Sumber Gambar:Artificial Intelligence (ilustrasi wanita Jepang yang tomboy)
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore GanSist semuanya!
Kembali lagi di Superwoman Series, seri yang membahas perempuan kuat dari berbagai sisi kehidupan, yaitu fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Pada Superwoman Series yang ke-162, kita sudah membahas enam pengetahuan penting yang perlu dipelajari perempuan pada usia 20-an. Kemudian pada Superwoman Series yang ke-163, kita membahas perbedaan pola perilaku antara perempuan yang masih mudah dikendalikan impuls dengan perempuan yang berusaha membangun kualitas diri melalui pengendalian diri, kesehatan, kompetensi, empati, dan tujuan jangka panjang.
Pada Superwoman Seriesyang ke-164 ini, pembahasannya masih berhubungan erat dengan tema tersebut. Judul thread ini memang sengaja dibuat provokatif, bahwa Sista akan menjadi maskulin atau tomboy kalau Sista melakukan 9 hal salah ini.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan sejak awal. Identitas gender tidak ditentukan oleh pakaian, hobi, olahraga, warna kesukaan, pekerjaan, gaya rambut, atau sifat tertentu. Seorang perempuan tidak menjadi “kurang perempuan” hanya karena menyukai olahraga berat, menggunakan celana panjang setiap hari, menyukai film laga dan ilmu fisika kuantum, tidak suka berdandan, atau mempunyai karakter berani. Sebaliknya, seorang perempuan juga tidak otomatis menjadi lebih feminin hanya karena memakai rok berwarna pink, berambut panjang, mudah menangis, hobi memasak, atau mempunyai sifat lembut.
Lebih penting lagi, agresivitas, kekerasan, manipulasi, kemalasan, bullying, maupun perilaku tidak bermoral bukanlah sifat laki-laki yang harus dijauhi perempuan. Perilaku tersebut dapat dilakukan siapa saja. UN Women bahkan menekankan bahwa stereotip mengenai maskulinitas dan feminitas dapat mempertahankan ketimpangan gender dan kekerasan. Konsep maskulinitas yang mengagungkan agresivitas, dominasi, kekuatan, dan kontrol justru perlu dikritisi, bukan dijadikan standar untuk menjelaskan perilaku seluruh laki-laki.
Jadi, istilah “menyerupai laki-laki” dalam thread ini adalah metafora untuk menggambarkan perilaku yang bertentangan dengan karakter Superwoman, bukan pernyataan bahwa laki-laki secara alami mempunyai perilaku buruk.
Dalam kerangka Superwoman Series, perempuan kuat bukanlah perempuan yang berusaha membuktikan bahwa dirinya lebih baik daripada laki-laki. Perempuan kuat adalah perempuan yang mampu mengendalikan dirinya, menghormati manusia lain, menjaga tubuh dan lingkungan, terus belajar, serta menggunakan kekuatannya secara bertanggung jawab.
Lalu, apa saja 9 perilaku yang perlu dihindari?
Quote:
1. Membenarkan KDRT terhadap Suami dan Anak atas Nama Feminisme
Ini adalah poin paling serius. Ada kesalahpahaman bahwa karena perempuan secara historis mengalami berbagai bentuk ketidakadilan, maka ketika seorang perempuan melakukan kekerasan terhadap laki-laki atau anak, tindakannya dapat dibenarkan sebagai bentuk “pembalasan” atau “feminisme”.
Tidak. Feminisme yang membela kesetaraan manusia tidak membenarkan kekerasan terhadap manusia lain. Memukul suami tetap merupakan kekerasan. Menendang suami tetap kekerasan. Mengancam pasangan tetap kekerasan. Menghina dan mengontrol pasangan secara abusif juga dapat menjadi bentuk kekerasan psikologis. Dan memukul atau menyakiti anak bukan metode pendidikan yang dapat dibenarkan hanya karena pelakunya adalah ibu.
WHO mendefinisikan kekerasan terhadap pasangan sebagai perilaku yang menyebabkan kerugian fisik, seksual, atau psikologis, termasuk agresi fisik, pemaksaan seksual, kekerasan psikologis, dan perilaku mengontrol. Kekerasan dalam hubungan dapat terjadi dalam berbagai latar belakang sosial, budaya, agama, maupun ekonomi.
