Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya! 
Thread ini adalah seri ke-183 dari Superwoman Series, seri thread yang membahas tentang perempuan kuat dari berbagai sisi kehidupan, yaitu fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Pada seri-seri sebelumnya, kita sudah membahas kemerdekaan dari ketergantungan, kecanduan belanja, pencarian validasi, perilaku yang merugikan diri sendiri, sampai pentingnya membangun kemandirian. Namun, ada satu kenyataan hidup yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan menjadi mandiri, yaitu jehilangan orang yang dicintai.
Kehilangan suami dapat menjadi salah satu pengalaman paling berat dalam kehidupan seorang perempuan. Suami bukan sekadar pasangan romantis. Dalam banyak keluarga, suami juga merupakan teman hidup, rekan mengambil keputusan, orang yang berbagi rutinitas, serta bagian penting dari identitas dan kehidupan sosial seseorang.
Oleh karena itu, apabila seorang istri kehilangan suaminya, rasa sedih bukan tanda kelemahan. Sedih adalah respons manusiawi terhadap kehilangan.
American Psychological Associationmenjelaskan bahwa duka setelah kehilangan orang terdekat merupakan bagian alami dari kehidupan. Reaksi setiap orang berbeda, dan tidak ada batas waktu universal mengenai berapa lama seseorang “seharusnya” berduka. Pada banyak orang, intensitas kesedihan berangsur-angsur berkurang seiring waktu, terutama ketika mereka memperoleh dukungan sosial dan mempertahankan kebiasaan hidup yang sehat.
Oleh karena itu, dalam Superwoman Series #183, kita menggunakan satu pengingat sederhana, yang terinspirasi dari aktris cantik Richa Novisha (istri alm. Gary Iskak).
Prinsip ini bukan perintah agar seorang janda segera “move on”. Justru sebaliknya. RICHA adalah cara untuk menjalani proses kehilangan tanpa menganggap kesedihan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan, sekaligus tanpa membiarkan kehilangan menghentikan seluruh kehidupan.
Quote:
R: Rasa sedih itu normal, berikan waktu untuk merasa sedih
Hal pertama yang harus dipahami adalah sederhana, Sista boleh sedih. Boleh menangis. Boleh merasa kehilangan. Boleh merindukan suami. Boleh merasa bingung ketika rutinitas yang selama bertahun-tahun dijalani bersama tiba-tiba berubah. Tidak ada kewajiban untuk terlihat kuat setiap saat.
Kesalahan yang cukup sering terjadi dalam menghadapi orang berduka adalah memaksa mereka segera kembali seperti semula. Kalimat seperti “harus ikhlas”, “jangan terlalu sedih”, atau “sudah waktunya melanjutkan hidup” mungkin dimaksudkan sebagai dukungan, tetapi dapat membuat orang yang sedang berduka merasa emosinya tidak diterima.
Padahal, penelitian mengenai duka menunjukkan bahwa proses tersebut tidak berjalan seperti jadwal yang seragam. APA bahkan menekankan bahwa tidak semua orang melewati tahapan duka secara berurutan. Tidak ada kalender universal yang mengatakan bahwa bulan pertama harus menangis, bulan kedua harus tersenyum, dan bulan ketiga harus kembali produktif.
Oleh karena itu, berikan waktu. Tetap makan. Tetap tidur sebisa mungkin. Tetap menjaga kesehatan. Namun, izinkan diri merasakan kehilangan.
Kuat bukan berarti tidak menangis. Kuat berarti mampu menghadapi kenyataan bahwa seseorang yang dicintai telah pergi, sambil perlahan belajar menjalani kehidupan yang sekarang berbeda.
Quote:
I: Ingat bahwa Sista harus tetap berkembang
Memberikan waktu untuk berduka bukan berarti menghentikan kehidupan selamanya.
Ini perbedaan yang penting.
Berduka dan berkembang dapat berjalan bersamaan. Pada awal kehilangan, mungkin kemampuan untuk bekerja, belajar, bersosialisasi, atau mengurus berbagai keperluan memang menurun. Itu dapat terjadi karena duka menghabiskan energi psikologis.
Namun, seiring waktu, kehidupan perlu kembali memiliki ruang untuk aktivitas lain.
Berkembang tidak berarti melupakan suami. Sista dapat tetap mencintai seseorang yang telah meninggal sekaligus melanjutkan kehidupan. Bahkan, APA menjelaskan bahwa proses berduka dapat pada akhirnya menjadi kesempatan untuk menemukan kembali makna, tujuan, dan arah kehidupan.
Maka, perkembangan dapat dilakukan secara bertahap. Mulai dari hal kecil, misalnya belajar seni pertunjukan, kembali bekerja, berolahraga, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, merawat keluarga, mengembangkan hobi, atau melakukan aktivitas sosial.
