Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat siang GanSist semuanya!
Pada Superwoman Series #174, kita sudah membahas cara menekan kecanduan belanja. Kemudian, pada seri #181, kita membahas bagaimana perempuan dapat mengubah perilaku impulsif menjadi kebiasaan yang lebih sehat, produktif, dan mandiri.
Sekarang, di Superwoman Seriesyang ke-184, muncul pertanyaan yang cukup menarik. Benarkah menikah dengan seorang suami dapat mencegah seorang perempuan menjadi kecanduan belanja? Jawaban singkatnya, tidak ada dasar ilmiah yang cukup untuk mengatakan bahwa pernikahan otomatis mencegah kecanduan belanja.
Pernikahan dapat memberikan dukungan emosional, sosial, dan finansial tertentu. Namun, kecanduan belanja bukan sekadar persoalan “tidak ada yang mengingatkan”. Kondisi yang dalam literatur ilmiah sering disebut compulsive buying-shopping disorder atau perilaku belanja kompulsif berkaitan dengan berbagai faktor psikologis, seperti impulsivitas, regulasi emosi, stres, dan pola penggunaan belanja untuk mengubah keadaan emosional.
Dengan kata lain, status pernikahan bukan obat untuk perilaku adiktif.
Quote:
Apa sebenarnya kecanduan belanja?
Pertama, kita perlu membedakan antara suka berbelanja dan perilaku belanja kompulsif.
Sista yang senang membeli pakaian ketika ada uang bukan berarti kecanduan. Sista yang sesekali membeli kosmetik karena memang membutuhkannya juga bukan berarti mengalami gangguan.
Masalah muncul ketika pembelian menjadi sulit dikendalikan, dilakukan secara berulang meskipun sebenarnya tidak diperlukan, digunakan untuk mengatur emosi, menimbulkan masalah keuangan, menyebabkan konflik dengan keluarga, mengganggu pekerjaan atau kehidupan sosial, dan tetap dilakukan meskipun konsekuensinya sudah jelas merugikan.
Konsensus ahli mengenai compulsive buying-shopping disorder mencakup dorongan membeli yang menetap dan sulit dikendalikan, pembelian berlebihan, penggunaan belanja untuk mengatur keadaan internal, konsekuensi negatif, serta tetap mempertahankan perilaku meskipun sudah mengalami dampak buruk.
Jadi, masalahnya bukan Sista terlalu suka diskon. Masalahnya adalah Sista kehilangan kendali atas perilaku membeli. Dua hal tersebut jelas berbeda.
Quote:
Mitos: “Kalau sudah menikah, suami pasti mengontrol keuangan”
Ini salah satu asumsi yang sering muncul. Ada anggapan bahwa sebelum menikah seorang perempuan dapat berbelanja sesuka hati, tetapi setelah menikah suami akan mengingatkan “Jangan beli itu”.
Secara sosial, mungkin memang ada pasangan yang melakukan hal tersebut. Namun, secara ilmiah, pengawasan pasangan bukan mekanisme yang dapat dianggap sebagai pencegah universal kecanduan belanja.
Bahkan, jika seseorang hanya berhenti belanja karena takut dimarahi suami, masalah dasarnya belum tentu selesai. Begitu pasangan sedang tidak berada di rumah, diberikan akses uang lebih besar, memiliki kartu kredit sendiri, atau menemukan metode pembayaran digital yang lebih mudah, perilaku tersebut dapat kembali muncul.
Artinya, kontrol eksternal tidak sama dengan kontrol diri. Perempuan yang matang bukan perempuan yang membutuhkan suami untuk menjadi “polisi keuangan”. Wanita matang justru belajar memahami mengapa Sista ingin membeli ini, apakah Sista membutuhkan barang ini, apakah Sista mampu membelinya, dan apakah Sista sedang mencoba menghilangkan emosi negatif dengan berbelanja.
Kemampuan menjawab pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memiliki seseorang yang hanya berkata, “Jangan beli”.
