Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat siang GanSist semuanya! 
Mungkin, Agan pernah menolong anak kecil yang terluka bukan sekadar karena kasihan, melainkan karena seolah-olah dapat ikut merasakan rasa sakit yang dialaminya. Atau, Agan berdonasi kepada anak yatim karena dapat membayangkan kesedihan dan kesulitan yang mereka hadapi. Bisa juga Agan memberikan motivasi kepada teman yang mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian karena ikut merasakan kebahagiaannya dan ingin melihatnya lebih siap memasuki lingkungan sekolah yang baru.
Kalau pernah mengalami hal seperti itu, ada satu kemampuan psikologis yang mungkin sedang bekerja, yaitu empati. Empati adalah kemampuan untuk memahami keadaan emosional orang lain dan, dalam bentuk tertentu, ikut merasakan atau memberikan respons yang sesuai terhadap keadaan tersebut. Empati bukan sekadar merasa iba. Seseorang yang berempati berusaha memahami apa yang sedang dialami orang lain sehingga dapat menentukan respons yang lebih tepat.
Menariknya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa empati dan kemampuan emosional memiliki hubungan dengan perilaku prososial, kualitas hubungan sosial, serta berbagai hasil positif dalam pendidikan dan pekerjaan. Namun, perlu diluruskan sejak awal bahwa empati bukanlah semacam tombol rahasia yang otomatis membuat seseorang kaya, terkenal, atau naik jabatan. Kehidupan manusia sayangnya tidak sesederhana iklan motivasi. Yang lebih tepat adalah, kemampuan memahami orang lain dapat membantu seseorang membangun perilaku dan hubungan yang mendukung keberhasilan dalam berbagai bidang.
Quote:
1. Empati membuat seseorang lebih terdorong untuk membantu
Salah satu hubungan paling jelas terdapat antara empati dan perilaku prososial. Perilaku prososial adalah tindakan yang bertujuan memberikan manfaat kepada orang lain, misalnya membantu, berbagi, memberikan dukungan, atau bekerja sama. Penelitian mengenai respons yang berkaitan dengan empati menunjukkan bahwa empathic concernatau kepedulian terhadap kondisi orang lain berhubungan dengan motivasi prososial dan perilaku membantu.
Dengan kata lain, seseorang yang mampu memahami penderitaan orang lain memiliki kemungkinan lebih besar untuk tidak hanya berpikir, tetapi juga melakukan sesuatu. Misalnya, ketika melihat seorang anak jatuh dan terluka, seseorang mungkin hanya berpikir bahwa anak tersebut sedang mengalami masalah. Orang yang memiliki kepedulian empatik dapat memproses keadaan itu secara berbeda, dirinya memahami bahwa anak tersebut kesakitan, takut, dan membutuhkan bantuan. Respons yang muncul kemudian bukan hanya “kasihan”, melainkan tindakan konkret seperti membantu berdiri, mencari orang tua, atau memberikan pertolongan.
Penelitian Graziano dan Habashi (2007) menemukan hubungan antara empati, motivasi prososial, dan perilaku membantu dalam berbagai situasi. Hal tersebut penting, karena kehidupan sosial manusia sangat bergantung pada kemampuan bekerja sama.
Quote:
2. Orang yang suka membantu dapat membangun hubungan sosial yang lebih kuat
Kesuksesan hampir tidak pernah sepenuhnya merupakan hasil kerja seorang diri. Di sekolah, terdapat guru dan teman. Di tempat kerja, terdapat rekan, atasan, bawahan, pelanggan, dan berbagai pihak lain. Dalam bisnis, terdapat mitra, konsumen, investor, serta komunitas. Bahkan orang yang bekerja secara mandiri tetap membutuhkan jaringan sosial.
Kemampuan memahami perasaan dan kebutuhan orang lain dapat membantu seseorang berkomunikasi secara lebih efektif. Ketika seseorang mengetahui bahwa temannya sedang mengalami tekanan, misalnya, dirinya dapat memilih untuk tidak memberikan komentar yang justru memperburuk keadaan. Ketika memimpin kelompok, dirinya dapat mengetahui kapan anggota membutuhkan arahan dan kapan mereka membutuhkan dukungan.
Empati dengan demikian dapat menjadi salah satu komponen penting dalam membangun hubungan yang sehat. Bahkan, penelitian mengenai perilaku prososial di tempat kerja menunjukkan bahwa tindakan kebaikan dapat memberikan manfaat bukan hanya kepada penerima, tetapi juga kepada orang yang melakukannya. Dalam sebuah eksperimen terhadap pekerja, tindakan prososial berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan, kepuasan hidup, dan kepuasan kerja pada pemberi maupun penerima. Perilaku baik tersebut juga dapat menular kepada orang lain.
