Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat pagi GanSist semuanya!
Kembali lagi di Supergirl Seriesyang ke-32, seri yang membahas bagaimana remaja perempuan usia 12–18 tahun dapat menjadi pribadi yang kuat dari berbagai sisi, yaitu fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Setelah sebelumnya membahas kesehatan, olahraga, kecerdasan, kemerdekaan dari pornografi, serta cara menghadapi bullying tanpa kekerasan, kali ini kita membahas sesuatu yang mungkin pernah dialami banyak remaja, yaitu mimisan atau epistaksis.
Melihat darah mengalir keluar dari hidung memang dapat membuat panik. Apalagi jika darah terlihat cukup banyak. Namun, tidak semua mimisan merupakan keadaan berbahaya. Pada anak dan remaja, sebagian besar mimisan berasal dari bagian depan hidung dan biasanya berkaitan dengan iritasi atau trauma ringan pada pembuluh darah yang ukurannya masih sangat kecil dan sangat mudah pecah. Penyebabnya antara lain mengorek hidung, menggosok hidung, bersin, batuk, udara kering, dan rinitis alergi.
Di sisi lain, mimisan yang sangat banyak, berlangsung lama, sering berulang, atau disertai gejala lain memang perlu diperiksa.
Jadi, bagaimana membedakannya? Ada 5 perbedaan penting yang dapat membantu Sista memahami kapan mimisan cenderung ringan dan kapan perlu mendapatkan perhatian medis.
Quote:
1. Durasi: Berhenti dengan Penekanan atau Tidak?
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Mimisan ringan biasanya dapat berhenti setelah dilakukan pertolongan pertama dengan benar.
Ketika hidung berdarah, Sista sebaiknya:
1) Duduk tegak (jangan berbaring dan jangan berdiri, karena berbaring bisa menyebabkan posisi kepala menjadi sama tingginya dengan jantung, sedangkan berdiri bisa menyebabkan tekanan darah naik).
2) Condongkan kepala sedikit ke depan.
3) Bernapas sementara melalui mulut.
4) Jepit bagian lunak hidung dengan kuat dan terus-menerus.
5) Pertahankan tekanan selama beberapa menit tanpa terus-menerus melepaskannya untuk memeriksa apakah darah sudah berhenti.
Pedoman American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgeryyang dirangkum AAFP merekomendasikan penekanan kuat dan terus-menerus pada bagian bawah hidung selama setidaknya 5 menit untuk menangani perdarahan aktif.
Sebaliknya, mimisan yang tetap berlangsung meskipun tekanan sudah dilakukan dengan benar, terutama jika berlangsung sekitar 20–30 menit atau lebih, merupakan alasan untuk mencari pertolongan medis. Pedoman pediatrik Royal Children’s Hospital Melbourne menggunakan perdarahan lebih dari 30 menit meskipun tekanan sudah cukup kuat sebagai salah satu tanda bahaya.
Jadi, jangan hanya melihat “Darahnya banyak”, perhatikan juga “Apakah perdarahannya dapat dikendalikan?”.
Quote:
2. Frekuensi: Sekali-Sekali atau Terus Berulang?
Mimisan sesekali pada remaja dapat terjadi dan biasanya tidak menunjukkan penyakit serius, karena memang pembuluh darah remaja masih cukup tipis. Misalnya, hidung mengalami iritasi setelah terlalu sering digosok atau dikorek. Udara yang terlalu kering juga dapat membuat lapisan dalam hidung lebih mudah mengalami iritasi. Bahkan, perubahan suhu dan kelembapan telah diteliti berkaitan dengan variasi kejadian epistaksis.
Namun, ceritanya berbeda apabila mimisan terjadi berkali-kali, sangat sering dalam waktu singkat, terus muncul dari sisi yang sama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pedoman pediatrik menyarankan evaluasi medis apabila mimisan sering terjadi, misalnya lebih dari sekali seminggu, berat, atau berulang meskipun pertolongan pertama sudah dilakukan.
Mimisan berulang tidak otomatis berarti kanker atau penyakit darah. Jangan langsung berpikir demikian. Namun, frekuensi yang tidak biasa merupakan alasan untuk mencari tahu penyebabnya.
Quote:
3. Gejala Penyerta: Hanya Mimisan atau Ada Tanda Lain?
Nah, ini bagian yang sangat penting.
Mimisan ringan biasanya hanya melibatkan perdarahan dari hidung tanpa gangguan sistemik yang berarti.
Namun, Sista perlu lebih waspada jika mimisan disertai mudah memar tanpa sebab yang jelas, gusi sering berdarah, menstruasi berlebihan, perdarahan berkepanjangan setelah luka kecil, atau terdapat riwayat keluarga dengan gangguan pembekuan darah.
Pedoman Royal Children’s Hospitalmenyebut mudah memar, perdarahan gusi, menstruasi berlebihan, perdarahan berkepanjangan setelah tindakan medis, serta riwayat keluarga gangguan perdarahan sebagai informasi penting ketika mengevaluasi mimisan berulang.
Mengapa? Sebab, mimisan bukan hanya masalah hidung. Sistem pembekuan darah juga berperan dalam menghentikan perdarahan. Beberapa kondisi seperti penyakit von Willebrand, trombositopenia, atau gangguan hematologi tertentu dapat menyebabkan seseorang lebih mudah mengalami perdarahan.
Namun, sekali lagi, mimisan saja tidak cukup untuk mendiagnosis penyakit tersebut. Diagnosis membutuhkan pemeriksaan medis.