Quote:
1. Faktor psikologis tidak hilang hanya karena menikah
Penelitian tentang perilaku belanja kompulsif menunjukkan bahwa masalah tersebut memiliki penyebab yang kompleks.
Tinjauan ilmiah menghubungkan perilaku belanja kompulsif dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial. Kondisi tersebut juga sering disertai masalah suasana hati, kecemasan, penggunaan zat, serta gangguan pengendalian impuls.
Artinya, seseorang mungkin berbelanja bukan semata-mata karena ingin memiliki barang. Belanja dapat menjadi cara untuk mengurangi stres, menghilangkan kebosanan, mengatasi kesepian, mendapatkan sensasi menyenangkan, atau mengubah suasana hati.
Penelitian mengenai hubungan stres dan compulsive buying-shopping disorderjuga menunjukkan bahwa stres merupakan faktor yang relevan dalam perkembangan dan pemeliharaan perilaku tersebut.
Sekarang, bayangkan seseorang menikah. Dirinya tetap mengalami stres pekerjaan, tetap mengalami konflik, tetap bisa merasa kesepian, tetap bisa merasa tidak percaya diri, dan tetap bisa mengalami frustrasi.
Maka, menikah tidak otomatis menghilangkan pemicu tersebut. Status hubungan berubah, tetapi mekanisme psikologis seseorang belum tentu berubah.
Quote:
2. Suami dapat menjadi dukungan, tetapi bukan “terapi”
Ini bagian yang harus dibedakan.
Pernikahan yang sehat dapat memberikan dukungan sosial. Suami dapat membantu pasangan membuat anggaran. Suami dapat berdiskusi mengenai prioritas keuangan. Suami dapat memberikan dukungan ketika pasangan sedang stres. Suami bahkan dapat membantu mengurangi akses terhadap situasi yang memicu pembelian impulsif, jika dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama. Semua itu dapat bermanfaat.
Namun, ada perbedaan antara suami membantu Sista mengatasi masalah dengan suami adalah obat untuk masalah Sista. Yang kedua jelas keliru.
Tinjauan mengenai kecanduan belanja menunjukkan bahwa intervensi yang diteliti mencakup psikoterapi, terutama pendekatan cognitive behavioral therapyatau CBT, sementara bukti untuk terapi farmakologis masih terbatas.
Jadi, ketika perilaku sudah berat, solusinya bukan segera menikah supaya ada yang mengontrol. Solusinya adalah mendapatkan bantuan yang sesuai.
Pernikahan dapat menjadi bagian dari sistem dukungan, tetapi bukan pengganti penanganan psikologis.
Quote:
3. Bahkan, setelah menikah, seseorang masih dapat berbelanja secara kompulsif
Penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa perilaku belanja kompulsif memang ditemukan pada perempuan maupun laki-laki.
Meta-analisis yang mencakup 40 penelitian dengan lebih dari 32 ribu peserta memperkirakan prevalensi gabungan sekitar 4,9% pada studi yang menggunakan sampel orang dewasa yang representatif. Penelitian tersebut menemukan bahwa usia lebih muda dan jenis kelamin perempuan berkaitan dengan kecenderungan yang lebih tinggi, meskipun para peneliti juga menekankan variasi besar antarpenelitian.
Menariknya, sebuah penelitian terhadap perempuan yang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan di Paris menemukan bahwa proporsi perempuan menikah lebih rendah di kelompok pembeli kompulsif dibandingkan kelompok kontrol. Namun, ini tidak membuktikan bahwa menikah mencegah kecanduan belanja. Studi tersebut bersifat observasional dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa pernikahan merupakan penyebab rendahnya risiko.
Ini contoh penting tentang bagaimana membaca penelitian. Jika kita menemukan kelompok A memiliki angka lebih rendah daripada kelompok B, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa A menyebabkan B menjadi lebih rendah.
Mungkin, terdapat faktor lain seperti usia, pendapatan, pendidikan, kondisi psikologis, pola konsumsi, lingkungan sosial, dan berbagai variabel lainnya.
