
Sumber Gambar:Artificial Intelligence (ilustrasi Maudy Ayunda)

Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore GanSist semuanya!
Kembali lagi dalam Superwoman Series, seri yang membahas bagaimana perempuan dapat menjadi kuat dari berbagai segi kehidupan, yaitu fisik, mental, sosial, dan spiritual. Pada Superwoman Series #162, kita telah membahas 6 pengetahuan penting yang perlu dipelajari perempuan pada usia 20-an. Kemudian pada #163, kita membahas bagaimana perempuan dapat membangun kualitas diri melalui pengendalian impuls, olahraga, pengembangan kompetensi, empati, penggunaan uang secara bijaksana, keberanian melindungi orang lain, serta kemampuan mengejar tujuan jangka panjang. Selanjutnya, Superwoman Series #164 membahas 9 perilaku yang perlu dihindari agar perempuan tidak berubah menjadi seperti laki-laki.
Kali ini, di Superwoman Seriesyang ke-165, kita masuk ke satu konsep yang dapat menjadi semacam “rumus sederhana” untuk mengingat kembali prinsip-prinsip Superwoman Series. Namanya adalah MAUDY, yang terinspirasi dari sosok selebritis wanita berotak cerdas bernama Maudy Ayunda.
Namun, sebelum masuk lebih jauh, ada satu hal yang perlu diluruskan. Wanita kuat bukan wanita tanpa air mata. Menangis bukan bukti bahwa seseorang lemah. Tidak menangis juga bukan bukti bahwa seseorang kuat. Kekuatan psikologis jauh lebih kompleks daripada kemampuan menahan air mata. Manusia dapat menangis karena kesedihan, kehilangan, tekanan, rasa terharu, rasa sakit, frustrasi, bahkan pengalaman positif yang sangat kuat.
Penelitian mengenai tangisan emosional menunjukkan bahwa menangis merupakan bagian dari sistem regulasi emosi dan komunikasi sosial manusia, walaupun efek menangis terhadap perasaan setelahnya tidak selalu sama pada setiap orang.
Jadi, konsep MAUDY bukan ajakan untuk menjadi perempuan yang tidak pernah hancur. Sebaliknya, MAUDY adalah pengingat bahwa setelah mengalami kegagalan, kesedihan, tekanan, atau kehilangan, seseorang masih dapat membangun kembali dirinya.
Mari kita bahas satu per satu.
Quote:
M: Menangis Boleh, Menyerah Jangan
Ada anggapan yang cukup populer bahwa perempuan kuat harus selalu terlihat tenang, tidak menangis, tidak mengeluh, dan selalu mampu menyelesaikan masalah. Anggapan tersebut terdengar gagah. Namun, secara psikologis, persoalannya tidak sesederhana itu.
Emosi tidak dapat dihapus hanya dengan memerintah diri sendiri untuk tidak merasakannya. Ketika seseorang mengalami kehilangan, kegagalan, penolakan, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau kekecewaan, tubuh dan pikirannya dapat menghasilkan respons emosional yang kuat. Menangis merupakan salah satu bentuk respons tersebut.
Penelitian mengenai tangisan emosional menunjukkan bahwa menangis mempunyai fungsi yang berkaitan dengan regulasi emosi dan interaksi sosial. Tangisan dapat menjadi sinyal bahwa seseorang sedang membutuhkan dukungan, sekaligus dapat berhubungan dengan proses menenangkan diri, meskipun efeknya dipengaruhi konteks, kondisi psikologis, dan respons sosial dari lingkungan.
Dengan demikian, Sista tidak perlu malu ketika harus menangis. Namun, setelah itu, jangan menjadikan kesedihan sebagai alasan bahwa kehidupan harus berhenti selamanya.
Inilah bagian kedua dari prinsip M, yaitu menangis boleh, menyerah jangan.
