5 Mitos yang Salah Tentang Suplemen Zat Besi, Hati-Hati Sist!!
10 min read
16
×
5 Mitos yang Salah Tentang Suplemen Zat Besi, Hati-Hati Sist!!
Share this article
Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Quote:
300x600
300x600
PENGUMUMAN
Open pre order e-book “Level Up dalam 90 Hari: Nyata Atau Halu?” by Supergirl Series, harganya 250 ribu rupiah per e-book. Pre order dibuka 13-19 Agustus 2026. E-book ini cocok untuk anak cewek SMP dan SMA. Minat? Hubungi nomor WA 085800068717 (Miss Rora), pembayaran via transfer ovo atau gopay ke nomor tersebut. Cocok untuk ortu dari anak cewek atau guru SMP/SMA. Bayarnya via tf ke ovo atau shopeepay atau gopay ke nomor 085800068717. Kalau gue nipu biar Tuhan Yesus saja yang marahin gue (dijamin gak nipu).
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya!
Kembali lagi di Supergirl Seriesyang ke-27, yaitu seri yang membahas bagaimana remaja perempuan usia 12–18 tahun dapat menjadi pribadi yang kuat dari berbagai segi, yaitu fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Setelah sebelumnya kita membahas pengembangan kemampuan bahasa Inggris, pengendalian diri, kesehatan, dan berbagai tantangan remaja, kali ini kita membahas sesuatu yang kelihatannya sederhana tetapi sangat penting, yaitu zat besi.
Remaja putri memiliki kebutuhan zat besi yang perlu diperhatikan karena sedang mengalami pertumbuhan dan mulai mengalami menstruasi. Kehilangan darah ketika menstruasi dapat menyebabkan rasa lemas dan meningkatkan kebutuhan zat besi. WHO menjelaskan bahwa kombinasi pertumbuhan cepat dan kehilangan zat besi melalui menstruasi membuat remaja putri lebih rentan mengalami kekurangan zat besi dibandingkan remaja laki-laki.
Di Indonesia, pemerintah telah lama menjalankan program tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri. Pedoman Kementerian Kesehatan menetapkan sasaran remaja putri usia 12–18 tahun dan program pemberian TTD secara rutin, sementara pedoman terbaru juga mengatur tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan hemoglobin.
Program makan bergizi gratis (MBG) sendiri mulai beroperasi secara nasional pada 6 Januari 2025 dan ditujukan untuk membantu pemenuhan gizi peserta didik serta kelompok sasaran lainnya.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan, bahwa MBG dan program TTD merupakan kebijakan atau intervensi yang berbeda. Jangan sampai kita menganggap bahwa semua remaja otomatis mendapatkan tablet zat besi hanya karena memperoleh MBG. Program TTD mempunyai mekanisme tersendiri melalui pelayanan kesehatan dan sekolah. Bahkan, data SKI 2023 yang dikutip Kementerian Kesehatan menunjukkan masih terdapat tantangan besar dalam cakupan dan konsumsi TTD pada remaja putri.
Nah, masalah lainnya adalah mitos. Ada berbagai anggapan mengenai tablet zat besi yang terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak tepat. Mari kita luruskan 5 di antaranya.
Quote:
MITOS 1: “Kalau Tidak Anemia, Tidak Perlu Minum TTD”
Ini salah kaprah. TTD pada remaja putri bukan hanya ditujukan sebagai pengobatan bagi orang yang sudah mengalami anemia. Dalam konteks program kesehatan masyarakat, suplementasi zat besi dapat digunakan sebagai upaya pencegahan kekurangan zat besi dan anemia pada kelompok yang berisiko.
WHO memang memiliki rekomendasi mengenai suplementasi zat besi untuk perempuan menstruasi, termasuk remaja putri, sebagai intervensi kesehatan masyarakat untuk mencegah anemia dan defisiensi zat besi. Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa pemberian TTD pada remaja putri merupakan salah satu upaya pencegahan anemia sejak dini.
Jadi, jangan berpikir kalau Sista masih sehat, berarti tablet ini tidak berguna. Justru, program pencegahan dirancang sebelum masalah menjadi lebih berat.
