Uncategorized

(CERPEN HOROR) Darah dan Jatung Manusia di Halaman Belakang

8
×

(CERPEN HOROR) Darah dan Jatung Manusia di Halaman Belakang

Share this article


(CERPEN HOROR) Darah dan Jatung Manusia di Halaman Belakang
Sumber Gambar:Artificial Intelligence (ilustrasi wajah Maudy)

Malam minggu itu harusnya diisi dengan ketenangan, secangkir teh hangat, dan obrolan renyah keluarga. Namun, bagi Maudy, gadis 19 tahun yang berkulit putih dan berhidung mancung itu, malam minggu kali ini berubah menjadi wahana simulasi uji nyali.

Semua bermula ketika Maudy berniat mengambil sekop kecil di sudut halaman belakang rumahnya untuk menanam bibit lidah buaya. Tempat itu agak tersembunyi, tertutup rimbunnya pohon mangga dan tumpukan pot tua. Saat menyibak dedaunan, hidung mancung Maudy langsung disambut bau besi menyengat yang bercampur dengan aroma amis yang amat pekat.

Di sana, tergeletak 2 ember cat bekas berukuran besar. Isi ember itu bukan air hujan atau adukan semen, melainkan cairan kental berwarna merah kehitaman yang sudah mulai membeku di bagian pinggirnya. Dan yang membuat isi perut Maudy mendadak bergejolak hebat sampai ia muntah-muntah di atas rumput adalah di antara 2 ember itu, tepat di atas sebuah plastik bening, tergeletak sepotong organ tubuh penuh otot polos, berwarna merah tua keabu-abuan, yang bentuknya sangat amat dihafal Maudy dari buku pelajaran biologi SMA.

Jantung manusia, lengkap dengan sisa pembuluh darah yang menjuntai.

“TOLOOONG!!! PEMBUNUHHH! ADA PEMBUNUH DI RUMAH INI!!” teriak Maudy histeris sambil berlari terbirit-birit masuk ke dalam rumah

Langkah kaki Maudy yang terseret-seret hampir membuat vas bunga di meja tamu jatuh.

Pak Galih, ayah Maudy, yang sedang asyik menonton acara komedi di televisi sampai tersedak pisang goreng. Bu Ratna, ibunya, langsung berlari keluar dari dapur dengan sodet masih menggantung di tangan.

“Ada apa toh, Maudy?! Kamu ini teriak-teriak kayak dikejar kecoak raksasa saja!” seru Pak Galih sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang

“Ayah! Ibu! Jangan pura-pura nggak tahu ya!” marah Maudy, menunjuk ayahnya dengan telunjuk yang gemetaran hebat, wajahnya pucat pasi

“Di belakang, Yah! Di belakang ada 2 ember isi darah sama jantung manusia! Ayah kan yang baru saja bunuh orang?! Ayah, tolong ngaku!”

Pak Galih melotot, mata sipitnya makin membesar.

“Lho! Kok Ayah yang disalahkan?! Astaghfirullah, Maudy, Ayah ini jangankan membunuh manusia, kemarin waktu ada tikus terlindas motor di depan rumah saja Ayah nangis 3 hari 3 malam karena kasihan sama anak dan istri tikus yang ditinggalkan! Kamu mau nuduh Ayah ini pembunuh?!”

Maudy beralih lalu menunjuk ibunya.

“Kalau bukan Ayah, pasti Ibu! Ibu sudah bunuh orang, kan?!”

Bu Ratna mendelik gemas, lalu mengacungkan sodetnya.

“Maudy! Jangan kurang ajar ya sama Ibu kamu! Ibu ini kalau ada nyamuk hinggap di lengan saja cuma Ibu kipas-kipas supaya dia terbang lagi! Ibu nggak tega menyakiti makhluk hidup, apalagi memotong jantung orang! Kamu ini kalau halusinasi jangan kebangetan, tadi kamu makan pecel lele pakai micin berapa kilo?”

