
Sumber Gambar:Artificial Intelligence (gambar ibu dan anak dari Jepang)

Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya! 
Masih ada keluarga yang menganggap kelahiran anak laki-laki sebagai sesuatu yang lebih membanggakan daripada kelahiran anak perempuan. Dalam sebagian masyarakat Asia, preferensi terhadap anak laki-laki bahkan dapat menjadi sangat kuat sampai memengaruhi keputusan reproduksi, pola pengasuhan, pendidikan, hingga perlakuan terhadap anak perempuan.
Persoalan ini bukan sekadar masalah “selera orang tua”. UNFPA mencatat bahwa son preferencedi sejumlah wilayah Asia-Pasifik telah berkontribusi terhadap diskriminasi terhadap anak perempuan, termasuk ketimpangan rasio jenis kelamin dan praktik seleksi jenis kelamin. Faktor yang mendasarinya kompleks, mulai dari norma patriarkal, sistem warisan, ekspektasi mengenai perawatan orang tua, hingga konstruksi sosial mengenai peran laki-laki dan perempuan.
Oleh karena itu, mempunyai anak perempuan tidak seharusnya dianggap sebagai “kegagalan mendapatkan anak laki-laki”. Anak bukan hadiah undian dengan kategori hadiah utama laki-laki. Anak adalah manusia yang memiliki potensi, kepribadian, dan kehidupannya sendiri.
Menariknya, penelitian justru menunjukkan bahwa hubungan orang tua dengan anak dewasa dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kesejahteraan orang tua di kemudian hari. Jadi, daripada sibuk kecewa karena jenis kelamin anak tidak sesuai harapan, lebih baik melihat potensi hubungan dan kontribusi seorang anak perempuan dalam keluarga. Inilah Superwoman Series yang ke-170.
Berikut 5 keuntungan yang secara realistis dapat muncul ketika keluarga memiliki anak perempuan.
Quote:
1. Anak perempuan dapat menjadi sumber hubungan emosional yang kuat
Salah satu keuntungan terbesar memiliki anak perempuan bukanlah “anak perempuan pasti lebih sayang orang tua”. Kalimat tersebut terlalu mutlak dan tidak didukung ilmu pengetahuan. Yang lebih tepat adalah bahwa hubungan orang tua dan anak dapat berkembang menjadi sumber dukungan emosional timbal balik, dan kualitas hubungan tersebut lebih penting daripada sekadar jenis kelamin.
Penelitian mengenai hubungan antargenerasi menunjukkan bahwa kualitas relasi orang tua dengan anak dewasa berkaitan dengan kesejahteraan psikologis orang tua. Dukungan sosial, ketegangan hubungan, rasa keadilan, dan kepuasan terhadap hubungan semuanya dapat berhubungan dengan kondisi psikologis orang tua.
Dengan kata lain, anak perempuan yang tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang dapat menjadi seseorang yang tetap memiliki hubungan dekat dengan orang tuanya ketika dewasa.
Bukan karena anak itu “perempuan”, melainkan karena hubungan tersebut dibangun sejak kecil. Orang tua yang mendengarkan anak, menghargai pendapatnya, memberikan pendidikan yang baik, dan tidak membeda-bedakan anak berdasarkan gender mempunyai peluang lebih besar untuk membangun hubungan yang sehat.
Jadi, kalau mempunyai anak perempuan, jangan hanya memikirkan bagaimana anak itu akan merawat orang tua. Pikirkan juga bagaimana orang tua dapat menjadi tempat aman baginya. Hubungan yang sehat bekerja dua arah.
Quote:
2. Anak perempuan dapat menjadi generasi penerus yang berpendidikan dan mandiri
Ini salah satu alasan mengapa diskriminasi terhadap anak perempuan sebenarnya sangat merugikan keluarga itu sendiri. Ketika anak perempuan mendapatkan pendidikan yang baik, dirinya memperoleh kemampuan untuk mengambil keputusan, bekerja, mengelola sumber daya, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
UNFPA menekankan bahwa pemberdayaan perempuan dan anak perempuan memberikan manfaat yang melampaui individu karena perempuan yang memiliki kesempatan berkembang dapat berkontribusi terhadap kesehatan, produktivitas keluarga, serta generasi berikutnya.
Jadi, anak perempuan bukan “beban”. Anak perempuan adalah manusia yang sedang dibentuk menjadi sumber daya manusia.
Bayangkan seorang anak perempuan yang sejak kecil diberikan pendidikan dengan serius, belajar matematika, belajar bahasa, belajar olahraga, belajar mengelola uang, belajar berkomunikasi, belajar berpikir kritis, dan kemudian dapat menjadi dokter, guru, insinyur, pengusaha, ilmuwan, pekerja sosial, seniman, pemimpin, atau profesi lain yang sesuai dengan kemampuan dan pilihannya.