Namun, ini tidak berarti Sista boleh mengonsumsi suplemen zat besi sembarangan dalam dosis sesuka hati. Ikuti dosis dan jadwal yang diberikan dalam program atau sesuai arahan tenaga kesehatan.
Quote:
MITOS 2: “TTD Itu Pengganti Makanan Bergizi”
Jelas bukan. Tablet zat besi bukan pengganti nasi, lauk, sayur, buah, susu, atau sumber protein lainnya. Suplemen adalah pelengkap, bukan pengganti pola makan.
Kementerian Kesehatan menekankan bahwa pencegahan anemia tetap berkaitan dengan konsumsi makanan bergizi seimbang dan sumber zat besi. Buku saku Kemenkes mengenai pencegahan anemia menjelaskan pentingnya makanan bergizi seimbang kaya zat besi sekaligus konsumsi TTD bagi remaja putri. Ada zat besi dari makanan hewani seperti daging dan hati sapi, serta sumber zat besi nabati seperti berbagai jenis kacang-kacangan dan sayuran tertentu.
Selain jumlah zat besi, bioavailabilitas juga penting. Zat besi dari makanan tidak selalu diserap tubuh dengan tingkat yang sama.
Oleh karena itu, pola makan tetap menjadi dasar. Sista jangan sampai berpikir “Sudah minum TTD, jadi boleh makan sembarangan”. Tidak demikian. TTD, makanan bergizi seimbang, dan pola hidup sehat merupakan pendekatan yang jauh lebih masuk akal.
Quote:
MITOS 3: “Kalau Setelah Minum TTD Mual atau Sembelit, Berarti Tubuh Tidak Cocok dan Harus Berhenti Selamanya”
Ini juga perlu diluruskan. Preparat zat besi oral memang dapat menimbulkan efek samping saluran pencernaan pada sebagian orang, misalnya mual, rasa tidak nyaman pada perut, atau perubahan pola buang air besar.
Jadi, apabila Sista mengalami keluhan setelah mengonsumsi TTD, jangan langsung menyimpulkan bahwa zat besi itu berbahaya. Belum tentu. Kementerian Kesehatan bahkan menyediakan materi khusus mengenai cara mengonsumsi TTD dan cara mengatasi efek sampingnya, menunjukkan bahwa masalah tolerabilitas memang merupakan bagian yang perlu diperhatikan dalam program suplementasi.
Namun, jangan juga memaksakan diri apabila efek sampingnya berat. Bicarakan dengan guru, orang tua, dokter, apoteker, atau tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan dapat memberikan arahan mengenai cara penggunaan yang sesuai.
Dan ada perbedaan penting antara efek samping ringan dengan reaksi yang mengkhawatirkan. Jika muncul keluhan berat atau tidak biasa, jangan menebak-nebak sendiri.
Quote:
MITOS 4: “Semakin Banyak Zat Besi, Semakin Cepat Sehat”
Ini salah dan bisa berbahaya. Zat besi memang penting, tetapi prinsipnya bukan lebih banyak berarti lebih baik.
Tubuh membutuhkan zat besi dalam jumlah tertentu. Kekurangan memang bermasalah, tetapi konsumsi zat besi secara berlebihan juga bukan sesuatu yang boleh dilakukan tanpa alasan medis.
Oleh karena itu, jangan menggandakan tablet hanya karena merasa ingin lebih cepat segar. Jangan pula membeli berbagai suplemen zat besi tambahan lalu menggabungkannya dengan TTD pemerintah tanpa mengetahui kandungan dan dosisnya.
Kebutuhan terapi dan pencegahan juga berbeda. WHO membedakan pendekatan suplementasi populasi dengan penanganan individu yang sudah didiagnosis anemia. Untuk seseorang yang telah didiagnosis anemia, tata laksana dapat membutuhkan dosis dan pemantauan yang berbeda sesuai penyebab dan tingkat keparahannya.
Pedoman Kementerian Kesehatan juga memberikan tata laksana berbeda berdasarkan kadar hemoglobin. Misalnya, anemia ringan, sedang, dan berat tidak diperlakukan dengan pendekatan yang sama.