Karena perdebatan absurd itu tidak menemukan titik terang, Maudy, yang mencoba tetap rasional di tengah trauma hebat, segera menelepon polisi.

***

Satu jam kemudian, halaman belakang rumah keluarga Pak Galih sudah dipasangi garis polisi berwarna kuning. Para petugas forensik bergerak cepat, mengamankan 2 ember berisi darah, jantung misterius tersebut, serta menyapu bersih area sekitar untuk mencari sidik jari.

Proses penyelidikan berjalan sangat cepat berkat teknologi forensik modern. Hanya butuh waktu beberapa hari bagi kepolisian untuk mencocokkan sampel sidik jari di gagang ember dan sampel DNA dari darah serta jantung tersebut.

Hasilnya membuat Maudy dan seluruh warga kampung garuk-garuk kepala karena bingung setengah mati.

Sidik jari di ember tersebut 100% cocok dengan milik Pak Wawan, 42 tahun, tetangga sebelah rumah Maudy. Masalahnya, Pak Wawan adalah definisi nyata dari seorang pria idaman tetangga. Pak Wawan adalah pria setengah baya berwajah tenang, tutur katanya sangat halus, kalau bicara tidak pernah bernada tinggi, dan kalau lewat di depan orang tua selalu membungkuk sampai hampir 90 derajat. Membayangkan Pak Wawan memotong tubuh orang sama mustahilnya dengan membayangkan kucing betina oranye melahirkan anak kodok.

Namun, kejutan sesungguhnya terletak pada hasil analisis DNA darah dan jantung tersebut. Cairan merah pekat itu 100% cocok dengan DNA air liur pada sikat gigi milik Vika, 20 tahun, seorang gadis muda yang tinggal tidak jauh dari situ.

Berita ini langsung menggemparkan kampung. Bagaimana mungkin Vika tewas mengenaskan di tangan Pak Wawan?

Maudy menyandarkan badannya di kursi teras rumah sambil memikirkan teka-teki ini. Satu hal yang tiba-tiba melintas di pikirannya: Vika memang selalu menunjukkan reaksi yang sangat aneh setiap kali melihat Pak Wawan. Bila warga lain menyapa Pak Wawan dengan ramah, Vika justru akan mendadak kaku, matanya melotot ketakutan seperti melihat malaikat maut, lalu berlari sekencang-kencangnya seolah-olah sedang dikejar poc0ng gondrong.

Padahal, seingat Maudy dan seluruh warga, Pak Wawan tidak pernah sekalipun menyentuh Vika secara kasar. Jangankan memukul, memarahi Vika saja Pak Wawan tidak pernah. Yang sering Pak Wawan lakukan hanyalah tersenyum dan mencoba mengelus pelan kepala Vika kalau mereka berpapasan, sebuah gestur kasih sayang yang wajar dari seorang pria dewasa kepada anak kecil di kampung tersebut. Namun, setiap kali tangan Pak Wawan melayang hendak mengelus kepalanya, Vika akan menjerit tanpa suara dan kabur secepat kilat.

Mengapa gadis itu begitu takut? Dan mengapa Pak Wawan yang sangat lembut itu bisa nekat menghabisi nyawa Vika dengan cara yang begitu mengerikan?

***

Misteri itu akhirnya terkuak secara gamblang saat polisi memeriksa Pak Wawan di ruang interogasi dan menggali sejarah masa kecil Vika dari teman-teman sebayanya. Kebenaran di balik tragedi ini ternyata merupakan perpaduan antara kepedihan, kesalahpahaman tingkat tinggi, dan logika anak kecil yang rusak akibat perundungan.

Semua bermula 10 tahun yang lalu, ketika Vika masih berusia 10 tahun.

Karena terlahir prematur, fisik Vika kecil agak lemah dan sering sakit. Anak-anak nakal di kampung sering mengejeknya dengan sebutan “anak mentahan”. Vika kecil tentu saja sering marah. Setiap kali Vika mengepalkan tangan dan bersiap menonjok para pembully-nya, anak-anak nakal itu menyusun taktik licik untuk membungkam total perlawanan Vika.