WHO juga menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak mencakup kekerasan fisik, seksual, emosional, pengabaian, dan bentuk perlakuan buruk lainnya. Dampaknya dapat berlangsung hingga jangka panjang terhadap kesehatan, perkembangan, fungsi kognitif, dan kesehatan mental anak.
Oleh karena itu, perempuan yang benar-benar kuat bukan perempuan yang merasa mempunyai hak untuk menyakiti laki-laki. Dirinya justru memahami prinsip yang jauh lebih sederhana, bahwa kekerasan tetap salah, siapa pun pelakunya dan siapa pun korbannya.
Feminisme yang sehat memperjuangkan martabat manusia, bukan pergantian posisi antara korban dan pelaku.
Quote:
2. Tidak Mau Menolong Sesama Manusia yang Membutuhkan
Menjadi mandiri bukan berarti menjadi tidak peduli. Sista boleh mempunyai batasan. Sista juga tidak wajib menyelamatkan seluruh dunia sendirian. Itu pekerjaan yang bahkan belum berhasil dilakukan oleh manusia dengan anggaran miliaran dolar.
Namun, terdapat perbedaan antara menjaga harga diri dan sengaja tidak peduli terhadap penderitaan orang lain. Manusia hidup dalam jaringan sosial. Kita menerima pengetahuan dari guru, bantuan dari keluarga, dukungan teman, pelayanan tenaga kesehatan, perlindungan hukum, dan berbagai bentuk kontribusi masyarakat.
Oleh karena itu, kemampuan membantu orang lain merupakan bagian dari kehidupan sosial yang sehat. Bantuan tidak harus selalu berupa pertolongan langsung. Sista dapat mengajari anak panti asuhan caranya menari Jawa, membantu anak tetangga membuat origami, mengajarkan keterampilan komputer, mendampingi orang yang kesulitan, membantu mencari informasi, menjadi sukarelawan di yayasan penyandang disabilitas, memberikan motivasi untuk teman yang hendak ujian nasional, atau mengajari teman menulis novel daring. Yang penting adalah kemampuan melihat manusia lain sebagai sesama manusia, bukan sebagai alat untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Dalam kerangka Superwoman, kekuatan seharusnya mempunyai arah. Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula peluangnya memberikan manfaat.
Empati tidak berarti harus mengorbankan harga diri. Empati berarti mampu memahami bahwa orang lain juga mempunyai kebutuhan, kemandirian, rasa sakit, dan martabat.
Quote:
3. Cepat Marah dan Bersikap Agresif
Perempuan tidak harus selalu lembut. Ini juga perlu diluruskan. Sista boleh tegas. Sista boleh marah. Sista boleh tidak setuju. Sista boleh melawan. Sista bahkan boleh menyampaikan kritik dengan keras ketika situasinya memang menuntut ketegasan. Yang perlu dihindari adalah ketidakmampuan mengatur respons ketika emosi muncul.
Marah merupakan emosi manusia yang normal. Masalahnya bukan keberadaan kemarahan, melainkan bagaimana seseorang mengelolanya. Seseorang yang sedikit-sedikit berteriak, menghina, mengancam, membanting barang, melakukan kekerasan, atau menyerang orang lain bukan sedang menunjukkan kekuatan. Dirinya sedang menunjukkan bahwa respons emosionalnya mudah mengambil alih kemampuan berpikir. Dan hal tersebut tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin.
Laki-laki dapat mempunyai masalah regulasi emosi. Perempuan juga dapat mengalaminya.
Oleh karena itu, Sista tidak perlu menghindari agresivitas karena takut “terlihat seperti laki-laki”. Hindari agresivitas karena agresivitas yang tidak terkendali dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Perempuan yang kuat belajar memberi jeda antara emosi dan tindakan. Sista dapat mengatakan bahwa Sista sedang marah dan perlu waktu sebelum membicarakannya. Itu jauh lebih berhikmat daripada langsung mengirim 37 pesan panjang kepada seseorang ketika emosi sedang memuncak.