Jenis kelamin tidak menentukan batas atas kemampuan seseorang. Yang menentukan jauh lebih kompleks, yaitu kemampuan individu, lingkungan, pendidikan, kesempatan, kesehatan, motivasi, kondisi sosial, dan berbagai faktor lainnya.
Oleh karena itu, orang tua yang memiliki anak perempuan sebenarnya memiliki kesempatan untuk berinvestasi pada generasi manusia berikutnya.
Quote:
3. Anak perempuan dapat menjadi penghubung antargenerasi
Keluarga bukan sekadar kumpulan individu yang tinggal serumah. Keluarga adalah jaringan hubungan yang terus berubah sepanjang kehidupan.
Ketika anak menjadi dewasa, hubungan dengan orang tua juga berubah. Anak yang dahulu membutuhkan pengasuhan dapat berubah menjadi orang dewasa yang memiliki pekerjaan, pasangan, keluarga sendiri, dan tanggung jawab pribadi.
Penelitian mengenai hubungan orang tua dan anak dewasa menunjukkan bahwa kualitas hubungan antargenerasi dapat berkaitan dengan kesejahteraan orang tua pada usia pertengahan dan lanjut.
Dalam beberapa masyarakat, anak perempuan juga secara budaya lebih sering diharapkan mempertahankan komunikasi dan hubungan emosional dengan keluarga asal.
Namun, ini harus dibaca secara hati-hati. Bukan berarti semua anak perempuan akan lebih dekat dengan orang tua. Bukan pula berarti anak perempuan harus otomatis menjadi pengasuh orang tua.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa kebutuhan perawatan orang tua dapat memberikan tekanan yang berbeda kepada anak perempuan dan laki-laki. Sebuah studi longitudinal di Norwegia menemukan bahwa penurunan kepuasan hidup pada anak dewasa ketika orang tua menjadi rapuh lebih terlihat pada anak perempuan, dan terutama berkaitan dengan kondisi orang tua yang membutuhkan bantuan, bukan sekadar aktivitas merawatnya.
Ini penting. Kalau memiliki anak perempuan, jangan membesarkannya dengan pikiran “Nanti kamu harus merawat Mama dan Papa”. Lebih sehat jika pesannya menjadi “Kami ingin kamu tumbuh menjadi perempuan yang mandiri. Kalau suatu hari keluarga membutuhkan bantuan dan kamu mampu membantu, lakukan dengan kasih sayang tanpa kehilangan kehidupanmu sendiri”. Itulah hubungan keluarga yang lebih adil.
Quote:
4. Anak perempuan dapat menjadi sumber perubahan dalam keluarga
Seorang anak perempuan yang mendapatkan pendidikan, kepercayaan diri, dan kesempatan berkembang dapat membawa perubahan ke lingkungan sekitarnya. Misalnya, anak perempuan mempelajari teknologi dan kemudian mengajarkan orang tuanya menggunakan layanan digital, belajar mengelola keuangan dan kemudian membantu keluarganya memahami anggaran, mendapatkan pendidikan kesehatan dan membagikan pengetahuan tersebut kepada anggota keluarga, dan memiliki pengalaman profesional dan kemudian membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
Kemampuan seseorang tidak berhenti pada dirinya sendiri. Inilah salah satu benang merah Superwoman Series dari seri-seri sebelumnya, bahwa perempuan yang kuat bukan hanya perempuan yang mampu berdiri sendiri, melainkam juga mampu membantu orang lain menjadi lebih kuat.
Oleh karena itu, jangan mendidik anak perempuan hanya untuk menjadi “anak yang baik”. Ajarkan juga agar anak itu menjadi anak yang kompeten. Ajarkan berpikir. Ajarkan mengambil keputusan. Ajarkan mengelola uang. Ajarkan batas pribadi. Ajarkan tanggung jawab. Ajarkan keterampilan. Ajarkan bahwa menjadi perempuan bukan alasan untuk mengecilkan cita-citanya.
Pada akhirnya, pendidikan seorang anak perempuan dapat memberikan efek yang jauh lebih luas daripada sekadar mendapatkan nilai bagus di sekolah.
Quote:
5. Memiliki anak perempuan dapat mengubah cara keluarga memandang perempuan
Ini mungkin keuntungan yang paling filosofis. Orang tua yang awalnya mempunyai pandangan bahwa anak laki-laki lebih penting dapat mengalami perubahan ketika mereka benar-benar membesarkan seorang anak perempuan.
Tiba-tiba, “anak perempuan” tidak lagi menjadi anak manusia yang layak dicintai. Anak perempuan tidak lagi menjadi anak yang tertawa di rumah, menjadi anak yang belajar berjalan, menjadi anak yang sakit dan membutuhkan pertolongan, menjadi anak yang memiliki cita-cita, serta tidak lagi menjadi manusia normal yang mempunyai ketakutan, kemampuan, keinginan, dan masa depan. Pada titik itu, seseorang dapat mulai memahami bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya.
Inilah alasan mengapa son preferenceberbahaya. UNFPA menjelaskan bahwa preferensi terhadap anak laki-laki dapat berujung pada diskriminasi terhadap anak perempuan, bahkan sebelum kelahiran, dan memiliki konsekuensi sosial serta demografis jangka panjang.
Kalau masyarakat terus berpikir bahwa laki-laki lebih bernilai daripada perempuan, masyarakat tersebut pada akhirnya menciptakan masalah yang sebenarnya dibuatnya sendiri. Anak perempuan dikurangi nilainya. Pendidikannya dikurangi. Kesempatannya dikurangi. Kemudian, ketika perempuan tidak memiliki kesempatan berkembang, masyarakat bertanya mengapa perempuan kurang berkontribusi.
Logika seperti itu memang luar biasa. Menciptakan hambatan, lalu menyalahkan korban karena tidak bisa melewati hambatan tersebut.
Quote:
Jadi, jangan kecewa ketika mendapatkan anak perempuan
Lima “keuntungan” di atas sebenarnya bukanlah keuntungan eksklusif yang hanya dimiliki anak perempuan. Anak laki-laki juga dapat menjadi sumber kasih sayang, memperoleh pendidikan, mempertahankan hubungan keluarga, membantu orang tua, dan membawa perubahan positif.
Poin utamanya justru lebih besar daripada perbandingan anak laki-laki dan anak perempuan. Jenis kelamin anak bukan jaminan bahwa anak tersebut akan sukses, berbakti, dekat dengan orang tua, atau memiliki karakter tertentu. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana anak tersebut dibesarkan dan bagaimana hubungan keluarga dibangun.
Oleh karena itu, jika seorang ibu melahirkan anak perempuan, jangan katakan “Sayang sekali, bukan laki-laki”. Jika seorang ayah mendapatkan anak perempuan, jangan berpikir “Berarti harus punya anak lagi”. Apalagi, memaksakan kehamilan berulang kali hanya demi mengejar jenis kelamin tertentu. Kehamilan dan persalinan bukan permainan lempar dadu. Setiap kehamilan memiliki bahaya kesehatan dan seharusnya dipertimbangkan berdasarkan kondisi ibu, keluarga, serta keputusan reproduksi yang bertanggung jawab.
UNFPA mencatat bahwa preferensi terhadap anak laki-laki yang kuat di sejumlah wilayah Asia telah berkontribusi pada diskriminasi terhadap anak perempuan dan ketidakseimbangan demografis.
Maka, pesan Superwoman Series #170 sederhana, anak perempuan bukan versi “kurang” dari anak laki-laki, bukan hadiah hiburan, bukan alasan untuk kecewa, dan bukan alasan untuk mencoba kehamilan berkali-kali hanya demi mendapatkan anak laki-laki. Anak perempuan adalah manusia.
Dan tugas orang tua bukan menentukan apakah anak tersebut cukup berharga untuk dilahirkan berdasarkan jenis kelaminnya. Tugas orang tua adalah membantu anak tersebut menjadi manusia yang sehat, berpendidikan, mandiri, berkarakter, mampu mencintai, mampu bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat kepada sesamanya.
Inilah semangat yang berhubungan dengan seri-seri sebelumnya. Superwoman tidak lahir karena jenis kelaminnya. Superwoman dibentuk melalui pendidikan, kesempatan, pengasuhan, nilai, keberanian, dan kerja keras.
Jadi kalau hari ini seorang bayi perempuan lahir ke dunia, mungkin yang perlu diucapkan bukan “Sayang, bukan laki-laki”, melainkan “Selamat datang, semoga suatu hari kamu tumbuh menjadi perempuan kuat yang membuat dunia sedikit lebih baik”.
Quote:
SUMBER
Bookwala, J. (2009). The impact of parent care on marital quality and well-being in adult daughters and sons. The Journals of Gerontology: Series B, 64B(3), 339–347.
Birditt, K. S., Miller, L. M., Fingerman, K. L., & Lefkowitz, E. S. (2009). Tensions in the parent and adult child relationship: Links to solidarity and ambivalence. Psychology and Aging, 24(2), 287–295.
Li, X., et al. (2022). How does family intergenerational relationships affect the life satisfaction of middle-aged and elderly parents in urban only-child families in Chengdu, China? International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(14), 8714.
UNFPA. (2020). Preventing son preference and undervaluing of girls in Asia Pacific. United Nations Population Fund.
UNFPA. (2020). State of the world population 2020: Against my will: Defying the practices that harm women and girls and undermine equality. United Nations Population Fund.
UNFPA. (2022). Promoting gender equality is key to ending son preference. United Nations Population Fund.