“Vika! Jangan pernah berani mukul kami ya!” gertak salah satu pembully kala itu

“Kalau kamu berani bentak atau sentuh kami, kami bakal adukan kamu ke Pak Wawan! Kamu tahu nggak? Pak Wawan itu punya ilmu sihir. Kalau kamu nakal, kepala kamu bakalan dielus sama Pak Wawan. Sekali elus saja, rambut kamu langsung rontok semua dan kamu bakal gundul permanen!”

Pembully lainnya menimpali dengan wajah meyakinkan.

“Benar itu, Vik! Jadi, kalau kamu lihat Pak Wawan jalan mendekat dan mau elus kepala kamu, itu artinya dia mau menghukum kamu karena kamu nakal! Kamu harus lari secepat mungkin seperti dikejar anjing rabies! Kalau kamu terlambat satu detik saja, kepala kamu bakal botak licin seperti lampu taman!”

Mental Vika kecil yang polos dan sangat lemah menelan mentah-mentah gertakan konyol tersebut. Doktrin itu tertanam sangat dalam di dalam kepalanya, berubah menjadi ketakutan irasional atau fobia kronis yang membusuk hingga Vika dewasa. Vika sangat patuh pada instruksi tersebut.

Bagi Vika, uluran tangan Pak Wawan bukanlah bentuk keramahan, melainkan ancaman penggundulan kepala secara magis. Oleh karena itu, setiap kali Pak Wawan hendak mengelus kepalanya dengan lembut untuk menunjukkan rasa sayang seorang tetangga tua, Vika tidak berani membalas atau marah. Ia hanya diam terpaku ketakutan, lalu memutar badan dan lari ketakutan sekencang-kencangnya.

Pak Wawan tidak pernah tahu soal legenda konyol “elusan gundul” yang diciptakan oleh anak-anak nakal tersebut.

Yang dirasakan oleh Pak Wawan hanyalah penolakan yang sangat menyakitkan. Sembilan tahun lamanya Pak Wawan berusaha menahan kesabaran. Sembilan tahun lamanya pria itu mencoba bersikap baik, tersenyum, dan menunjukkan kasih sayang, tetapi yang pria itu dapatkan dari Vika hanyalah tatapan jijik, ketakutan yang tidak masuk akal, dan langkah kaki yang berlari menjauhinya.

Sensitivitas perasaan Pak Wawan yang terlalu halus perlahan-lahan mengendap menjadi rasa frustrasi dan marah yang sangat pekat. Jiwanya merana. Sembilan tahun penolakan tanpa alasan yang jelas merusak kesehatan mental pria lembut itu dari dalam, membusukkan rasa kasih sayangnya menjadi kebencian yang mendalam.

***

Hingga, sore naas itu tiba.

Pak Wawan sama sekali tidak berniat menculik atau merencanakan pembunuhan terhadap Vika. Sore itu, Vika sedang berjalan di lorong samping rumah Pak Wawan untuk mengejar kucing kesayangannya yang lepas dari kandang. Kucing itu berlari masuk ke halaman rumah Pak Wawan.

Vika yang sedikit ketakutan langsung masuk ke halaman tersebut. Tepat saat itu, Pak Wawan keluar dari pintu samping. Keduanya saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.

Mata Vika membelalak lebar. Ketakutan saat usia 9 tahun langsung menyerang otaknya secara bersamaan. Tanpa berpikir panjang, Vika berbalik arah, berniat lari sekencang-kencangnya seperti biasa. Namun, karena panik dan terburu-buru, kaki Vika menginjak tanah licin dan terpeleset. Gadis itu jatuh terjerembap di atas beton halaman rumah Pak Wawan tanpa ada yang mendorongnya.

Melihat Vika jatuh di beton, Pak Wawan yang berniat baik langsung melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya untuk membantu Vika berdiri.

