Hadrah, tabuh bedug, dan pawai obor.
Keberagaman tersebut menjadikan Singkawang menarik bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai ruang untuk mempelajari bagaimana identitas budaya dapat berkembang dalam masyarakat yang majemuk.
Menariknya lagi, pemerintah daerah dan komunitas budaya masih melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan tradisi tersebut. Pada 2025, misalnya, Pemerintah Kota Singkawang mengusulkan tiga budaya lokal, yaitu Kasai Langger dari masyarakat Melayu, Besamsam dari masyarakat Dayak, dan Wayang Gantung dari komunitas Tionghoa, untuk diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Artinya, budaya Singkawang bukan sekadar sesuatu yang dipajang ketika wisatawan datang. Budaya ini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Quote:
2. Cap Go Meh Singkawang Sangat Spektakuler
Jika ada satu peristiwa budaya yang membuat nama Singkawang dikenal luas, jawabannya adalah Cap Go Meh. Cap Go Meh merupakan perayaan yang berlangsung pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Di Singkawang, perayaan ini berkembang menjadi peristiwa budaya yang sangat besar dan melibatkan masyarakat dari berbagai kelompok.
Kementerian Pariwisata melalui Indonesia Travel menyebut Cap Go Meh Singkawang sebagai salah satu perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia. Salah satu ciri yang sangat terkenal adalah parade tatung, selain lampion, pertunjukan budaya, dan berbagai kegiatan masyarakat. Tatung merupakan bagian penting dari tradisi Cap Go Meh Singkawang. Dalam konteks kepercayaan dan ritual masyarakat setempat, tatung dipandang berkaitan dengan medium spiritual. Selama pawai, para tatung dapat melakukan atraksi yang bagi penonton modern terlihat ekstrem.
Namun, fenomena tersebut sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai tontonan. Di balik pawai terdapat sejarah, kepercayaan, identitas komunitas, dan proses pewarisan budaya. Itulah yang membuat Cap Go Meh Singkawang jauh lebih menarik daripada sekadar festival dengan banyak lampion.
Jika berkunjung ketika perayaan berlangsung, wisatawan juga perlu memahami bahwa sebagian kegiatan memiliki dimensi religius dan sakral. Menghormati ruang ritual, mengikuti arahan panitia, serta tidak memperlakukan prosesi keagamaan hanya sebagai objek foto merupakan bentuk etika wisata yang sederhana tetapi penting.
Quote:
3. Kelenteng dan Warisan Budaya Tionghoa Menjadi Bagian Penting dari Wajah Kota
Singkawang mempunyai karakter perkotaan yang berbeda dibandingkan banyak kota lain di Kalimantan. Indonesia Travel mencatat bahwa kota ini mempunyai banyak kelenteng yang tersebar di berbagai kawasan. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut menjadi salah satu unsur visual yang sangat kuat dalam identitas Singkawang.
Salah satu yang dikenal adalah Kelenteng Tri Dharma Bumi Raya, yang menurut informasi Indonesia Travel telah berdiri sejak abad ke-19. Kelenteng bukan hanya tempat ibadah. Dalam konteks sejarah perkotaan, bangunan keagamaan juga dapat menjadi sumber informasi mengenai migrasi, perkembangan komunitas, hubungan sosial, serta perubahan kota.
Keberadaan komunitas Tionghoa di Singkawang memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan perdagangan dan aktivitas ekonomi di Kalimantan Barat.
Oleh karena itu, berjalan-jalan di kawasan kota dapat menjadi semacam perjalanan sejarah. Arsitektur, rumah ibadah, jalan, pasar, dan tradisi masyarakat semuanya memberikan potongan informasi mengenai bagaimana Singkawang berkembang. Dan tentu saja, bagi pencinta fotografi arsitektur, kombinasi bangunan lama, ornamen tradisional, lampion, dan aktivitas masyarakat dapat menghasilkan objek visual yang sangat menarik.
Quote:
4. Kehidupan Multietnisnya Membuat Singkawang Makin Disayang
Nah, ini yang paling sesuai dengan judul. Singkawang menarik tidak hanya karena masyarakatnya beragam, tetapi karena keberagaman tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Pemerintah Kota Singkawang berkali-kali menempatkan kerukunan dan harmoni lintas kelompok sebagai bagian dari identitas kota. Pada 2026, misalnya, program promosi pariwisata “Discover Timeless Harmony: Explore Singkawang”secara khusus mengangkat Singkawang sebagai ruang kehidupan yang memperlihatkan harmoni lintas etnis dan agama.