Jadi, membantu orang lain tidak selalu berarti seseorang kehilangan sesuatu. Dalam kondisi tertentu, lingkungan sosial yang lebih positif justru dapat terbentuk.
Quote:
3. Empati dapat membantu seseorang menjadi pemimpin yang lebih efektif
Seorang pemimpin tidak hanya bertugas memberikan perintah. Pemimpin harus memahami anggota tim, membaca situasi sosial, menangani konflik, memberikan umpan balik, serta mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang memiliki karakter berbeda.
Oleh karena itu, kemampuan memahami emosi orang lain dapat menjadi salah satu modal dalam kepemimpinan. Penelitian lintas 38 negara yang dilakukan Sadri, Weber, dan Gentry (2011) meneliti hubungan antara emosi empatik pemimpin dan penilaian terhadap kinerja kepemimpinan. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan empatik pemimpin dengan aspek kinerja kepemimpinan yang dinilai oleh pihak lain.
Namun, empati juga memiliki batas. Penelitian mengenai empati dan perspective-takingdi tempat kerja menunjukkan bahwa keduanya dapat membantu seseorang menjadi lebih suportif terhadap orang lain. Akan tetapi, empati tidak selalu menghasilkan keputusan terbaik dalam situasi yang membutuhkan pertimbangan strategis. Dalam negosiasi tertentu, misalnya, kemampuan mengambil perspektif orang lain dapat lebih bermanfaat dibandingkan sekadar ikut merasakan emosinya.
Artinya, pemimpin yang baik bukanlah orang yang selalu larut dalam perasaan orang lain. Dirinya harus mampu memahami perasaan orang lain sekaligus mempertahankan kemampuan mengambil keputusan secara rasional.
Quote:
4. Empati berkaitan dengan kecerdasan emosional
Empati sering dibahas sebagai bagian dari kemampuan emosional yang lebih luas. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahami, menggunakan, dan mengelola informasi emosional. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan tersebut dapat membantu seseorang menghadapi interaksi sosial dan tekanan pekerjaan.
Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychologymenganalisis berbagai penelitian mengenai kecerdasan emosional dan hasil yang berkaitan dengan pekerjaan. Hasilnya menunjukkan hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan komitmen organisasi, perilaku kewargaan organisasi, kepuasan kerja, dan kinerja pekerjaan. Sebaliknya, kecerdasan emosional berkaitan dengan tingkat stres kerja yang lebih rendah. Untuk kinerja pekerjaan, analisis terhadap 68 sampel menemukan korelasi positif dengan kecerdasan emosional.
Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa kemampuan emosional dapat menjadi modal dalam dunia kerja. Seseorang yang mampu memahami reaksi orang lain mungkin lebih mudah bekerja sama. Seseorang yang mampu mengelola emosinya sendiri mungkin tidak mudah kehilangan kendali ketika menghadapi konflik. Seseorang yang mampu memahami kebutuhan pelanggan mungkin dapat memberikan pelayanan yang lebih sesuai. Semua kemampuan tersebut pada akhirnya dapat mendukung performa.
Quote:
5. Kemampuan emosional juga dapat mendukung keberhasilan akademik
Hubungan ini bahkan tidak hanya berlaku di tempat kerja. Meta-analisis Sánchez-Álvarez, Berrios Martos, dan Extremera (2020) menganalisis 44 penelitian dengan total 19861 peserta mengenai hubungan kecerdasan emosional dan prestasi akademik. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kecerdasan emosional dan prestasi akademik. Besarnya hubungan memang tidak berarti kecerdasan emosional merupakan satu-satunya penentu keberhasilan akademik, tetapi temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan emosional merupakan salah satu faktor yang relevan.
Hal ini masuk akal. Siswa yang mampu mengelola frustrasi, memahami emosi diri, mempertahankan hubungan sosial, dan merespons tekanan secara adaptif mungkin memiliki kondisi psikologis yang lebih mendukung proses belajar. Namun, tetap perlu diingat, bahwa belajar tetap harus belajar. Empati tidak dapat menggantikan buku pelajaran, latihan soal, tidur yang cukup, atau kemampuan kognitif.
Quote:
6. Empati bukan berarti harus selalu mengorbankan diri
Ada satu kesalahpahaman yang juga perlu diperbaiki. Menjadi orang yang mudah merasakan penderitaan orang lain bukan berarti harus selalu mengatakan “iya” kepada semua permintaan.
Empati yang sehat berbeda dari ketidakmampuan menetapkan harga diri. Seseorang dapat memahami bahwa temannya sedang kesulitan tanpa harus mengorbankan seluruh waktunya. Seseorang dapat memahami penderitaan orang lain tanpa harus menyelesaikan semua masalah orang tersebut.