Namun, bukannya menerima bantuan, Vika yang tergeletak di tanah justru menjerit histeris sambil menangis, meraba-raba kepalanya dengan kedua tangan untuk melindungi rambutnya dari gestur “elusan gundul” yang biasa Vika takuti. Vika berteriak-teriak melarang Pak Wawan menyentuh kepalanya.

Di titik itulah, benteng kesabaran Pak Wawan yang dibangun selama 9 tahun runtuh total.

Rasa tersinggung, sakit hati, kekecewaan yang menumpuk, dan rasa frustrasi yang luar biasa meledak sekaligus di dalam kepala Pak Wawan. Pria yang selama ini dikenal paling lembut di kampung itu mendadak kehilangan akal sehatnya. Dalam gelapnya rasa sakit hati, Pak Wawan menganggap Vika adalah manusia paling tidak punya perasaan di dunia, seorang gadis yang terus-menerus menghina kebaikannya tanpa sebab.

Pak Wawan berlutut, lalu mencengkeram leher Vika dan mencekiknya dengan sangat kuat. Vika yang tidak siap dan lebih lemah daripada Pak Wawan tidak mampu memberikan perlawanan berarti hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di halaman tersebut.

Setelah Vika tidak bernyawa, kebencian Pak Wawan belum tuntas. Dengan pikiran yang sudah benar-benar rusak oleh dendam emosional, Pak Wawan memutuskan untuk “mengambil” bagian tubuh Vika yang pria itu anggap tidak pernah ada, yaitu perasaan gadis itu. Dalam logika gelapnya, karena Vika tidak punya perasaan untuk menghargai orang lain, maka Vika tidak berhak memiliki jantung.

Dengan tenang dan tanpa emosi, Pak Wawan membawa jasad Vika ke dalam area tertutup, menguras darah gadis itu ke dalam 2 ember cat bekas, dan mengambil organ jantungnya.

Namun, begitu aksinya selesai dan kesadarannya perlahan kembali, kepanikan luar biasa langsung melanda Pak Wawan. Pria itu menyadari bahwa polisi akan segera mencarinya jika jasad dan bukti-bukti tersebut ditemukan di rumahnya. Dengan gemetar dan ketakutan akan ancaman penjara, Pak Wawan membawa 2 ember berisi darah dan jantung tersebut di tengah kegelapan malam, menyelinap ke halaman belakang rumah keluarga Maudy yang sepi dan terlindung rimbun pohon mangga, lalu menyembunyikan itu di sana dengan harapan tidak ada orang yang menemukannya.

Rencana penyembunyian yang terburu-buru itu gagal total. Polisi dengan cepat menemukan sisa jasad Vika yang disembunyikan Pak Wawan di tempat lain berdasarkan pengakuan penuh pria tersebut.

***

Di dalam ruang interogasi, Pak Wawan duduk menunduk dengan borgol melingkar di kedua pergelangan tangannya. Tidak ada lagi raut wajah ramah yang dulu sering pria itu tunjukkan. Yang tersisa hanyalah tatapan kosong seorang pria yang jiwanya telah hancur oleh kesalahpahaman konyol yang berujung maut.

Sementara itu, di teras rumahnya, Maudy menatap garis polisi di halaman belakang dengan perasaan yang sangat campur aduk. Cerita di balik 2 ember darah dan sepotong jantung manusia itu terasa begitu nyata, tragis, sekaligus ironis. Sebuah teka-teki kriminal berdarah yang dipicu oleh candaan jahat anak-anak kecil bertahun-tahun yang lalu, yang merusak mental seorang gadis polos dan mengubah seorang pria paling lembut di kam

pung menjadi seorang pembunuh.

Pak Wawan kini harus bertanggung jawab atas perbuatan kejamnya di balik jeruji besi dalam waktu yang sangat lama, membawa serta penyesalan dan sisa-sisa kesakitan hatinya yang tidak pernah terobati.

TAMAT

@multimedia.ptrt @strangerfdotnet @sahabat.006



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *