Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya!
Pada Superwoman Series #177, kita membahas pentingnya mengenali kesehatan payudara melalui SADARI dan melakukan skrining sesuai usia serta tingkat risiko. Di thread Superwoman Seriesyang ke-178 kali ini, pembahasannya berpindah ke organ reproduksi perempuan, yaitu serviks.
Kanker serviks sebenarnya termasuk kanker yang dapat dicegah. Ada 3 lapisan pencegahan yang sangat penting, yaitu vaksinasi HPV sebagai pencegahan primer, skrining untuk menemukan lesi prakanker sebagai pencegahan sekunder, serta pengobatan yang tepat apabila ditemukan kelainan. WHO menjadikan kombinasi vaksinasi, skrining, dan pengobatan sebagai inti strategi eliminasi kanker serviks.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan, bahwa skrining tidak berarti setiap perempuan harus langsung menjalani Pap smear begitu melakukan hubungan seksual pertama. Pedoman dapat berbeda berdasarkan status pernikahan, usia, metode yang tersedia, faktor risiko, dan kebijakan kesehatan nasional. Kementerian Kesehatan RI, misalnya, menyebut skrining dapat dilakukan pada perempuan yang sudah menikah dan aktif secara seksual serta menyarankan dimulai sekitar usia 21 tahun atau 3 tahun setelah hubungan seksual pertama.
Jadi, harus dipahami mengapa skrining kanker serviks diperlukan dan metode apa yang tersedia.
Quote:
1. Mengapa kanker serviks perlu dicegah sejak dini?
Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi persisten oleh HPV atau human papillomavirusberisiko tinggi.
HPV merupakan kelompok virus yang sangat umum. Sebagian besar infeksi HPV dapat menghilang atau dikendalikan oleh sistem imun, tetapi sebagian kecil dapat menetap selama bertahun-tahun. Infeksi persisten inilah yang dapat menyebabkan perubahan prakanker dan pada sebagian kasus berkembang menjadi kanker invasif apabila tidak ditemukan dan ditangani.
Proses tersebut biasanya tidak terjadi dalam semalam. Justru di situlah peluang pencegahannya. Karena terdapat fase prakanker, perubahan tersebut dapat ditemukan melalui skrining sebelum berkembang menjadi kanker yang invasif.
WHO memperkirakan sebagian infeksi HPV dapat menetap selama bertahun-tahun dan berkembang menjadi lesi prakanker sebelum akhirnya menjadi kanker. Dengan deteksi dan penanganan yang tepat, perjalanan tersebut dapat dihentikan.
Jadi, skrining bukan mencari kanker setelah semuanya terlambat. Salah satu tujuannya adalah menemukan perubahan sebelum menjadi kanker.
Quote:
2. Pap smear: memeriksa perubahan sel serviks
Salah satu metode yang sudah lama digunakan adalah Pap smear atau sitologi serviks. Pada pemeriksaan ini, tenaga kesehatan mengambil sampel sel dari leher rahim untuk kemudian diperiksa guna melihat adanya perubahan sel yang abnormal. Jika ditemukan perubahan tertentu, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan untuk menentukan apakah terdapat lesi prakanker dan bagaimana penanganannya.
Pap smear memiliki peran penting dalam sejarah pencegahan kanker serviks. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan membuat pendekatan skrining terus berubah.
WHO saat ini merekomendasikan tes HPV DNA sebagai metode skrining utama pada populasi umum apabila tersedia dalam program skrining. Ini bukan berarti Pap smear tiba-tiba menjadi tidak berguna. Metode sitologi masih dapat digunakan dalam sistem kesehatan tertentu sesuai pedoman dan ketersediaan layanan.
Yang penting adalah, ikuti metode skrining yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan dan program nasional setempat.
Quote:
3. HPV DNA: mencari penyebab utama risikonya
Kalau Pap smear melihat perubahan sel, tes HPV DNA mencari keberadaan materi genetik HPV berisiko tinggi.
Perbedaan pendekatan ini penting. WHO merekomendasikan HPV DNA sebagai pilihan utama untuk skrining karena metode tersebut memiliki kinerja yang baik dalam menemukan perempuan yang berisiko mengalami lesi prakanker. WHO menyebut skrining berbasis HPV DNA lebih efektif dibandingkan metode skrining lama dalam konteks pencegahan kanker serviks.
Pedoman WHO untuk populasi umum merekomendasikan skrining HPV DNA mulai sekitar usia 30 tahun, dengan interval yang dapat mencapai 5 tahun bergantung pada strategi skrining dan tindak lanjut yang digunakan.
Namun, rekomendasi nasional dapat menyesuaikan dengan sistem kesehatan masing-masing negara.
Indonesia sendiri sedang memperluas penggunaan skrining berbasis DNA HPV, termasuk pengambilan sampel mandiri (self-sampling), sebagai bagian dari upaya meningkatkan cakupan deteksi dini.
Ini perkembangan penting, karena salah satu hambatan skrining adalah perempuan tidak datang melakukan pemeriksaan. Kadang-kadang, masalah kesehatan bukan karena teknologinya tidak tersedia. Masalahnya adalah manusia belum sempat datang ke fasilitas kesehatan.
Quote:
4. Bagaimana dengan IVA?
Untuk wilayah atau fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan sumber daya, IVA atau inspeksi visual dengan asam asetat masih menjadi salah satu metode yang digunakan.
Prinsipnya adalah tenaga kesehatan mengaplikasikan larutan asam asetat pada serviks dan mengamati perubahan tertentu pada permukaannya.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa IVA dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih dan hasilnya dapat diketahui relatif cepat.
Keuntungan IVA adalah prosedurnya relatif sederhana dan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan primer.
Namun, penting memahami perkembangan rekomendasi global. WHO kini menempatkan HPV DNA sebagai metode skrining pilihan utama ketika sistem tersebut tersedia dan dapat diimplementasikan dengan baik. Pada saat yang sama, WHO mengakui pentingnya strategi yang sesuai dengan kapasitas sistem kesehatan masing-masing negara.
Dengan kata lain, IVA dilakukan apabila skrining HPV DNA berkualitas tersedia dalam program kesehatan, metode berbasis HPV memiliki posisi yang semakin penting.
Quote:
5. Skrining bukan hanya untuk perempuan yang merasa sakit
Ini salah satu kesalahpahaman yang harus dibuang. Skrining ditujukan kepada orang yang belum memiliki gejala, agar kelainan dapat ditemukan sedini mungkin.
Kanker serviks pada tahap awal dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas. Oleh karena itu, jangan menunggu perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan vagina yang tidak biasa, keputihan yang tidak normal, nyeri panggul, atau gejala lainnya baru kemudian berpikir untuk melakukan pemeriksaan.
Jika sudah muncul gejala yang mencurigakan, persoalannya bukan lagi sekadar “skrining rutin”. Seseorang perlu mendapatkan evaluasi medis diagnostik.
Ini perbedaan yang sangat penting. Skrining berarti mencari penyakit atau perubahan pada orang tanpa gejala. Diagnosis berarti mencari tahu penyebab ketika terdapat gejala atau hasil pemeriksaan yang abnormal.
Quote:
6. Vaksin HPV tetap penting meskipun sudah aktif secara seksual
Sekarang masuk ke lapisan pencegahan yang pertama, yaitu vaksin HPV. Vaksinasi bertujuan mencegah infeksi HPV tertentu yang dapat menyebabkan kanker. WHO menargetkan pada 2030 sebanyak 90% anak perempuan mendapatkan vaksinasi HPV lengkap sebelum usia 15 tahun sebagai bagian dari strategi global eliminasi kanker serviks.
Idealnya, vaksinasi dilakukan sebelum seseorang terpapar HPV, tetapi bukan berarti orang yang sudah aktif secara seksual otomatis tidak memperoleh manfaat dari vaksinasi. Manfaat vaksin pada wanita yang sudah aktif secara seksual perlu dibicarakan berdasarkan usia, riwayat vaksinasi, dan kondisi wanita itu.
Yang perlu dipahami adalah, vaksin HPV tidak mengobati infeksi HPV yang sudah ada. Vaksin berfungsi terutama untuk mencegah infeksi baru oleh tipe HPV yang ditargetkan vaksin.
Oleh karena itu, vaksinasi dan skrining bukan dua pilihan yang saling menggantikan. Keduanya bekerja pada bagian yang berbeda.
Quote:
7. Vaksinasi dan skrining adalah perlindungan yang saling melengkapi
Inilah inti dari thread Superwoman Series #178. Bayangkan pencegahan kanker serviks sebagai sistem pertahanan berlapis.
Lapisan pertama yaitu vaksinasi HPV. Tujuannya untuk mengurangi risiko infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker.
Lapisan kedua yaitu skrining. Tujuannya untuk menemukan infeksi berisiko tinggi atau perubahan prakanker sehingga dapat ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi kanker invasif.
Lapisan ketiga yaitu pengobatan. Jika ditemukan lesi prakanker atau kanker, pasien mendapatkan penanganan sesuai diagnosis dan stadium penyakit.
WHO menggunakan kerangka 90–70–90 untuk eliminasi kanker serviks, dengan 90% anak perempuan divaksinasi lengkap sebelum usia 15 tahun, 70% perempuan menjalani skrining dengan tes berkinerja tinggi pada usia 35 dan 45 tahun, dan 90% perempuan yang memiliki penyakit serviks mendapatkan pengobatan yang sesuai.
Jadi, vaksinasi bukan alasan untuk berhenti melakukan skrining. Sebaliknya, hasil skrining negatif bukan alasan untuk menganggap vaksinasi tidak diperlukan. Dua strategi tersebut saling melengkapi.
Quote:
Lalu, kapan Sista harus mulai skrining?
Jawabannya tidak sesederhana Pap smear secara langsung setelah menikah atau setelah aktif secara seksual. Kementerian Kesehatan RI menyebut skrining dapat dilakukan pada perempuan yang sudah aktif secara seksual dan menyarankan dimulai sekitar usia 21 tahun atau 3 tahun setelah hubungan seksual pertama.
Sementara itu, WHO merekomendasikan pendekatan berbasis HPV DNA pada populasi umum mulai sekitar usia 30 tahun dalam strategi tertentu.
Perbedaan ini menunjukkan satu hal, bahwa jadwal skrining harus mengikuti pedoman nasional dan kondisi individu, bukan sekadar mengikuti satu kalimat yang beredar di media sosial.
Untuk perempuan dengan HIV atau kondisi imun tertentu, rekomendasi skrining dapat berbeda dan biasanya dimulai lebih dini serta dilakukan lebih sering.
Oleh karena itu, tenaga kesehatan dapat membantu menentukan metode dan jadwal yang paling sesuai.
Quote:
PENUTUP
Superwoman Series #178 kembali pada gagasan utama seri ini. Perempuan kuat bukan perempuan yang mengabaikan tubuhnya. Perempuan kuat adalah perempuan yang memahami bahwa kesehatan juga membutuhkan tindakan preventif.
Vaksinasi HPV adalah pencegahan primer. Skrining adalah pencegahan sekunder. Pengobatan adalah bagian penting ketika ditemukan penyakit. Dan semuanya bekerja lebih baik jika dilakukan tepat waktu.
Jika Sista sudah menikah dan sudah aktif secara seksual, jangan menjadikan pemeriksaan serviks sebagai sesuatu yang terlarang. Pemeriksaan kesehatan reproduksi bukan sesuatu yang memalukan. Ini bagian dari perawatan kesehatan.
Jika belum mendapatkan vaksin HPV, konsultasikan vaksinasi dengan tenaga kesehatan sesuai usia dan kondisi pribadi.
Jika sudah berada pada usia dan kelompok yang memenuhi syarat untuk skrining, lakukan pemeriksaan sesuai program yang tersedia.
Jika hasil skrining abnormal, jangan langsung panik dan jangan menghilang dari sistem kesehatan. Hasil positif atau abnormal tidak selalu berarti kanker. Yang penting adalah mengikuti pemeriksaan lanjutan dan tata laksana yang direkomendasikan.
Sebab, tujuan skrining bukan membuat perempuan hidup dalam kekhawatiran berlebihan. Tujuannya justru agar kanker serviks tidak perlu menjadi bagian dari masa depan Sista. Dan inilah salah satu bentuk mengasihi diri sendiri yang paling nyata, tidak hanya merawat penampilan, tetapi melindungi kesehatan sebelum masalah menjadi lebih besar.
Quote:
SUMBER
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Kanker serviks bisa dicegah, bisa dieliminasi. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (27 Januari 2026). Skrining kanker leher rahim terintegrasi Program CKG, pemerintah perluas akses DNA HPV dan self-sampling.
World Health Organization. (2020). Global strategy to accelerate the elimination of cervical cancer as a public health problem. World Health Organization.
World Health Organization. (2021). WHO guideline for screening and treatment of cervical pre-cancer lesions for cervical cancer prevention(2nd ed.). World Health Organization.
World Health Organization. (2021). New recommendations for screening and treatment to prevent cervical cancer. World Health Organization.
World Health Organization. (2026). Evidence-informed guidance for the implementation of HPV-based cervical cancer screening programmes. World Health Organization.
World Health Organization. (2026). WHO guideline for screening and treatment of cervical pre-cancer lesions for cervical cancer prevention: Use of human papillomavirus (HPV) DNA genotyping. World Health Organization.