Keberagaman ini bukan berarti seluruh masyarakat selalu mempunyai pandangan yang sama. Tidak ada kota yang hidup tanpa perbedaan. Justru menariknya adalah bagaimana perbedaan tersebut dapat dikelola melalui interaksi sosial, tradisi bersama, serta kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pada sejumlah kegiatan budaya, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat hadir bersama. Gawai Dayak Naik Dango, misalnya, tidak hanya menjadi kegiatan budaya masyarakat Dayak, tetapi juga dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat yang lebih luas. Pemerintah kota menggambarkan kegiatan tersebut sebagai salah satu sarana memperkuat kebersamaan lintas kelompok.
Singkawang juga mempunyai tradisi Melayu yang masih diperkuat. Pada 2026, upaya revitalisasi bahasa daerah dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah kota, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, dan lembaga pendidikan. Program tersebut diarahkan agar bahasa Melayu tetap digunakan dan diwariskan kepada generasi muda.
Inilah yang membuat Singkawang menarik secara sosial. Wisatawan tidak hanya melihat keragaman dari luar, tetapi dapat mengamati bagaimana berbagai identitas budaya menjadi bagian dari sebuah kota yang sama.
Quote:
SUMBER
───
5. Ada Gunung dan Hutan untuk Wisata Alam
Singkawang mungkin terkenal karena budaya, tetapi bukan berarti wisatawan harus menghabiskan seluruh waktu di pusat kota.
Kawasan Gunung Poteng menawarkan sisi lain Singkawang. Kawasan ini berada tidak terlalu jauh dari pusat kota dan memiliki lingkungan yang masih asri. Pemerintah Kota Singkawang menyebut kawasan Gunung Poteng memiliki potensi wisata alam, termasuk kawasan berhutan dan air terjun. Pemerintah juga mengembangkan konsep ekowisata dengan mempertimbangkan status kawasan konservasi serta aturan yang berlaku.
Hal ini penting secara ekologis. Kawasan konservasi tidak dapat diperlakukan seperti taman bermain biasa. Pengembangan pariwisata harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan, habitat satwa, vegetasi, sumber air, serta ketentuan konservasi.
Oleh karena itu, konsep ekowisata yang benar seharusnya bukan hanya memasang papan bertuliskan “jaga alam”, lalu membiarkan wisatawan melakukan apa saja. Pengelolaan harus dilakukan berdasarkan aturan ilmiah dan hukum konservasi.
Bagi wisatawan, kawasan seperti Gunung Poteng menawarkan kesempatan untuk menikmati suasana hijau, udara yang lebih sejuk, serta bentang alam yang berbeda dari pusat perkotaan.
Quote:
6. Pantai dan Wisata Pesisir Melengkapi Lanskap Singkawang
Alasan keenam adalah pantai. Singkawang mempunyai kawasan pesisir yang menjadi bagian penting dari potensi pariwisatanya. Pemerintah kota bahkan memasukkan wisata gunung dan pantai sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata terpadu.
Keberadaan pantai memberikan pilihan aktivitas yang berbeda dari wisata budaya dan pegunungan. Wisatawan dapat menikmati pemandangan laut, melihat matahari terbenam, berjalan di tepi pantai, atau sekadar mencari tempat untuk beristirahat.
Namun, ekosistem pesisir mempunyai fungsi ekologis yang jauh lebih penting daripada sekadar menghasilkan pemandangan indah. Pantai merupakan bagian dari sistem yang berhubungan dengan laut, sedimen, organisme pesisir, serta aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, wisata pesisir harus dilakukan dengan memperhatikan kebersihan lingkungan.
Membuang sampah plastik di pantai mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Mengambilnya kembali dari lingkungan pesisir bisa membutuhkan jauh lebih banyak waktu dan tenaga.
Jadi, jika ingin menikmati pantai Singkawang, jangan meninggalkan sampah. Alam sudah menyediakan pemandangan secara gratis, tidak perlu dibayar dengan kerusakan lingkungan.
Quote:
7. Kuliner dan Ekonomi Kreatifnya Menambah Alasan untuk Datang
Alasan terakhir adalah kuliner dan ekonomi kreatif. Kota yang memiliki keragaman etnis biasanya memiliki keragaman makanan yang menarik karena tradisi kuliner berkembang melalui interaksi antarkelompok masyarakat.
Singkawang merupakan contoh yang menarik untuk mempelajari hubungan tersebut. Pengunjung dapat menemukan berbagai jenis makanan yang mencerminkan pengaruh budaya Tionghoa, Melayu, dan tradisi kuliner Kalimantan Barat.