Jadi, jangan menjadikan suplemen sebagai ajang “Semakin banyak, semakin hebat”. Kesehatan tidak bekerja seperti itu.
Quote:
MITOS 5: “Anemia Pasti Karena Kurang Zat Besi, Jadi Semua Anemia Bisa Diselesaikan dengan TTD”
Nah, ini mitos yang sangat penting. Tidak semua anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi.
Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin atau parameter terkait berada di bawah batas yang sesuai. Penyebabnya dapat bermacam-macam.
Kekurangan zat besi memang merupakan penyebab penting, tetapi bukan satu-satunya. Ada anemia yang berkaitan dengan kekurangan zat gizi tertentu, penyakit kronis, perdarahan, gangguan produksi sel darah, atau kelainan darah tertentu.
Inilah alasan mengapa Sista tidak boleh mendiagnosis diri sendiri.
Misalnya, seorang gadis merasa bahwa dirinya sering lelah, berarti dirinya anemia karena kurang zat besi. Belum tentu. Kelelahan memiliki banyak penyebab.
Begitu pula apabila seseorang sudah mengonsumsi zat besi tetapi anemia tidak membaik. Hal tersebut seharusnya menjadi alasan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut, bukan sekadar menambah dosis sendiri.
Pedoman terbaru WHO mengenai batas hemoglobin menekankan pentingnya pengukuran hemoglobin yang tepat untuk menentukan anemia, sedangkan pedoman Kemenkes juga memasukkan pemeriksaan lanjutan pada kondisi tertentu, termasuk evaluasi talasemia pada remaja putri dengan anemia.
Ini sangat penting bagi Sista. Jangan menganggap semua anemia adalah anemia defisiensi besi.
Quote:
Mengapa Remaja Putri Perlu Serius Memperhatikan Zat Besi?
Masa remaja adalah periode pertumbuhan. Tubuh sedang berkembang. Massa otot dan jaringan berubah. Sistem reproduksi berkembang. Dan pada remaja putri, menstruasi menyebabkan kehilangan darah secara berkala dan rasa lemas karena penurunan kadar sel darah merah.
Oleh karena itu, kebutuhan zat besi perlu diperhatikan.
WHO menjelaskan bahwa kebutuhan zat besi meningkat selama pertumbuhan, sementara menstruasi meningkatkan kehilangan zat besi. Kombinasi keduanya membuat remaja putri menjadi kelompok yang rentan mengalami defisiensi zat besi.
Anemia sendiri dapat berkaitan dengan kelelahan dan menurunnya kapasitas melakukan aktivitas fisik. WHO menjelaskan bahwa kadar hemoglobin yang rendah mengurangi kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan.
Bayangkan Sista ingin menari hip-hop, berenang, mengikuti kegiatan sekolah, mengembangkan kompetensi, berorganisasi, dan mengejar cita-cita. Tubuh yang kekurangan zat besi dan mengalami anemia tentu perlu mendapatkan perhatian.
Oleh karena itu, pencegahan anemia bukan sekadar masalah “minum tablet”. Ini merupakan bagian dari investasi kesehatan remaja.
Quote:
TTD Bukan Simbol Bahwa Sista Sedang Sakit
Ini juga perlu ditekankan. Ketika sekolah memberikan TTD kepada remaja putri, jangan langsung berpikir kalau Sista pasti sedang sakit. Tidak.
Program pencegahan kesehatan memang dapat diberikan kepada orang yang belum sakit. Vaksinasi adalah contoh yang mudah dipahami. Seseorang tidak perlu menunggu terkena penyakit terlebih dahulu untuk melakukan pencegahan.
Demikian pula suplementasi zat besi dalam program kesehatan masyarakat dapat digunakan sebagai strategi pencegahan pada kelompok yang berisiko. WHO secara eksplisit menjelaskan suplementasi zat besi dan asam folat sebagai intervensi kesehatan masyarakat untuk mengurangi anemia pada perempuan menstruasi, termasuk remaja putri.
Jadi, jangan malu ketika mendapatkan TTD Merawat tubuh bukan tanda kelemahan, justru merupakan bentuk tanggung jawab.