Quote:
4. Pernikahan yang tidak sehat justru dapat menjadi sumber stres
Ada satu kemungkinan yang sering dilupakan. Kalau pernikahan dianggap sebagai “obat untuk semua masalah”, kita lupa bahwa pernikahan sendiri dapat menjadi sumber stres apabila hubungan tersebut tidak sehat.
Konflik pasangan, masalah keuangan, komunikasi buruk, KDRT, atau tekanan dalam rumah tangga dapat meningkatkan beban psikologis.
Sementara itu, stres merupakan salah satu faktor yang sedang diteliti dalam kaitannya dengan compulsive buying-shopping disorder.
Maka, logikanya tidak boleh dibalik menjadi dari menikah menjadi pasti lebih bahagia dan pasti tidak kecanduan belanja.
Realitasnya lebih rumit, bahwa pernikahan sehat bisa menjadi sumber dukungan, tetapi pernikahan penuh konflik bisa menjadi sumber stres. Sementara itu, stres dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perilaku belanja kompulsif.
Jadi, kualitas hubungan jauh lebih penting daripada sekadar status sudah menikah.
Quote:
5. Kemandirian finansial tetap penting setelah menikah
Ini sangat berhubungan dengan seri-seri sebelumnya.
Pada Superwoman Series #173, kita membahas penerapan prinsip olahraga dalam membangun kemandirian finansial. Kemudian, pada seri #174, kita membahas cara menekan kecanduan belanja.
Benang merahnya jelas, bahwa perempuan perlu memiliki kemampuan mengelola uang, baik sudah menikah maupun belum.
Menikah bukan berarti tanggung jawab finansial otomatis berpindah kepada suami. Sebaliknya, pasangan sebaiknya memiliki sistem keuangan yang disepakati bersama. Misalnya, mengetahui pendapatan dan pengeluaran, menentukan kebutuhan utama, membuat anggaran, menyisihkan dana darurat, membatasi pembelian impulsif, membicarakan pembelian besar, dan memiliki tujuan finansial bersama.
Namun, tetap perlu ada ruang untuk otonomi pribadi. Suami bukan bendahara pribadi yang harus memeriksa setiap pembelian sayuran atau daging. Sista juga bukan auditor yang harus menginterogasi setiap pembelian suami. Hubungan sehat membutuhkan kepercayaan sekaligus transparansi.
Quote:
6. Masalah sebenarnya adalah kontrol diri, bukan status pernikahan
Mari kita kembali kepada pertanyaan utama. Apakah menikah menjamin Sista tidak kecanduan belanja? Jawabannya, tidak.
Pernikahan dapat memberikan dukungan sosial dan membantu seseorang mengelola kehidupan finansial, tetapi tidak ada bukti yang cukup untuk menjadikannya sebagai perlindungan universal terhadap perilaku belanja kompulsif.
Perilaku tersebut memiliki hubungan dengan impulsivitas, kesulitan mengendalikan perilaku, regulasi emosi, stres, serta faktor psikologis dan sosial lainnya.
Penelitian terbaru bahkan menemukan bahwa orang dengan kecenderungan belanja kompulsif menunjukkan tingkat impulsivitas dan kompulsivitas lebih tinggi, serta gangguan inhibisi respons dalam tugas eksperimental tertentu.
Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan “Apakah Sista sudah menikah?”, melainkan “Apakah Sista mampu mengendalikan perilaku belanja diri Sista?”. Itulah pertanyaan yang lebih penting.
Quote:
Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan Sista?
Pertama, pisahkan kebutuhan dari dorongan. Keinginan membeli tidak sama dengan kebutuhan membeli.
Kedua, kenali pemicu emosional. Catat kapan keinginan belanja muncul. Apakah setelah stres? Setelah bertengkar? Ketika bosan? Ketika disalahpahami?
Ketiga, buat sistem keuangan yang jelas bersama pasangan. Transparansi finansial jauh lebih berguna daripada sekadar larangan.
Keempat, gunakan masa tunggu. Jika ingin membeli barang yang tidak mendesak, beri jeda sebelum melakukan transaksi.
Kelima, bangun aktivitas alternatif. Olahraga, membaca, memasak, belajar keterampilan, melukis, atau kegiatan sosial dapat menjadi alternatif yang lebih konstruktif.
Keenam, jangan malu mencari bantuan profesional apabila perilaku sudah sulit dikendalikan dan menyebabkan masalah nyata.
Tinjauan sistematis mengenai terapi CBSD menemukan bahwa beberapa penelitian psikoterapi, khususnya CBT kelompok, menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam mengurangi gejala, walaupun jumlah penelitian masih terbatas.
Quote:
PENUTUP
Superwoman Series #184 membawa kita kembali kepada prinsip utama seri ini. Perempuan kuat bukan perempuan yang kehidupannya otomatis menjadi sempurna setelah menikah. Perempuan kuat adalah perempuan yang mampu mengembangkan kapasitas dirinya.
Jika Sista belum menikah, belajar mengelola uang. Jika Sista sudah menikah, tetap belajar mengelola uang. Jika Sista memiliki pasangan yang mendukung, manfaatkan dukungan tersebut. Jika Sista menghadapi masalah, jangan menganggap pasangan sebagai satu-satunya jalan keluar.
Sebab, pasangan adalah pendamping, bukan terapis, polisi, bendahara, atau petugas rehabilitasi kecanduan yang kebetulan tinggal serumah.
Pernikahan yang sehat dapat memberikan cinta, dukungan, kerja sama, dan rasa aman. Namun, kemampuan mengendalikan perilaku tetap harus dibangun oleh orang itu sendiri.
Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa menikah bisa meredakan kecanduan belanja, jawabannya sederhana, yaitu belum tentu.
Yang mencegah perilaku belanja kompulsif bukan hanya suami. Yang jauh lebih penting adalah kesadaran diri, regulasi emosi, kontrol impuls, literasi finansial, lingkungan yang sehat, dan kesediaan mencari bantuan ketika masalah sudah berat.
Menikah boleh. Belanja boleh. Memiliki pasangan yang membantu juga boleh. Namun, jangan menyerahkan kendali atas kesehatan mental dan keuangan kepada status pernikahan.
Sebab, semangat Superwoman Series bukan mengajarkan perempuan untuk bergantung kepada siapa pun agar menjadi kuat. Semangatnya adalah, Sista membangun kekuatan itu dari dalam diri, lalu menggunakan hubungan yang sehat sebagai tempat untuk mendewasakan diri bersama.
Quote:
SUMBER
Aboujaoude, E. (2014). Compulsive buying disorder: A review and update. CNS & Neurological Disorders – Drug Targets, 13(3), 402–405.
Black, D. W. (2007). Compulsive buying disorder: A review of the evidence. CNS Spectrums, 12(2), 124–132.
Black, D. W. (2022). Compulsive shopping: A review and update. Current Opinion in Psychology, 46, 101321.
Dell’Osso, B., Allen, A., Altamura, A. C., Buoli, M., & Hollander, E. (2008). Impulsive-compulsive buying disorder: Clinical overview. Australian and New Zealand Journal of Psychiatry, 42(4), 259–266.
Eliyahu, S., Rahamim, S., Natan, N., & Weinstein, A. M. (2025). Impulsivity and compulsivity in compulsive buying. Frontiers in Psychiatry, 16, 1665182.
Maraz, A., Griffiths, M. D., & Demetrovics, Z. (2016). The prevalence of compulsive buying: A meta-analysis. Addiction, 111(5), 807–818.
Müller, A., Laskowski, N. M., Thomas, T. A., Antons, S., Tahmassebi, N., Steins-Loeber, S., Brand, M., & Georgiadou, E. (2023). Update on treatment studies for compulsive buying-shopping disorder: A systematic review. Journal of Behavioral Addictions, 12(3), 631–651.
Thomas, T. A., Schmid, A. M., Kessling, A., Wolf, O. T., Brand, M., Steins-Loeber, S., & Müller, A. (2024). Stress and compulsive buying-shopping disorder: A scoping review. Comprehensive Psychiatry, 132, 152482.