Kuliner bukan hanya persoalan rasa. Makanan dapat menjadi bagian dari sejarah migrasi, perdagangan, adaptasi bahan pangan, serta interaksi sosial. Resep yang berkembang dalam suatu kota sering kali merupakan hasil perjalanan panjang antargenerasi.
Selain kuliner, kegiatan ekonomi kreatif juga semakin mendapatkan perhatian. Dalam berbagai kegiatan budaya, masyarakat lokal dilibatkan melalui UMKM, pameran kerajinan, dan aktivitas ekonomi lainnya. Pada Gawe Dayak Naik Dango 2026, misalnya, pameran UMKM dan kerajinan lokal menjadi bagian dari rangkaian kegiatan budaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya dan ekonomi sebenarnya dapat berjalan beriringan.
Tradisi memberikan identitas, sedangkan pariwisata dapat menciptakan pasar. Tantangannya adalah memastikan bahwa keuntungan ekonomi tidak menghilangkan makna budaya dan tidak membuat tradisi hanya dipertahankan karena tuntutan pasar.
Quote:
PENUTUP
Singkawang mempunyai alasan yang cukup lengkap untuk dikunjungi.
Pertama, keberagaman budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu memberikan identitas yang khas.
Kedua, Cap Go Meh menghadirkan salah satu perayaan budaya paling spektakuler di Indonesia.
Ketiga, kelenteng dan warisan budaya Tionghoa memberikan kesempatan untuk memahami sejarah perkembangan kota.
Keempat, kehidupan multietnis Singkawang memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial.
Kelima, kawasan Gunung Poteng menawarkan wisata alam dan ekowisata.
Keenam, kawasan pantai memberikan pengalaman wisata pesisir.
Ketujuh, kuliner serta ekonomi kreatif memperkaya pengalaman sekaligus membuka peluang bagi masyarakat lokal.
Singkawang pada akhirnya bukan hanya kota untuk dikunjungi, tetapi kota untuk dipelajari. Kita dapat belajar mengenai sejarah migrasi, hubungan antaretnis, perkembangan kota, konservasi alam, bahasa daerah, tradisi keagamaan, dan bagaimana kebudayaan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hal paling menarik dari Singkawang justru bukan keberadaan satu objek wisata yang berdiri sendirian. Daya tariknya muncul dari hubungan antara manusia, budaya, sejarah, dan lingkungan.
Melalui Nusantara Series #48, perjalanan kita kembali menunjukkan bahwa kekayaan Indonesia tidak selalu berada di tempat yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang, kekayaan itu justru terlihat dari bagaimana orang-orang dengan latar belakang berbeda hidup dalam satu ruang, merayakan tradisi masing-masing, dan membentuk identitas kota secara bersama-sama.
Singkawang menjadi salah satu contoh menarik bahwa keberagaman tidak harus menjadi sesuatu yang memisahkan. Keberagaman juga dapat menjadi alasan sebuah kota menjadi istimewa.
Quote:
SUMBER
Pemerintah Kota Singkawang. (2025). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Singkawang Tahun 2025–2029. Pemerintah Kota Singkawang.
Pemerintah Kota Singkawang. (14 Oktober 2025). Tiga budaya Singkawang diusulkan jadi Warisan Budaya Takbenda. Media Center Kota Singkawang.
Pemerintah Kota Singkawang. (11 Mei 2026). Mengintip rangkaian Gawe Dayak Naik Dango XXVI Singkawang. Media Center Kota Singkawang.
Pemerintah Kota Singkawang. (27 Mei 2026). Dibuka meriah, Gawe Dayak Naik Dango XXVI perkuat harmoni dan budaya di Singkawang. Media Center Kota Singkawang.
Pemerintah Kota Singkawang. (23 Januari 2026). Singkawang kenalkan wajah toleransi lewat Discover Timeless Harmony. Media Center Kota Singkawang.
Pemerintah Kota Singkawang. (11 Januari 2025). Rencana Pemkot dalam pengelolaan ekowisata kawasan Gunung Poteng Singkawang. Media Center Kota Singkawang.
Pemerintah Kota Singkawang. (1 Mei 2026). MABM Singkawang perkuat pelestarian bahasa Melayu, dorong penggunaan dari keluarga hingga sekolah. Media Center Kota Singkawang.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. (n.d.). Singkawang. Indonesia Travel.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. (n.d.). Cap Go Meh Singkawang. Indonesia Travel.
