
Sumber Gambar:Artificial Intelligence (ilustrasi Sophia Latjuba)

Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore GanSist semuanya!
Hari kemerdekaan bukan hanya waktu untuk mengingat sejarah perjuangan bangsa. Kemerdekaan juga dapat menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya, apakah kita sudah merdeka sebagai manusia?
Pertanyaan ini penting, terutama bagi perempuan. Sebab, seorang perempuan dapat tinggal di negara yang merdeka, memiliki akses pendidikan, memiliki pekerjaan, menggunakan teknologi modern, dan mempunyai kebebasan memilih, tetapi masih dapat terjebak dalam berbagai bentuk ketergantungan psikologis, sosial, ekonomi, maupun gaya hidup.
Inilah yang menjadi tema Superwoman Seriesyang ke-169. Superwoman Series membahas perempuan kuat dari 4 sisi besar, yaitu fisik, mental, sosial, dan spiritual. Pada seri sebelumnya, kita membicarakan kemerdekaan hati dan bagaimana perempuan yang mandiri seharusnya membantu perempuan lain menjadi lebih berdaya.
Sekarang, pembahasannya kita lanjutkan. Ada 8 hal yang perlu diperjuangkan agar seorang perempuan benar-benar semakin merdeka.
Quote:
1. Merdeka dari people pleasing, tetapi juga merdeka dari egoisme
Menjadi perempuan baik bukan berarti harus selalu mengatakan “iya”. Ada perempuan yang merasa bersalah ketika menolak permintaan orang lain. Dirinya takut dianggap jahat, tidak peduli, atau tidak menyenangkan. Akhirnya, dirinya terus memenuhi keinginan orang lain meskipun dirinya sendiri sudah kelelahan. Inilah salah satu bentuk people pleasing.
Namun, kebalikannya juga bukan solusi. Menolak people pleasingtidak berarti berubah menjadi egois. Kemerdekaan psikologis berarti seseorang mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai dan pertimbangannya sendiri, sambil tetap memperhatikan kepentingan orang lain.
Dalam Self-Determination Theory, kebutuhan terhadap otonomi merupakan salah satu kebutuhan psikologis dasar manusia, bersama kompetensi dan keterhubungan sosial. Pemenuhan kebutuhan tersebut berkaitan dengan fungsi psikologis dan kesejahteraan yang lebih baik. (Ryan & Deci, 2000).
Jadi, Sista boleh mengatakan “Aku tidak bisa membantu kali ini” tanpa harus merasa menjadi manusia paling buruk di dunia. Namun, Sista juga perlu mampu mengatakan “Aku bisa membantumu dengan mengajari kamu” ketika memang memiliki kapasitas untuk melakukannya.
Merdeka berarti mampu memilih, bukan selalu menolak.
Quote:
2. Merdeka dari kecanduan belanja
Belanja adalah aktivitas normal. Masalah muncul ketika belanja berubah menjadi cara utama untuk mengatur emosi, mendapatkan validasi, atau mengatasi stres.
Dalam literatur psikologi, perilaku pembelian kompulsif dikaitkan dengan kesulitan mengendalikan dorongan membeli dan dapat menimbulkan konsekuensi psikologis maupun finansial. Meta-analisis mengenai compulsive buying disordermenunjukkan adanya hubungan dengan berbagai masalah psikologis dan kondisi sosial tertentu (Maraz et al., 2016).
Artinya, memiliki banyak pakaian, kosmetik, tas, atau barang mahal tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang sukses.
Barang hanyalah barang. Sista tidak menjadi lebih berharga karena memiliki 10 tas dibandingkan 5 tas.
Kemerdekaan finansial justru membutuhkan kemampuan untuk mengatakan, “Aku mampu membeli ini, tetapi aku tidak perlu membelinya”. Kemampuan menahan keinginan sering kali lebih berharga daripada kemampuan memenuhi semua keinginan.
Quote:
3. Merdeka dari ketergantungan finansial
Kemerdekaan perempuan juga memiliki dimensi ekonomi. Bukan berarti setiap perempuan harus memiliki pekerjaan formal atau memiliki penghasilan yang sama. Yang lebih penting adalah memiliki kemampuan ekonomi, literasi keuangan, dan kapasitas mengambil keputusan mengenai sumber daya yang menjadi tanggung jawabnya.
World Bankmenempatkan akses terhadap peluang ekonomi, sumber daya, dan kemampuan mengambil keputusan sebagai bagian penting dari pemberdayaan ekonomi perempuan. Perempuan yang memahami anggaran, tabungan, utang, investasi, risiko keuangan, serta perencanaan masa depan memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan.
