Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore GanSist semuanya!
Selamat datang kembali di thread Superwoman Seriesyang ke-179.
Pada Superwoman Series #176, kita membahas bahwa cantik bukan sekadar penampilan. Pada #177 kita membahas pentingnya menjaga kesehatan payudara, kemudian pada #178 kita membahas skrining kanker serviks. Benang merahnya sama, bahwa perempuan yang kuat tidak hanya merawat apa yang terlihat, tetapi juga membangun kemandirian dan kualitas dirinya dari dalam.
Kali ini kita masuk ke persoalan yang lebih sosial dan psikologis, yaitu kebiasaan mencari perhatian dari orang lain.
Perlu dibedakan antara membutuhkan perhatian secara manusiawi dan menjadikan perhatian orang lain sebagai sumber utama harga diri.
Setiap manusia membutuhkan hubungan sosial. Dalam Self-Determination Theory, kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain atau relatedness merupakan salah satu kebutuhan psikologis dasar, bersama dengan otonomi dan kompetensi. Ketiga kebutuhan tersebut berkaitan dengan motivasi dan kesejahteraan psikologis.
Jadi, mempunyai pasangan, ingin disayangi, senang dipuji, atau ingin diperhatikan bukan masalah.
Masalah muncul ketika seseorang merasa dirinya tidak berharga apabila tidak mendapatkan perhatian. Di titik tersebut, hubungan dengan orang lain dapat berubah menjadi semacam mesin validasi. Hari ini ada yang memuji, harga diri naik. Besok tidak ada yang menghubungi, harga diri ikut turun. Manusia memang makhluk sosial, tetapi menjadikan notifikasi sebagai alat ukur harga diri adalah perkembangan teknologi yang agak memalukan.
Lalu, bagaimana cara menghentikannya?
Quote:
1. Kadang-kadang, harus bisa menyakiti dan menolak pernyataan cinta pria
Ini bukan ajakan kepada Sista untuk bersikap dingin kepada semua pria. Ini tentang kemampuan mengatakan tidak ketika memang tidak tertarik.
Perempuan yang haus validasi dapat terjebak dalam situasi ketika dirinya menerima perhatian romantis bukan karena benar-benar menyukai seseorang, melainkan karena senang merasa berharga.
Ada perbedaan besar antara “Aku menerima dia karena sesuai kriteriaku” dan “Aku menerima dia karena senang ada orang yang mencintaiku”. Kalimat kedua menunjukkan bahwa pusat keputusan bukan lagi keinginan pribadi, melainkan perhatian dari orang lain.
Padahal, dalam psikologi, self-esteemberkaitan dengan bagaimana seseorang menilai kualitas, kemampuan, pencapaian, nilai, dan dirinya sendiri. Pandangan orang lain memang dapat memengaruhi harga diri, tetapi bukan berarti penilaian orang lain harus menjadi satu-satunya dasar.
Oleh karena itu, Sista perlu belajar menolak pria dengan tenang tetapi cukup menyakitkan. Tidak perlu membuat alasan panjang. Tidak perlu mempertahankan hubungan hanya karena takut kehilangan perhatian. Tidak perlu menerima seseorang hanya karena merasa tidak enak.
Menolak seseorang bukan berarti Sista sombong. Menolak hubungan yang tidak diinginkan merupakan bentuk otonomi.
Dalam Self-Determination Theory, otonomi berarti mengalami tindakan sebagai sesuatu yang dipilih secara bebas, bukan dilakukan karena tekanan atau paksaan. Otonomi bukan berarti harus hidup sendirian atau tidak membutuhkan siapa pun.
Dengan kata lain, Sista boleh membutuhkan cinta, tetapi jangan sampai membutuhkan cinta tertentu untuk merasa berharga.
Quote:
2. Cepat tinggalkan pria yang toksik
Ini bukan berarti setiap hubungan yang memiliki konflik harus langsung diakhiri. Hubungan manusia memang tidak selalu mulus. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan konflik dapat terjadi bahkan dalam hubungan yang sehat.
Yang perlu diwaspadai adalah pola perilaku yang merusak.
APA Dictionary of Psychology mendefinisikan toxic relationshipsebagai pola perilaku yang merugikan dalam hubungan, termasuk manipulasi, kontrol koersif, gaslighting, sikap tidak menghargai, agresi relasional, kecemburuan, serta berbagai bentuk kekerasan fisik dan mental yang dapat menurunkan kesejahteraan dan kepuasan hubungan.
Jadi, jangan menggunakan kalimat bahwa pria kasar karena sebenarnya peduli untuk membenarkan perilaku yang terus-menerus menyakiti.
Kecemburuan berlebihan bukan otomatis tanda cinta. Kontrol terhadap pergaulan bukan otomatis tanda empati. Ancaman bukan bentuk komunikasi romantis. Penghinaan bukan bukti bahwa seseorang sedang “mendidik” pasangannya. Dan kekerasan bukan sesuatu yang harus ditoleransi hanya karena pelakunya mengatakan bahwa pria itu mencintai Sista.
Perempuan yang terus mencari perhatian dapat lebih mudah bertahan dalam hubungan semacam ini karena perhatian yang diberikan oleh pasangan dianggap lebih penting daripada kualitas hubungan itu sendiri.
Misalnya “Dia memang kasar, tetapi dia masih mencintaiku”, padahal pertanyaannya bukan hanya “Apakah dia mencintaiku?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah hubungan ini sehat bagi manusia?”. Dua hal tersebut tidak selalu sama.
Kalau seseorang harus terus-menerus mengorbankan harga diri agar mendapatkan sedikit perhatian, itu bukan hubungan yang sehat.
Sista tidak perlu mempertahankan hubungan hanya karena takut kembali menjadi sendirian. Kesendirian sementara jauh lebih baik daripada menjadikan hubungan yang merusak sebagai rumah permanen.
Quote:
3. Jangan menjadi pencemburu secara berlebihan
Cemburu adalah emosi manusiawi. Masalahnya bukan keberadaan rasa cemburu. Masalahnya adalah apa yang dilakukan seseorang karena rasa cemburu tersebut.
Sista boleh merasa tidak nyaman ketika pasangan dekat dengan orang lain. Namun, rasa tidak nyaman tidak otomatis memberikan hak untuk mengontrol seluruh kehidupan pasangan.
Contohnya, memeriksa ponsel pasangan tanpa izin, melarang pasangan berteman dengan lawan jenis, meminta laporan lokasi setiap saat, menginterogasi setiap interaksi, membuat akun palsu untuk mengawasi pasangan, sengaja memancing kecemburuan, dan mengancam ketika pasangan tidak segera membalas pesan. Ini sudah jauh berbeda dari sekadar merasa cemburu.
Masalah lainnya adalah kecemburuan dapat menjadi cara untuk mencari kepastian. Seorang wanita mungkin terus bertanya apakah pria masih sayang kepada wanita itu, lalu beberapa menit kemudian bertanya berulang kali.
Akhirnya, pasangan harus memberikan validasi tanpa henti agar kecemasan tersebut mereda.
Sayangnya, validasi semacam itu sering hanya memberikan ketenangan sementara. Setelah itu, muncul keraguan baru.
Oleh karena itu, Sista perlu belajar membedakan antara komunikasi kebutuhan dan pencarian validasi tanpa akhir.
Kalimat membicarakan batasan hubungan bersama dengan pasangan lebih sehat daripada melarang pasangan berinteraksi sosial dengan siapapun. Yang pertama mengkomunikasikan perasaan dan kebutuhan. Yang kedua mencoba mengontrol.
Penelitian dalam kerangka Self-Determination Theorymenunjukkan bahwa otonomi dalam hubungan tidak berarti keterpisahan dari pasangan. Justru, hubungan yang sehat dapat mempertahankan kedekatan sekaligus memberikan ruang bagi masing-masing orang untuk memiliki pilihan dan kehendak pribadi.
Quote:
4. Berani menolak permintaan bantuan yang berlebihan, lalu ajari dia agar mandiri
Nah, bagian ini sangat berhubungan dengan pembahasan Superwoman Series #172, yaitu mengasihi diri sendiri tanpa terjebak people pleasing.
Menolong pasangan merupakan sesuatu yang baik. Namun, ada perbedaan antara empati kepada seseorang yang sedang kesulitan dan mengambil alih semua tanggung jawab hidup seseorang.
Misalnya, pasangan tidak tahu cara mengurus sesuatu. Sista dapat membantu. Namun, jika masalah tersebut sebenarnya dapat dipelajari, pilihan yang lebih memberdayakan adalah ajari dia, bukan terus-menerus mengerjakannya.
Misalnya, pasangan tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Sista dapat mengajari Matematika untuknya setiap hari. Namun, pilihan yang lebih sehat dalam jangka panjang adalah memotivasi pasangan untuk rajin belajar mandiri sampai pasangan mampu menguasai pelajaran Matematika sendiri.
Pasangan tidak tahu caranya menari? Bantu carikan koreografi sederhana di internet dan ajari dia secukupnya, tetapi jangan sampai Sista menjadi guru seni tarinya seumur hidup.
Pasangan tidak bisa mencari uang? Ajari cara membuat kerajinan tangan untuk dijadikan sebagai ide bisnis, bukan memberikan uang secara gratis sambil diam-diam merasa marah karena tidak dihargai.
Ini sejalan dengan konsep kompetensi dan otonomi dalam Self-Determination Theory. Manusia membutuhkan pengalaman bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu dan memiliki kapasitas untuk menentukan tindakannya sendiri.
Menariknya, penelitian mengenai dukungan otonomi dalam pasangan juga menunjukkan bahwa memberikan dukungan yang menghargai pilihan dan kapasitas pasangan merupakan bagian penting dari proses perubahan perilaku.
Jadi, bentuk empati terbaik tidak selalu “Biar aku kerjakan”. Kadang-kadang, justru “Aku ajari kamu, setelah itu kamu kerjakan sendiri”.
Ini bukan berarti Sista tidak boleh berbagi kepada sesama. Justru sebaliknya, Sista membantu dengan cara yang membuat orang lain semakin berdaya.
Itulah bentuk empati yang jauh lebih sehat.
Quote:
Pencari perhatian versus perempuan mandiri
Mari kita buat perbedaannya lebih sederhana.
Pencari perhatian: Menerima cinta pria karena senang dihargai.
Perempuan mandiri: Berani menolak dan menyakiti pria yang tidak sesuai dengan kriterianya.
Pencari perhatian: Bertahan dalam hubungan toksik karena takut kehilangan perhatian.
Perempuan mandiri: Berani meninggalkan hubungan toksik yang tidak sehat.
Pencari perhatian: Mengontrol pasangan untuk mendapatkan kepastian.
Perempuan mandiri: Membangun komunikasi dan batasan yang sehat.
Pencari perhatian: Terus-menerus menolong semua orang agar dianggap peduli.
Perempuan mandiri: Mengajari orang lain menjadi mampu.
Perbedaannya bukan pada apakah seseorang memiliki pasangan atau tidak. Perbedaannya adalah dari mana rasa berharga itu berasal.
Quote:
Jadi, apakah Sista tidak boleh mencari perhatian?
Boleh. Manusia membutuhkan hubungan sosial. Sista boleh ingin dicintai. Boleh ingin dipuji. Boleh merasa senang ketika seseorang memperhatikan. Boleh menikmati hubungan romantis.
Yang perlu dihentikan adalah ketergantungan terhadap perhatian sebagai satu-satunya sumber harga diri. Sebab, kalau harga diri sepenuhnya bergantung pada perhatian orang lain, Sista akan mudah kehilangan kendali atas keputusan sendiri.
Hari ini orang itu memuji, Sista merasa hebat, besok orang itu mengabaikan, Sista merasa tidak berharga. Lusa orang lain datang, Sista kembali merasa berharga. Begitu terus.
Itu bukan kebebasan.
Dalam perspektif Self-Determination Theory, kesejahteraan psikologis berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Ketiganya lebih sehat daripada menjadikan penerimaan sosial sebagai satu-satunya sumber harga diri.
Quote:
PENUTUP
Superwoman Series #179 bukan mengajarkan Sista untuk menjadi perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun.
Itu bukan kemandirian. Kemandirian bukan berarti “Aku tidak membutuhkan orang lain”. Kemandirian berarti “Aku mampu memilih orang tanpa kehilangan harga diri”.
Sista boleh mencintai seorang pria, tetapi tetap berani menyakiti pria tanpa takut dibenci.
Sista boleh memiliki pasangan, tetapi tetap mampu meninggalkan hubungan yang merusak.
Sista boleh cemburu, tetapi tetap mampu mengendalikan tindakan.
Sista boleh membantu orang lain, tetapi tidak harus menjadi pelayan bagi seluruh hidupnya.
Dan yang paling penting, Sista tidak perlu membuat diri sendiri terus-menerus rendah hanya agar merasa berharga.
Hubungan yang sehat bukan hubungan ketika satu orang menjadi penyelamat dan yang lain menjadi orang yang selalu diselamatkan.
Hubungan yang sehat memungkinkan dua orang yang sama-sama memiliki kemampuan untuk berkembang, memilih, bertanggung jawab, dan saling mendukung.
Jadi, berhenti menjadi pencari perhatian bukan berarti berhenti menerima kasih sayang. Justru sebaliknya, Sista mulai membedakan antara “Aku ingin dicintai” dan “Aku butuh orang yang mencintaiku supaya aku merasa dihargai”.
Yang pertama manusiawi. Yang kedua dapat membuat Sista menyerahkan terlalu banyak kendali kepada orang lain.
Dan setelah 179 seri, tampaknya satu kesimpulan Superwoman Series semakin jelas, bahwa perempuan kuat bukan perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun, perempuan kuat adalah perempuan yang tetap punya harga diri meskipun sedang menolong orang lain.
Quote:
SUMBER
Akun Y*ut*be Pria Seratus Persen (tetapi diadaptasi dengan gaya wanita).
American Psychological Association. (2023). Self-esteem. APA Dictionary of Psychology.
American Psychological Association. (2026). Toxic relationship. APA Dictionary of Psychology.
Anderson, J. R. (2020). Inviting autonomy back to the table: The importance of autonomy for healthy relationship functioning. Journal of Marital and Family Therapy, 46(1), 3–14.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
Niemiec, C. P., & Ryan, R. M. (2009). Autonomy, competence, and relatedness in the classroom: Applying self-determination theory to educational practice. Theory and Research in Education, 7(2), 133–144.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, (b)55(1), 68–78.
Smith, J. L., et al. (2022). Autonomy support in a couples weight loss trial: Helping yourself while helping others. Journal of Behavioral Medicine.