Tentu saja, “jangan menyerah” bukan berarti seseorang harus memaksakan diri ketika sedang mengalami kondisi mental yang serius. Ada kalanya seseorang memang membutuhkan istirahat. Ada kalanya seseorang perlu meminta bantuan. Ada kalanya seseorang harus mengubah rencana. Dan ada kalanya suatu tujuan memang perlu ditinggalkan karena sudah tidak sehat atau tidak realistis.
Tidak menyerah bukan berarti keras kepala. Tidak menyerah berarti tetap mencari jalan untuk hidup, belajar, bertumbuh, dan bergerak maju meskipun jalannya berbeda dari rencana awal. Sista boleh berhenti sejenak. Sista boleh menangis. Sista boleh mengakui bahwa sesuatu terasa menekan. Namun, jangan menyimpulkan bahwa satu kegagalan menentukan seluruh masa depan. Kegagalan adalah peristiwa, bukan identitas.
Quote:
A: Arahkan Perhatian Sepenuhnya pada Motivasi untuk Berkembang
Prinsip kedua adalah arahkan perhatian sepenuhnya pada motivasi untuk berkembang. Ini bukan berarti Sista harus menjadi manusia yang selalu produktif setiap detik. Produktivitas tanpa istirahat juga dapat menjadi bentuk lain dari ketidakseimbangan. Yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengarahkan perhatian pada hal-hal yang dapat dikendalikan dan dikembangkan, bukan terus-menerus terjebak dalam perbandingan sosial.
Pada usia 20-an, misalnya, Sista dapat melihat teman Sista sudah mendapatkan pekerjaan bagus, menikah, mempunyai rumah, melanjutkan pendidikan, bepergian ke luar negeri, atau membangun bisnis, kemudian muncul pertanyaan, mengapa hidup Sista belum seperti dia? Pertanyaan tersebut dapat menghabiskan energi yang sebenarnya dapat digunakan untuk berkembang.
Sista tidak dapat mengontrol kehidupan orang lain. Sista tidak dapat mengontrol keberhasilan orang lain. Sista juga tidak dapat mengontrol pendapat semua orang terhadap diri sendiri.
Namun, Sista dapat mengontrol sebagian hal seperti berapa banyak waktu yang digunakan untuk belajar, apakah tubuh dirawat, apakah olahraga dilakukan, apakah uang dikelola, apakah keterampilan ditingkatkan, apakah kesalahan dievaluasi, dan apakah kesempatan untuk belajar digunakan. Di sinilah motivasi untuk berkembang menjadi penting.
Namun, ilmu psikologi memberikan catatan penting. Konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan tertentu dapat berkembang, memang memiliki hubungan dengan berbagai hasil positif dalam beberapa penelitian. Akan tetapi, meta-analisis menunjukkan bahwa efeknya terhadap prestasi akademik secara keseluruhan cenderung kecil dan hasil intervensinya tidak selalu konsisten.
Artinya, jangan salah memahami growth mindset. Itu bukan ilmu. Pikiran positif saja tidak cukup. Seseorang tetap membutuhkan strategi, latihan, sumber daya, kesempatan, dukungan sosial, dan usaha yang efektif.
Mindset yang lebih sehat adalah Sista berpikir bahwa Sista mungkin belum mampu sekarang, tetapi Sista dapat mencari cara untuk menjadi lebih mampu.
Quote:
U: Ubah Mindset, Dari Kuat Fisik Saja Menjadi Kuat Fisik dan Mental
Ini adalah inti penting dari seluruh Superwoman Series. Kekuatan fisik memang penting. Tubuh yang sehat membantu seseorang menjalani kehidupan sehari-hari, bekerja, belajar, bepergian, menjaga kemandirian, dan menghadapi berbagai tuntutan fisik.
WHO menyatakan bahwa aktivitas fisik teratur memberikan manfaat terhadap kesehatan fisik dan mental. Pada orang dewasa, aktivitas fisik berhubungan dengan penurunan risiko berbagai penyakit tidak menular, peningkatan kesehatan otak, peningkatan kualitas tidur, serta pengurangan gejala depresi dan kecemasan. Oleh karena itu, Sista perlu berolahraga.