Ketergantungan ekonomi juga dapat mempersempit pilihan seseorang ketika menghadapi masalah.
Oleh karena itu, belajar mengelola uang bukan aktivitas yang hanya cocok untuk “orang kaya”. Justru, semakin terbatas sumber daya seseorang, semakin penting kemampuan mengelolanya.
Sista tidak harus kaya untuk menjadi mandiri, tetapi Sista perlu memahami ke mana uang pergi, mengapa uang digunakan, dan apa konsekuensinya.
Quote:
4. Merdeka dari bullyingdan body shaming
Perempuan yang kuat tidak membutuhkan perempuan lain sebagai sasaran untuk merasa lebih tinggi.
Body shaming sering dianggap sebagai candaan biasa. Padahal, komentar negatif mengenai tubuh dapat berhubungan dengan citra tubuh yang lebih buruk dan berbagai konsekuensi psikologis.
Penelitian meta-analitik menunjukkan bahwa weight stigma berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan dan psikologis, termasuk tekanan psikologis dan perilaku kesehatan yang kurang adaptif (Rubino et al., 2020).
Oleh karena itu, kalimat seperti “Badannya terlalu gemuk”, “Kulitnya terlalu pucat”, “Masih muda kok sudah begini”, dan “Wajahnya seperti alien” tidak otomatis menjadi benar hanya karena disampaikan sebagai “kritik”. Kritik yang membangun berbeda dari penghinaan.
Superwoman tidak membangun harga dirinya dengan meruntuhkan harga diri perempuan lain. Kalau ingin kuat, kuatkan juga orang di sekitar. Itulah kemerdekaan sosial.
Quote:
5. Merdeka dari trauma dan depresi
Bagian ini membutuhkan kehati-hatian. Trauma dan depresi bukan sekadar “pikiran negatif” yang dapat dihilangkan dengan kemauan. Gangguan stres pascatrauma, depresi, dan berbagai masalah kesehatan mental merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Oleh karena itu, mengatakan kepada seseorang yang mengalami depresi untuk “berpikir positif saja” bukanlah solusi ilmiah. WHO menjelaskan bahwa depresi merupakan kondisi kesehatan mental yang dapat memengaruhi suasana hati, pikiran, tidur, aktivitas sehari-hari, kemampuan bekerja, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Depresi juga dapat ditangani melalui berbagai pendekatan profesional.
Kemerdekaan dari trauma bukan berarti melupakan semua kejadian buruk. Terkadang kemerdekaan justru berarti “Peristiwa itu pernah terjadi kepada saya, tetapi peristiwa tersebut tidak harus menentukan seluruh masa depan saya”.
Untuk sebagian orang, proses tersebut membutuhkan psikoterapi, dukungan sosial, pengobatan, atau kombinasi beberapa pendekatan. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Meminta bantuan adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Quote:
6. Merdeka dari standar kecantikan yang tidak realistis
Ini salah satu bentuk penjajahan modern yang sering tidak terasa sebagai penjajahan.
Perempuan terus-menerus diperlihatkan gambaran mengenai tubuh ideal, kulit ideal, wajah ideal, rambut ideal, dan usia ideal.
Masalahnya, standar tersebut sering kali merupakan hasil kombinasi budaya, industri kecantikan, media, teknologi penyuntingan gambar, dan algoritma.
Penelitian mengenai penggunaan media sosial menunjukkan bahwa paparan terhadap konten yang berorientasi pada penampilan dapat berkaitan dengan kekhawatiran terhadap citra tubuh dan internalisasi standar kecantikan tertentu (Saiphoo & Vahedi, 2019).
Akibatnya, seseorang dapat melihat wajahnya sendiri di cermin lalu membandingkannya dengan gambar yang telah melalui pencahayaan, tata rias, pose, kamera, bahkan penyuntingan digital. Kemudian, manusia yang nyata dianggap “kurang sempurna” dibandingkan gambar yang memang dirancang agar terlihat sempurna. Tidak masuk akal.
Kecantikan tidak harus berarti punya kulit seputih nasi, tubuh sekurus lidi, atau rambut selurus spaghetti. Kulit sehat tidak sama dengan kulit putih. Tubuh sehat tidak harus memiliki satu bentuk tertentu. Dan usia bukan kegagalan estetika.
Merdeka dari standar kecantikan berarti mampu merawat diri tanpa menjadikan penampilan sebagai satu-satunya ukuran nilai diri.
Quote:
7. Merdeka dari sedentary lifestyle
Tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Sayangnya, kehidupan modern membuat seseorang dapat duduk berjam-jam tanpa benar-benar menyadari berapa sedikit tubuhnya bergerak dalam satu hari. Duduk bekerja. Duduk belajar. Duduk menonton. Duduk bermain gawai. Lalu tidur.
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas fisik aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat, serta melakukan aktivitas penguatan otot secara teratur.
Aktivitas fisik berkaitan dengan berbagai manfaat kesehatan, termasuk kesehatan kardiovaskular, metabolisme, kesehatan mental, dan kebugaran fisik (Bull et al., 2020).
Menjadi Superwoman bukan berarti harus pergi ke pusat kebugaran setiap hari. Jalan kaki lebih banyak. Naik tangga. Melakukan pekerjaan rumah. Bermain basket. Bersepeda. Berenang. Semua dapat menjadi bagian dari kehidupan aktif.
Kemerdekaan fisik berarti tidak membiarkan tubuh kehilangan kemampuan hanya karena kehidupan modern membuat semuanya semakin praktis.
Quote:
8. Merdeka dari kurangnya pendidikan dan keterampilan
Ini mungkin salah satu bentuk kemerdekaan yang paling penting. Perempuan yang memiliki pengetahuan memiliki lebih banyak pilihan. Pendidikan meningkatkan kemampuan seseorang memahami informasi, membuat keputusan, mengembangkan keterampilan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
UNESCO menempatkan pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat sebagai bagian penting dari pembangunan manusia dan masyarakat.
Oleh karena itu, jangan berhenti belajar hanya karena sudah lulus sekolah atau kuliah. Belajar bahasa. Belajar menari. Belajar mengelola uang. Belajar melukis. Belajar pertolongan pertama. Belajar keterampilan profesional. Belajar memahami informasi kesehatan. Belajar berpikir kritis. Bahkan, belajar memperbaiki kesalahan sendiri.
Pengetahuan membuat seseorang tidak mudah dikendalikan oleh informasi palsu, manipulasi, maupun tekanan sosial.
Dan seperti yang dibahas dalam Superwoman Series #167, kemerdekaan yang paling bernilai bukan hanya kemerdekaan yang dinikmati sendiri. Ajarkan kemampuan itu kepada orang lain. Kalau Sista sudah bisa sesuatu, bantu orang lain agar bisa. Itulah cara kemerdekaan berkembang dari satu perempuan kepada perempuan berikutnya.
───
Jadi, apakah Sista sudah benar-benar merdeka?
Kemerdekaan bukan kondisi ketika seseorang tidak mempunyai masalah. Kemerdekaan adalah meningkatnya kemampuan seseorang untuk menghadapi kehidupan dengan pilihan, pengetahuan, keterampilan, tanggung jawab, dan prinsip.
Merdeka dari people pleasingbukan berarti menjadi egois. Merdeka dari kecanduan belanja bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja. Merdeka secara finansial bukan berarti harus menjadi kaya. Merdeka dari bullying bukan berarti tidak boleh tegas. Merdeka dari trauma bukan berarti harus melupakan masa lalu. Merdeka dari standar kecantikan bukan berarti berhenti merawat diri. Merdeka dari gaya hidup sedentari bukan berarti harus menjadi atlet. Merdeka dari kurang pendidikan bukan berarti harus memiliki banyak gelar.
Kemerdekaan adalah kemampuan untuk mengendalikan arah kehidupan tanpa menjadi budak dari dorongan, tekanan, atau standar yang tidak sehat.
Dan inilah semangat Superwoman Series #169. Perempuan kuat bukan perempuan yang sempurna. Wanita tangguh adalah perempuan yang terus belajar menjadi lebih sehat, lebih mandiri, lebih sadar, lebih terampil, dan lebih bertanggung jawab.
Sebab, pada akhirnya, perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung dalam sejarah sebuah negara. Kadang-kadang, perjuangan itu berlangsung jauh lebih dekat, yaitu di dalam diri sendiri.
Quote:
SUMBER
Bull, F. C. et al. (2020). World Health Organization 2020 guidelines on physical activity and sedentary behaviour. British Journal of Sports Medicine, 54(24), 1451–1462.
Maraz, A., Griffiths, M. D., & Demetrovics, Z. (2016). The prevalence of compulsive buying: A meta-analysis. Addiction, 111(3), 408–419.
Rubino, F. et al. (2020). Joint international consensus statement for ending stigma of obesity. Nature Medicine, 26, 485–497.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78.
Saiphoo, A. N., & Vahedi, Z. (2019). A meta-analytic review of the relationship between social media use and body image disturbance. Computers in Human Behavior, 101, 259–275.
World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. World Health Organization.
World Health Organization. (2023). Depressive disorder (depression). World Health Organization.
World Bank. (2024). Women, business and the law 2024. World Bank.
UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A new social contract for education. UNESCO.