Tidak perlu langsung membuat target luar biasa. Hari ini mampu mandi dan makan dengan baik mungkin sudah cukup. Besok mungkin mampu berlatih memainkan piano selama beberapa menit. Minggu berikutnya mungkin mulai kembali bekerja. Bulan berikutnya mungkin mulai belajar bahasa asing baru.
Perkembangan tidak harus spektakuler. Yang penting, kehidupan harus tetap bergerak.
Quote:
C: Cari dukungan dari teman atau keluarga
Duka sering kali membuat seseorang ingin mengisolasi diri. Ada keinginan untuk sendirian karena terlalu lelah menjelaskan perasaan kepada orang lain.
Namun, isolasi sosial dapat membuat proses berduka menjadi semakin berat.
APA merekomendasikan berbicara dengan teman, keluarga, atau orang lain yang dipercaya sebagai salah satu cara membantu memahami kematian dan memproses perasaan kehilangan. Menghindari pembicaraan mengenai kehilangan justru dapat meningkatkan isolasi dari sistem dukungan sosial.
Oleh karena itu, Sista tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Carilah orang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi, membantu ketika pekerjaan rumah terasa terlalu berat, menemani ketika suasana terasa sepi, atau sekadar duduk bersama tanpa memaksa berbicara.
Dukungan juga tidak harus selalu berupa nasihat. Kadang-kadang, yang dibutuhkan bukan seseorang yang memberi solusi konkret, melainkan seseorang yang memberi penguatan emosional.
Dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang dapat membantu seseorang menghadapi kehilangan. Sebaliknya, kurangnya dukungan sosial termasuk faktor yang berkaitan dengan risiko berkembangnya prolonged grief disorder.
Quote:
H: Harus punya tekad untuk selalu berempati
Kehilangan dapat membuat seseorang sangat fokus kepada rasa sakitnya sendiri. Hal tersebut manusiawi.
Namun, perlahan-lahan, empati terhadap orang lain juga perlu dipertahankan. Mengapa? Sebab, empati dapat membantu seseorang tetap terhubung dengan dunia sosial.
Misalnya, Sista dapat membantu orang lain yang juga sedang mengalami kesulitan. Bisa dengan mendengarkan, mengajari keterampilan, membantu pekerjaan sederhana, atau memberikan motivasi sesuai kemampuan.
Ini juga sejalan dengan semangat Superwoman Series sebelumnya. Pada seri-seri terdahulu, kita membahas bahwa membantu orang lain tidak harus selalu berarti melakukan semuanya untuk mereka. Bentuk bantuan yang lebih memberdayakan dapat berupa mengajarkan seseorang sampai dirinya mandiri dan mampu melakukannya sendiri.
Dalam konteks duka, prinsip tersebut tetap relevan. Sista tidak harus menjadi penyelamat semua orang. Tidak perlu mengorbankan diri sampai kehabisan tenaga.
Empati yang sehat memiliki batas. Jika energi sedang sangat terbatas, membantu satu orang dalam hal kecil pun sudah berarti. Yang penting adalah tidak membiarkan rasa sakit membuat dunia sosial Sista sepenuhnya tertutup.
Menjadi janda bukan berarti berhenti menjadi manusia yang dapat mencintai, membantu, belajar, dan berkontribusi.
Quote:
A: Anggap bahwa perkabungan hanyalah fase sementara
Kata “sementara” di sini perlu dipahami dengan benar. Sementara bukan berarti dalam 4 bulan harus sudah tidak sedih. Bukan begitu.
Bahkan, kenangan tentang suami dapat tetap menimbulkan rasa sedih bertahun-tahun kemudian. Hal itu tidak otomatis berarti proses berduka gagal.
Yang bersifat sementara adalah fase ketika kehidupan sepenuhnya didominasi oleh kehilangan. Secara bertahap, kehidupan dapat memperoleh ruang baru.
Pada awalnya, Sista saat bangun tidur pasti sedih karena mengingat suami, lalu menangis.
Kemudian, mungkin berubah menjadi bangun tidur, mengingat suami, sedih, tetapi harus tetap menjalankan aktivitas.
Lalu, suatu hari bangun tidur, menjalankan aktivitas, tertawa bersama teman, kemudian baru kemudian teringat suami.
Kenangan tetap ada. Cinta tetap ada. Namun, rasa sakit tidak lagi menguasai seluruh kehidupan. Itulah bentuk adaptasi yang sehat.
Quote:
Jangan samakan duka normal dengan gangguan duka berkepanjangan
Bagian ini sangat penting karena “beri waktu” bukan berarti membiarkan semua tanda bahaya.