Quote:
Hubungannya dengan Supergirl Series
Ini sangat berhubungan dengan tema besar Supergirl Series. Pada Supergirl Series #17, kita membahas bahwa kecerdasan seharusnya digunakan sebagai bentuk rasa syukur dan bukan sekadar alat kompetisi. Pada seri berikutnya kita membahas kesehatan reproduksi, pengendalian diri, kesehatan mental, pengembangan keterampilan, hingga kemampuan menghadapi frustrasi.
Sekarang, Supergirl Series #27 mengingatkan bahwa kekuatan intelektual tidak akan optimal apabila kesehatan fisik diabaikan. Sista ingin pintar? Jaga kesehatan. Sista ingin berprestasi? Perhatikan gizi. Sista ingin belajar menari? Jaga energi dan kebugaran. Sista ingin menjadi perempuan yang mandiri? Mulailah dengan memahami tubuh sendiri.
Kekuatan bukan hanya tentang mampu menghadapi tekanan. Kekuatan juga berarti mampu mengatakan bahwa Sista akan menjaga tubuh Sista karena tubuh ini adalah bagian dari tanggung jawab Sista.
Quote:
KESIMPULAN
Lima mitos yang perlu diingat:
Mitos 1: “Kalau tidak anemia, tidak perlu TTD”
Faktanya: TTD dapat digunakan sebagai upaya pencegahan pada kelompok sasaran sesuai program kesehatan
Mitos 2: “TTD menggantikan makanan bergizi”
Faktanya: TTD adalah suplemen, makanan bergizi seimbang tetap penting
Mitos 3: “Kalau mual atau sembelit berarti zat besi berbahaya dan harus dihentikan selamanya”
Faktanya: Efek samping saluran pencernaan dapat terjadi, konsultasikan cara mengatasinya kepada tenaga kesehatan, terutama jika keluhan terlalu berat
Mitos 4: “Semakin banyak zat besi, semakin cepat sehat”
Faktanya: Dosis harus sesuai kebutuhan dan petunjuk, jangan sembarangan menggandakan dosis sendiri
Mitos 5: “Semua anemia pasti karena kekurangan zat besi”
Faktanya: Anemia memiliki banyak kemungkinan penyebab dan perlu evaluasi yang tepat
Dan satu pesan terakhir, jangan hanya minum TTD. Pahami mengapa Sista meminumnya. Dengan pemahaman yang baik, Sista tidak mudah percaya pada mitos. Sista juga tidak mudah takut terhadap obat atau suplemen hanya karena mendengar cerita dari media sosial. Namun, Sista juga tidak akan sembarangan mengonsumsi suplemen hanya karena menganggapnya “vitamin biasa”.
Itulah yang disebut literasi kesehatan. Sebagai bagian dari Supergirl Series #27, mari kita membangun generasi remaja perempuan yang kuat secara fisik, cerdas secara intelektual, sehat secara mental, berhikmat secara sosial, dan kokoh secara spiritual.
Sebab, menjadi Supergirl bukan berarti tidak pernah membutuhkan bantuan. Supergirl justru tahu kapan harus menjaga diri, kapan harus mengikuti program kesehatan, dan kapan harus bertanya kepada tenaga kesehatan.
Quote:
SUMBER
Badan Gizi Nasional. (2025). BGN akan memulai Program Makan Bergizi Gratis secara bertahap. Badan Gizi Nasional.
Badan Gizi Nasional. (2025). Rapat dengan Komisi IX DPR, BGN paparkan progres MBG. Badan Gizi Nasional.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri pada masa pandemi COVID-19 bagi tenaga kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 770 Tahun 2025. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
World Health Organization. (2016). Daily iron supplementation in adult women and adolescent girls. World Health Organization.
World Health Organization. (2018). Weekly iron and folic acid supplementation as an anaemia-prevention strategy in women and adolescent girls. World Health Organization.
World Health Organization. (2024). Guideline on haemoglobin cutoffs to define anaemia in individuals and populations. World Health Organization.
World Health Organization. (2023). Intermittent iron and folic acid supplementation in adult women and adolescent girls. World Health Organization.