Namun, Superwoman tidak berhenti di sana. Otot yang kuat tidak otomatis membuat pikiran kuat. Seseorang dapat mampu mengangkat beban berat tetapi tidak mampu mengendalikan amarah. Seseorang dapat berlari jauh tetapi sangat bergantung pada validasi orang lain. Seseorang dapat memiliki stamina tinggi tetapi tidak mampu menghadapi kritik. Seseorang dapat mempunyai tubuh sehat tetapi terus-menerus menghancurkan dirinya sendiri melalui kebiasaan mental yang buruk.
Oleh karena itu, kekuatan perlu dibangun dalam dua dimensi, yaitu kekuatan fisik dan kekuatan mental. Keduanya harus saling mendukung. Olahraga dapat membantu kesehatan mental. Kesehatan mental yang baik juga dapat membantu seseorang mempertahankan kebiasaan sehat.
Jadi, jangan membangun Superwoman hanya dari cermin gym. Bangun juga dari cara Sista berpikir ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Quote:
D: Doa dan Bersyukur Setiap Hari
Bagian D membawa kita ke sisi iman, yang memang menjadi salah satu dasar Superwoman Series. Doa dan rasa syukur mempunyai tempat penting dalam kehidupan banyak manusia. Doa dapat menjadi bentuk refleksi, komunikasi spiritual, permohonan, pengakuan keterbatasan diri, serta cara seseorang menempatkan kehidupannya dalam kerangka nilai yang lebih besar. Sementara itu, rasa syukur merupakan kemampuan untuk menyadari dan menghargai hal-hal yang dianggap bernilai dalam kehidupan.
Penelitian mengenai spiritualitas dan kesehatan mental menunjukkan adanya hubungan antara keimanan yang baik dan berbagai aspek kesehatan mental, meskipun hubungan tersebut kompleks dan tidak dapat disederhanakan menjadi “berdoa pasti menyembuhkan semua masalah”. Ulasan sistematis terbaru menemukan bahwa spiritualitas berkaitan dengan gejala depresi dan kecemasan yang lebih rendah pada banyak penelitian, tetapi konteks dan bentuk spiritualitas sangat berpengaruh. Artinya, spiritualitas dapat menjadi sumber makna dan kekuatan, tetapi bukan pengganti layanan kesehatan profesional ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental yang membutuhkan penanganan.
Hal yang sama berlaku pada rasa syukur. Sebuah ulasan sistematis dan meta-analysis yang mencakup 64 uji klinis menemukan bahwa intervensi rasa syukur berkaitan dengan peningkatan rasa syukur, kesehatan mental, dan penurunan gejala kecemasan serta depresi. Namun, kualitas bukti dan besarnya efek tetap perlu diperhatikan.
Penelitian lain pada pekerja menemukan bahwa intervensi rasa syukur dapat membantu menurunkan stres yang dirasakan dan gejala depresi, tetapi hasil mengenai kesejahteraan tidak selalu konsisten.
Oleh karena itu, praktik sederhana dapat dilakukan setiap hari. Misalnya sebelum tidur, Sista dapat memikirkan apa tiga hal yang patut Sista syukuri hari ini. Tidak harus sesuatu yang spektakuler. Bisa berupa tubuh yang masih bernapas, makanan yang tersedia, teman yang membantu, kesempatan belajar, keluarga, pekerjaan, keberanian untuk menghadapi masalah besar, cuaca pagi, atau kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Syukur bukan berarti menyangkal penderitaan. Sista masih boleh mengatakan bahwa hari ini berat. Namun, Sista juga harus mengatakan bahwa masih ada banyak hal yang patut Sista syukuri. Kedua hal tersebut dapat benar secara bersamaan.
Bersyukur bukan berarti berpura-pura bahwa kehidupan selalu baik. Bersyukur berarti tidak membiarkan kesulitan membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat seluruh kehidupan secara utuh.
Quote:
Y: Yakinlah Bahwa Sista Pasti Kuat, Asal Sista Mau Berusaha
Bagian terakhir adalah Y, yakinlah bahwa Sista pasti kuat, asal Sista mau berusaha. Namun, kata “pasti” di sini juga perlu dipahami dengan benar.
Usaha tidak menjamin bahwa semua cita-cita akan tercapai persis seperti yang direncanakan. Seseorang dapat belajar keras tetapi tetap gagal dalam ujian. Seseorang dapat bekerja keras tetapi perusahaan tempatnya bekerja mengalami masalah. Seseorang dapat membangun bisnis dengan serius tetapi tetap mengalami kerugian. Seseorang dapat menjaga hubungan dengan baik tetapi hubungan tersebut tetap berakhir.
Kehidupan tidak bekerja sesederhana itu. Kalau sesederhana itu, manusia sudah lama menghapus kata “gagal” dari kamus.
Lalu, apa arti “yakin” dalam prinsip MAUDY? Yakin berarti percaya bahwa Sista masih memiliki kapasitas untuk mengambil tindakan berikutnya, meskipun hasil akhirnya belum dapat diketahui.
Sista mungkin belum mampu hari ini, tetapi itu tidak berarti tidak akan mampu selamanya. Sista mungkin gagal sekarang, tetapi itu tidak berarti harus gagal selamanya. Sista mungkin belum mempunyai keterampilan tertentu, tetapi keterampilan dapat dipelajari. Sista mungkin belum mempunyai kondisi fisik yang diinginkan, tetapi kebugaran dapat dibangun secara bertahap. Sista mungkin belum mampu mengelola emosi dengan berhikmat, tetapi regulasi emosi dapat dilatih. Sista mungkin belum benar-benar berhikmat, tetapi hikmat dapat dipelajari. Sista mungkin belum menemukan arah hidup, tetapi proses eksplorasi dapat dilakukan.
Inilah bentuk keyakinan yang lebih sehat. Bukan “Sista pasti berhasil dalam segala hal”, melainkan “Sista akan terus belajar, berusaha, mengevaluasi, dan mencari jalan yang lebih baik”.
Quote:
MAUDY dan Konsep Superwoman
Jika kita kembali kepada definisi Superwoman Series, perempuan kuat harus mempunyai kekuatan dari berbagai segi.
1. Fisik
Sista menjaga tubuh melalui aktivitas fisik, tidur yang cukup, nutrisi yang baik, dan perawatan kesehatan.
2. Mental
Sista mampu mengakui emosi, menghadapi kegagalan, mengatur stres, dan mencari bantuan ketika diperlukan.
3. Sosial
Sista membangun hubungan sehat, membantu orang lain, menghormati batasan, dan tidak menggunakan kekuatan untuk merendahkan orang lain.
4. Spiritual
Sista mempunyai agama, makna, doa, refleksi, dan rasa syukur yang membantu memberikan arah dalam kehidupan. MAUDY merangkum seluruh dimensi tersebut. M membantu kekuatan mental. A membantu perkembangan diri. U menggabungkan kekuatan fisik dan mental. D menguatkan sisi spiritual. Y menjaga keberanian untuk terus berusaha.
Oleh karena itu, Superwoman tidak harus selalu terlihat luar biasa. Kadang-kadang, bentuk kekuatan yang paling nyata justru sangat sederhana. Manusia sering menganggap tindakan kecil tidak penting karena tidak terlihat dramatis. Padahal, kehidupan pada dasarnya dibangun dari tindakan kecil yang diulang berkali-kali.
Quote:
Wanita Kuat Bukan Wanita Tanpa Air Mata
Kalimat ini layak menjadi inti Superwoman Series #165. Wanita kuat bukan wanita tanpa air mata. Wanita kuat adalah wanita yang pernah menangis, tetapi bangkit dengan jauh lebih brutal daripada sebelumnya.
Kata “brutal” di sini bukan berarti kasar terhadap orang lain. Maksudnya adalah brutal terhadap keterbatasan diri sendiri. Brutal dalam arti lebih disiplin, lebih berani belajar, lebih serius menjaga kesehatan. lebih tegas terhadap kebiasaan buruk, lebih berani meninggalkan lingkungan yang merusak, lebih konsisten mengejar tujuan, lebih bersedia mengakui kesalahan, lebih berani meminta bantuan, dan yang paling penting lebih bersedia bangkit tanpa harus menunggu kehidupan menjadi sempurna. Itulah bentuk “brutal” yang benar.
Quote:
PENUTUP
Sist, menjadi kuat bukan proyek satu malam. Tidak ada satu buku, satu kutipan motivasi, satu video, satu seminar, atau satu thread yang tiba-tiba membuat seseorang menjadi tangguh.
Kekuatan dibangun secara bertahap. Hari demi hari. Keputusan demi keputusan. Kebiasaan demi kebiasaan. Dan MAUDY dapat menjadi pengingat sederhananya.
Sista tidak harus selalu kuat. Sista hanya perlu terus membangun kemampuan untuk kembali berdiri setelah jatuh. Sebab, pada akhirnya, Superwoman bukan perempuan yang tidak pernah jatuh. Superwoman adalah perempuan yang ketika jatuh, bisa berdiri dan bangkit lagi.
Quote:
SUMBER
Bylsma, L. M., Vingerhoets, A. J. J. M., & Rottenberg, J. (2019). The neurobiology of human crying. Clinical Autonomic Research, 29, 63–73.
Komase, Y., Watanabe, K., Hori, D., Nozawa, K., Hidaka, Y., Iida, M., Imamura, K., & Kawakami, N. (2021). Effects of gratitude intervention on mental health and well-being among workers: A systematic review. Journal of Occupational Health, 63(1), e12290.
Macnamara, B. N., & Burgoyne, A. P. (2023). Do growth mindset interventions impact students’ academic achievement? A systematic review and meta-analysis with recommendations for best practices. Psychological Bulletin, 149(3–4), 133–173.
Okan, N., & Şahin, Y. (2026). The effects of spirituality on depression, anxiety, and post-traumatic stress disorder: A systematic review. Journal of Religion and Health.
Rosmarin, D. H., Kaufman, C. C., Ford, S. F., Keshava, P., Drury, M., Minns, S., Marmarosh, C., Chowdhury, A., & Sacchet, M. D. (2022). The neuroscience of spirituality, religion, and mental health: A systematic review and synthesis. Journal of Psychiatric Research, 156, 100–113.
Sawab, S., Yusuf, A. H., Fitryasari, R., & Arifin, H. (2024). Spirituality and recovery from severe mental disorders: A systematic review. Journal of Psychosocial Nursing and Mental Health Services, 62(8), 11–17.
Sisk, V. F., Burgoyne, A. P., Sun, J., Butler, J. L., & Macnamara, B. N. (2018). To what extent and under which circumstances are growth mind-sets important to academic achievement? Two meta-analyses. Psychological Science, 29(4), 549–571.
Vingerhoets, A. J. J. M., Bylsma, L. M., & Rottenberg, J. (2020). A clinical practice review of crying research. Journal of Clinical Psychology, 76(4), 691–705.
World Health Organization. (2024). Physical activity. World Health Organization.
Wood, A. M., Froh, J. J., & Geraghty, A. W. A. (2010). Gratitude and well-being: A review and theoretical integration. Clinical Psychology Review, 30(7), 890–905.
Yoo, J., & Lee, J. (2021). Effects of gratitude intervention on mental health and well-being among workers: A systematic review. Journal of Occupational Health, 63(1), e12290.