Sebagian kecil orang mengalami kondisi yang disebut Prolonged Grief Disorder(PGD), yaitu keadaan ketika reaksi duka menjadi menetap, intens, mengganggu fungsi kehidupan, dan memenuhi kriteria diagnostik tertentu. Kondisi ini berbeda dari duka normal dan juga berbeda dari depresi, meskipun keduanya dapat terjadi bersamaan.
Gejalanya dapat mencakup kerinduan yang sangat kuat dan menetap kepada orang yang meninggal, kesulitan menerima kematian, rasa kehilangan identitas, mati rasa emosional, kesulitan kembali menjalani hubungan sosial atau aktivitas, perasaan hidup tidak bermakna, dan kesepian yang intens.
Risiko tersebut tidak berarti bahwa seseorang yang masih menangis setelah berbulan-bulan pasti mengalami PGD.
Sekali lagi, durasi saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis. Konteks, intensitas, gejala, dan gangguan fungsi kehidupan perlu diperhatikan.
Jika kesedihan terasa tidak tertahankan, kehidupan sehari-hari tidak dapat dijalankan, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bantuan profesional perlu dicari. Psikoterapi merupakan salah satu pendekatan yang memiliki bukti untuk menangani prolonged grief disorder.
Meminta bantuan bukan tanda gagal menjadi Superwoman. Justru, kemampuan mengenali kapan diri membutuhkan pertolongan adalah bentuk kemandirian yang manusiawi.
Quote:
RICHA bukan ajakan untuk melupakan
Ada satu kesalahpahaman yang perlu dibuang. Melanjutkan hidup tidak sama dengan melupakan suami.
Sista tidak harus menghapus kenangan agar dapat berkembang. Foto tetap boleh disimpan. Kenangan tetap boleh diceritakan. Tanggal-tanggal penting tetap boleh dikenang. Hal-hal yang pernah dipelajari dari suami tetap dapat diterapkan.
Bahkan, sebagian orang menemukan bahwa pengalaman kehilangan membuat mereka semakin memahami apa yang benar-benar penting dalam kehidupan.
Yang berubah bukan nilai hubungan tersebut. Yang berubah adalah cara hubungan itu hadir dalam kehidupan.
Dulu, suami hadir secara fisik. Sekarang mungkin hadir melalui kenangan, nilai, kebiasaan baik, pengalaman, dan cerita yang terus hidup.
Quote:
PENUTUP
Superwoman Series #183 masih mempunyai benang merah yang sama dengan seri-seri sebelumnya.
Kita berbicara tentang kemandirian. Tentang kesehatan mental. Tentang kemampuan mengatur diri. Tentang hubungan sosial. Tentang empati.
Namun, semua itu tidak berarti perempuan harus menjadi manusia yang kebal terhadap kehilangan.
Justru, perempuan yang berani adalah wanita yang mampu mengatakan dengan jujur bahwa dirinya memang sedang sedih, bukan wanita yang harus berpura-pura tidak apa-apa.
RICHA, yang terinspirasi dari aktris Richa Novisha dapat menjadi pengingat sederhana.
Kehilangan suami dapat mengubah kehidupan secara drastis. Namun, kehilangan tersebut tidak harus menghapus masa depan.
Pelan-pelan, Sista dapat kembali belajar. Kembali bekerja. Kembali tertawa. Kembali berolahraga. Kembali membantu orang lain. Kembali menemukan tujuan.
Dan suatu hari, rasa sedih mungkin masih datang ketika sebuah lagu, tempat, makanan, atau tanggal tertentu mengingatkan kepada suami.
Tidak apa-apa. Sista tidak sedang mengkhianati kenangan hanya karena kembali bahagia.
Mencintai seseorang yang telah meninggal dan melanjutkan kehidupan adalah dua hal yang dapat hidup berdampingan.
Itulah salah satu bentuk kekuatan manusia yang paling sunyi, tetap membawa cinta dari masa lalu, sambil perlahan membangun kehidupan yang baru.
Quote:
SUMBER
American Psychiatric Association. (2022). Prolonged grief disorder. American Psychiatric Association.
American Psychological Association. (2020). Grief: Coping with the loss of your loved one. American Psychological Association.
American Psychological Association. (2024). Grief. American Psychological Association.
Hardt, J., Prigerson, H. G., & colleagues. (2024). State of the science: Psychotherapeutic interventions for prolonged grief disorder. Behavior Therapy.
Szuhany, K. L., Malgaroli, M., Miron, C. D., & Simon, N. M. (2021). Prolonged grief disorder: Course, diagnosis, assessment, and treatment. Focus, 19(2), 161–172.
Lundorff, M., Holmgren, H., Zachariae, R., Farver-Vestergaard, I., & O’Connor, M. (2024). Risk factors for prolonged grief symptoms: A systematic review and meta-analysis. Clinical Psychology Review, b)106(/b), 102375.
@itkgid@strangerfdotnet @sahabat.006