Bahkan, kemampuan mengambil perspektif orang lain perlu dipadukan dengan penalaran. Misalnya, ketika seorang teman gagal dalam ujian, empati dapat membuat seseorang memahami rasa kecewanya. Akan tetapi, membantu teman tersebut tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bantuan yang lebih bermanfaat mungkin berupa membantu menyusun strategi belajar, menemukan penyebab kegagalan, atau memberikan dukungan ketika dirinya mencoba kembali.
Inilah perbedaan antara merasakan masalah orang lain dan mengubah kepedulian menjadi tindakan yang bermanfaat.
Quote:
7. Jadi, apakah orang yang berempati pasti lebih sukses?
Jawabannya, tidak pasti. Penelitian ilmiah tidak mendukung kesimpulan sederhana bahwa semakin tinggi empati seseorang, semakin sukses kehidupannya. Kesuksesan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kemampuan kognitif, pendidikan, disiplin, kesehatan, kondisi ekonomi, kesempatan, lingkungan sosial, kepribadian, hingga keberuntungan.
Empati lebih tepat dipandang sebagai salah satu kemampuan yang dapat membantu seseorang membangun mekanisme pendukung keberhasilan. Orang yang mampu memahami orang lain mungkin lebih mudah membangun kerja sama. Orang yang peduli terhadap orang lain mungkin lebih sering melakukan perilaku prososial. Orang yang memiliki kemampuan emosional yang baik mungkin lebih mampu menghadapi tekanan dan menjaga hubungan profesional. Dalam jangka panjang, berbagai hal tersebut dapat memberikan keuntungan sosial dan pekerjaan.
Jadi, ketika Agan menolong anak kecil yang terluka karena benar-benar dapat memahami rasa sakitnya, ketika Agan berdonasi karena dapat membayangkan kesulitan orang lain, atau ketika Agan ikut bahagia atas keberhasilan teman dan mendorongnya agar terus berkembang, tindakan tersebut bukan sekadar menunjukkan bahwa Agan “orang baik”. Ada proses psikologis yang lebih dalam di baliknya.
Empati memungkinkan seseorang memahami manusia lain. Pemahaman tersebut dapat mendorong perilaku prososial. Perilaku prososial dapat memperkuat hubungan dan kerja sama. Hubungan dan kerja sama yang baik kemudian dapat menjadi salah satu modal penting untuk mencapai keberhasilan.
Namun, bentuk empati yang paling bermanfaat bukanlah sekadar ikut merasakan penderitaan orang lain. Yang lebih penting adalah mampu mengubah pemahaman tersebut menjadi tindakan yang tepat, sambil tetap mempertahankan batas diri dan kemampuan berpikir rasional.
Dengan kata lain, merasakan penderitaan orang lain adalah awal, bukan akhir. Empati yang berhikmat tidak hanya berkata bahwa Agan tahu bagaimana perasaan teman Agan. Empati yang berhikmat bergerak lebih jauh, Agan memahami apa yang mungkin sedang teman Agan rasakan, lalu Agan mencoba melakukan sesuatu yang benar-benar membantu. Dan kemampuan seperti itu memang cukup berharga di dunia yang dipenuhi manusia yang kadang membutuhkan bantuan, tetapi terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Quote:
SUMBER
Doğru, Ç. (2022). A meta-analysis of the relationships between emotional intelligence and employee outcomes. Frontiers in Psychology, 13, 611348.
Graziano, W. G., & Habashi, M. M. (2007). Agreeableness, empathy, and helping: A person × situation perspective. Journal of Personality and Social Psychology, 93(4), 583–599.
Sánchez-Álvarez, N., Berrios Martos, M. P., & Extremera, N. (2020). A meta-analysis of the relationship between emotional intelligence and academic performance in secondary education: A multi-stream comparison. Frontiers in Psychology, 11, 1517.
Sadri, G., Weber, T. J., & Gentry, W. A. (2011). Empathic emotion and leadership performance: An empirical analysis across 38 countries. The Leadership Quarterly, 22(5), 818–830.
Teding van Berkhout, E., & Malouff, J. M. (2016). The efficacy of empathy training: A meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Counseling Psychology, 63(1), 32–41.
Vianello, M., Galliani, E. M., & Haidt, J. (2010). Elevation at work: The effects of leaders’ moral behavior on followers. Psychological Science, 21(5), 670–675.
Grant, A. M., & Gino, F. (2010). A little thanks goes a long way: Explaining why gratitude expressions motivate prosocial behavior. Journal of Personality and Social Psychology, 98(6), 946–955.