Quote:
4. Sibuk Mengejar Perhatian Agar Merasa Berharga
Setiap manusia membutuhkan pengakuan dalam kadar tertentu. Mendapat apresiasi dari orang lain dapat terasa menyenangkan. Mendapat pujian atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik juga merupakan pengalaman yang sehat.
Masalah muncul ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada perhatian eksternal. Misalnya, kalau tidak ada yang memuji Sista, berarti Sista tidak berharga. Atau, kalau tidak banyak yang menyukai novel daring buatan Sista, berarti Sista gagal. Atau, Sista harus selalu terlihat cantik supaya orang lain memperhatikan Sista.
Pola seperti ini dapat membuat seseorang terus mengejar validasi. Padahal, perhatian bukan ukuran nilai manusia. Jumlah peminat bukan ukuran karakter. Jumlah komentar bukan ukuran kecerdasan. Jumlah orang yang menyukai foto bukan ukuran kualitas moral.
Perempuan yang sehat secara psikologis berusaha membangun sumber penghargaan diri yang lebih stabil. Dirinya dapat merasa bangga karena berhasil menyelesaikan pendidikan, mempelajari ilmu seni baru, mengajari anak-anak panti asuhan yang telantar, mempertahankan prinsip, menyelesaikan pekerjaan, menjaga kesehatan, atau mampu melewati situasi sulit.
Artinya, nilai diri tidak harus selalu dipantulkan oleh mata orang lain. Sista tidak perlu menjadi pusat perhatian setiap saat untuk mempunyai nilai. Kadang-kadang, kualitas terbaik justru berkembang ketika tidak ada penonton.
Quote:
5. Melakukan Bullying dan Body Shaming
Tidak ada pembenaran untuk merendahkan seseorang karena bentuk tubuh, warna kulit, rambut, berat badan, tinggi badan, kondisi fisik, kemampuan akademik, atau karakteristik pribadi lainnya.
Bullying bukan sekadar “bercanda”, itu adalah tindak kekerasan yang bisa dipidanakan. WHO menjelaskan bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang tidak diinginkan, dilakukan secara berulang dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan, serta dapat menimbulkan dampak fisik, psikologis, dan sosial.
Body shaming juga mempunyai masalah tersendiri karena dapat memperkuat persepsi bahwa nilai seseorang bergantung pada penampilan. Padahal, tubuh manusia memang beragam. Tidak semua orang akan mempunyai bentuk tubuh yang sama. Tidak semua orang akan mempunyai wajah yang sama. Dan manusia tidak seharusnya dipaksa memenuhi satu standar fisik yang dibuat oleh budaya, media, atau algoritma.
Perempuan yang kuat tidak membutuhkan korban sosial untuk meningkatkan statusnya. Dirinya tidak perlu berkata bahwa dirinya cantik karena temannya jelek. Kecantikan seseorang tidak membutuhkan kehancuran harga diri orang lain.
Lebih baik menggunakan kemampuan sosial untuk membangun lingkungan yang membuat orang lain merasa aman. Jika melihat teman dibully, Sista dapat memberikan dukungan, melaporkan kejadian ke polisi atau pihak sekolah, atau mencegah diri sendiri ikut memperkuat perilaku tersebut.
Empati bukan kelemahan. Empati adalah kemampuan sosial yang membutuhkan kesadaran terhadap pengalaman orang lain.
Quote:
6. Bersikap Manipulatif dan Gemar Playing Victim
Sista perlu membedakan antara menjadi korban dengan menggunakan posisi sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab. Korban kekerasan benar-benar dapat mengalami kerugian dan trauma. Korban bullying memang dapat mengalami dampak psikologis. Korban penipuan memang mengalami kerugian. Oleh karena itu, jangan menyalahkan korban.
Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga dapat menggunakan narasi bahwa dirinya korban untuk menghindari evaluasi terhadap perilakunya sendiri.
Misalnya, ketika melakukan kesalahan, seseorang kemudian menyalahkan semua orang, memutarbalikkan cerita, membuat orang lain merasa bersalah, menghilangkan konteks penting, atau membicarakan kesalahan orang lain agar dirinya dianggap benar. Inilah yang perlu dihindari.
Perempuan yang berani mampu mengatakan bahwa dirinya memang salah. Kalimat sederhana tersebut menandakan hikmat.
Tidak semua konflik harus mempunyai satu orang yang sepenuhnya jahat dan satu orang yang sepenuhnya benar. Kadang-kadang, seseorang melakukan kesalahan. Kadang-kadang, kedua pihak sama-sama melakukan kesalahan. Dan kadang-kadang, seseorang memang menjadi korban.
Kemampuan membedakan ketiga situasi tersebut membutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri. Dalam kerangka moral, karakter bukan hanya terlihat ketika seseorang mendapatkan keuntungan. Karakter juga terlihat ketika seseorang memiliki kesempatan untuk berbohong tetapi memilih bertanggung jawab.
Quote:
7. Malas Merawat Diri
Poin ini perlu dijelaskan dengan hati-hati. “Merawat diri” bukan berarti harus memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis. Sista tidak perlu mempunyai kulit seputih nasi, tubuh sekurus lidi, atau rambut selurus spaghetti agar dianggap perempuan yang baik.
Namun, terdapat perbedaan antara menerima tubuh sendiri dengan mengabaikan kesehatan dan kebersihan tubuh. Merawat diri dapat berarti mandi secara teratur, menjaga kebersihan gigi dan mulut, merawat kulit dan rambut sesuai kebutuhan, mencukur rambut di ketiak dan di area pribadi, menggunakan pakaian bersih, menjaga kesehatan organ intim, tidur cukup, makan dan minum dengan sehat, melakukan aktivitas fisik, dan melakukan pemeriksaan kesehatan ketika diperlukan.
Jadi, kecantikan sejati bukan berarti “tidak perlu merawat tubuh karena yang penting inner beauty”. Tubuh tetap membutuhkan perawatan. Kebersihan bukan kesombongan. Perawatan diri bukan narsisme. Keduanya dapat menjadi bagian dari kesehatan dan penghargaan terhadap diri sendiri.
WHO menempatkan kebersihan pribadi dan sanitasi sebagai bagian penting dari kesehatan masyarakat. Praktik WASH yang aman, termasuk kebersihan pribadi, berkontribusi terhadap kesehatan dan kesejahteraan serta membantu mencegah berbagai penyakit.
Jadi, Sista tidak harus mengejar “cantik sempurna”. Cukup sehat, bersih, terawat, dan nyaman dengan diri sendiri, itu jauh lebih realistis.
Quote:
8. Malas Belajar Hal-Hal Baru
Salah satu kesalahan terbesar dalam membangun identitas adalah menganggap bahwa pendidikan berhenti ketika seseorang mendapatkan ijazah. Padahal, dunia terus berubah. Teknologi berubah. Pekerjaan berubah. Ilmu pengetahuan berkembang. Cara manusia berkomunikasi berubah. Keterampilan yang relevan hari ini dapat menjadi kurang relevan beberapa tahun kemudian.
OECD dalam Skills Outlook 2025menekankan bahwa perubahan kebutuhan keterampilan membuat lifelong learning atau pembel
ajaran sepanjang hayat semakin penting. Kemampuan literasi, numerasi, pemecahan masalah adaptif, dan keterampilan lain perlu terus dikembangkan agar seseorang mampu beradaptasi terhadap perubahan dunia kerja dan masyarakat.
Oleh karena itu, kecantikan tidak perlu dipisahkan dari kompetensi. Perempuan dapat terlihat menarik sekaligus cerdas. Perempuan dapat merawat penampilan sekaligus membaca buku. Perempuan dapat memakai kosmetik sekaligus belajar teknologi. Perempuan dapat menyukai mode sekaligus mempelajari ekonomi. Tidak ada kontradiksi. Justru, semakin luas pengetahuan seseorang, semakin banyak pilihan yang dapat dibuatnya.
Sista dapat belajar bahasa asing, koreografi, pemrograman, desain, memasak, fotografi, keuangan, musik, komunikasi, ilmu medis, olahraga, ilmu pengetahuan, otomotif, atau keterampilan profesional.
Belajar juga tidak harus selalu menghasilkan sertifikat. Kadang-kadang, seseorang belajar karena ingin memahami dunia. Dan manusia yang berhenti belajar terlalu cepat akan semakin bergantung pada pendapat orang lain untuk memahami dunia tersebut.
Quote:
9. Malas Menjaga Kebersihan Kamar dan Lingkungan
Kamar memang wilayah pribadi. Sista berhak menentukan bagaimana mengaturnya.
Namun, jika pakaian kotor menumpuk berminggu-minggu, sampah dibiarkan, makanan basi berada di meja, kamar mandi tidak dibersihkan, dan debu menjadi penghuni tetap, persoalannya bukan lagi sekadar estetika.
Kebersihan lingkungan berkaitan dengan kesehatan. WHO menjelaskan bahwa air, sanitasi, dan kebersihan yang aman merupakan komponen penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. Kondisi WASH yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit melalui berbagai jalur penularan.
Kebersihan kamar juga dapat menjadi bagian dari keterampilan hidup. Sista tidak perlu memiliki kamar seperti katalog furnitur. Yang penting, sampah dibuang, pakaian kotor dipisahkan, tempat tidur dibersihkan, lantai dibersihkan, permukaan berdebu dilap, makanan tidak dibiarkan membusuk, kamar mandi dibersihkan, dan barang-barang ditata sehingga dapat digunakan dengan mudah.
Menjaga kebersihan juga merupakan bentuk penghormatan terhadap orang lain. Jika tinggal bersama keluarga, pasangan, atau teman, kebersihan bukan hanya masalah pribadi.
Beban membersihkan lingkungan sebaiknya tidak otomatis diberikan kepada perempuan hanya karena dirinya perempuan. Justru, perempuan yang kuat perlu memahami bahwa kebersihan adalah tanggung jawab manusia yang hidup di dalam lingkungan tersebut.
Quote:
PENUTUP
Pada akhirnya, menjadi perempuan kuat bukan tentang berusaha terlihat lebih feminin atau lebih maskulin. Bukan tentang pakaian. Bukan tentang kosmetik. Bukan tentang panjang rambut. Bukan tentang olahraga tertentu. Bukan tentang pekerjaan tertentu. Bukan pula tentang apakah seseorang mempunyai sifat lembut atau tegas. Identitas gender tidak ditentukan oleh daftar hobi dan pakaian. Karakter juga tidak ditentukan oleh gender.
Dalam Superwoman Series, yang jauh lebih penting adalah bagaimana seorang perempuan menggunakan keberanian dan kekuatannya. Itulah semangat Superwoman. Bukan menjadi perempuan yang sempurna, melainkan menjadi perempuan yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, menghormati manusia lain, terus berkembang, dan menggunakan kekuatannya untuk sesuatu yang bernilai.
Sebab, pada akhirnya, kualitas seseorang tidak ditentukan oleh seberapa keras dirinya menyebut dirinya “kuat”. Kualitas terlihat dari apa yang dirinya lakukan ketika memiliki kesempatan untuk memilih antara merusak dan memperbaiki. Dan pilihan tersebut tidak mempunyai jenis kelamin.
Quote:
SUMBER
Akun Y*ut*be Pria Seratus Persen (tetapi diadaptasi dengan gaya wanita)
United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women). (2022). Push forward: 10 ways to end violence against women. UN Women.
World Health Organization. (2026). Violence against women. WHO.
World Health Organization. (2026). Violence against children. WHO.
World Health Organization. (2024). Intersections between violence against children and violence against women: Global research priorities. WHO.
World Health Organization. (2026). Guidelines on hand hygiene in community settings. WHO.
World Health Organization. (2024). Compendium of WHO and other UN guidance on WASH and health. WHO.
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2025). OECD Skills Outlook 2025: Building the skills of the 21st century for all. OECD Publishing.
World Health Organization. (2012). Understanding and addressing violence against women: Intimate partner violence. WHO.
World Health Organization. (2012). Understanding and addressing violence against women: Overview. WHO.
@natchios@strangerfdotnet @bercandabasah