Quote:
4. Kondisi Tubuh: Masih Baik atau Sudah Menunjukkan Gangguan?
Mimisan yang ringan biasanya tidak menyebabkan gangguan sirkulasi atau syok. Namun, jika perdarahan sangat berat, seseorang dapat mengalami masalah akibat kehilangan darah.
Sista perlu segera mencari bantuan apabila mimisan disertai pusing berat, lemas sekali, pucat, mengantuk atau sulit merespons, pingsan, atau tanda gangguan sirkulasi lainnya.
Pedoman pediatrik Royal Children’s Hospitalmenyebut sinkop, gangguan hemodinamik, atau kondisi umum yang memburuk sebagai tanda yang membutuhkan perhatian segera.
Pada anak dan remaja, perdarahan yang sampai menyebabkan gangguan sirkulasi memang relatif jarang. Namun, jarang bukan berarti mustahil.
Oleh karena itu, jangan menganggap “Namanya juga mimisan”. Jika kondisi tubuh sudah berubah secara nyata, situasinya berbeda.
Quote:
5. Pola Perdarahan: Sederhana atau Tidak Biasa?
Lokasi perdarahan juga penting.
Pada anak dan remaja, sebagian besar epistaksis berasal dari bagian depan septum hidung, terutama area yang dikenal sebagai area Little atau pleksus Kiesselbach. Perdarahan dari area ini biasanya lebih mudah dikendalikan.
Sebaliknya, perdarahan yang sangat deras, sulit dilihat sumbernya, mengalir ke tenggorokan dalam jumlah banyak, atau tidak berhenti dengan penekanan dapat membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Perdarahan dari kedua lubang hidung juga dapat menjadi petunjuk bahwa terdapat trauma atau penyebab sistemik tertentu, meskipun tentu saja perdarahan bilateral tidak otomatis berarti penyakit berat.
Oleh karena itu, jangan hanya melihat jumlah darah. Perhatikan juga pola perdarahannya.
Quote:
Bagaimana dengan Pernyataan bahwa Remaja Putri Lebih Berisiko?
Nah, Sista, ada satu hal yang perlu diluruskan agar thread ini tetap ilmiah.
Pernyataan bahwa “Remaja putri lebih berisiko mimisan daripada wanita dewasa, sedangkan remaja putra lebih berisiko daripada remaja putri” tidak boleh dianggap sebagai hukum epidemiologi yang berlaku untuk semua populasi.
Memang, terdapat penelitian epidemiologi yang menemukan perbedaan berdasarkan usia dan jenis kelamin pada kejadian epistaksis, dan beberapa seri klinis menemukan jumlah pasien laki-laki lebih besar daripada perempuan. Misalnya, suatu studi pasien epistaksis yang datang ke layanan gawat darurat menemukan 62% pasiennya laki-laki. Namun, penelitian tersebut terutama mencakup populasi yang lebih luas dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap remaja putra pasti lebih berisiko daripada setiap remaja putri.
Jadi, untuk Sista, jangan menentukan tingkat bahaya mimisan hanya berdasarkan jenis kelamin. Yang jauh lebih penting adalah berapa lama perdarahannya, seberapa berat perdarahannya, seberapa sering terjadi, apakah ada gejala lain, dan apakah perdarahan dapat dihentikan. Itulah pendekatan yang lebih ilmiah.
Quote:
Kalau Mimisan, Jangan Lakukan Kesalahan Ini!
Ada beberapa kebiasaan yang perlu dihindari.
Jangan mendongakkan kepala: Darah dapat mengalir ke tenggorokan dan tertelan. Lebih baik, kepala sedikit condong ke depan supaya pembuluh arteri yang menyuplai darah ke rongga hidung terkompresi.
Jangan terus-menerus melepas jepitan hidung: Kalau baru menekan sebentar kemudian dilepaskan untuk melihat apakah darah sudah berhenti, proses pembentukan bekuan dapat terganggu.
Jangan langsung panik: Panik dapat membuat situasi terasa jauh lebih buruk daripada keadaan sebenarnya.
Jangan mengorek hidung setelah perdarahan berhenti: Area yang baru mengalami perdarahan membutuhkan waktu untuk pulih. Pedoman pediatrik juga menganjurkan menghindari mengorek hidung dan meniup hidung dengan keras setelah mimisan untuk mengurangi risiko perdarahan berulang.
Quote:
Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?
Sista sebaiknya meminta bantuan orang dewasa dan mendapatkan evaluasi medis apabila:
1) Perdarahan tidak berhenti meskipun sudah dilakukan penekanan yang benar
2) Darah keluar sangat banyak
3) Terjadi pingsan atau kelemahan berat
4) Mengalami kesulitan bernapas
5) Muntah berulang setelah banyak menelan darah
6) Mimisan sering berulang
7) Terdapat mudah memar atau perdarahan dari tempat lain
8) Terdapat riwayat penyakit perdarahan dan gangguan pembekuan darah dalam keluarga
9) Mimisan terjadi setelah cedera wajah atau kepala tertentu
Jika seseorang terlihat sangat pucat, mengantuk, tidak responsif, atau mengalami kesulitan bernapas, itu bukan waktunya mencoba menangani semuanya sendiri. Pertolongan medis segera diperlukan.
Quote:
Hubungannya dengan Supergirl Series #32
Supergirl bukan hanya tentang menjadi pintar. Supergirl juga bukan hanya tentang memiliki tubuh yang kuat. Supergirl adalah remaja yang mampu memahami tubuhnya sendiri dan tahu kapan harus meminta pertolongan.
Ini sangat berhubungan dengan 4 dimensi yang selalu menjadi dasar seri ini.
Fisik: Sista belajar mengenali tanda tubuh dan menjaga kesehatan.
Mental: Sista tidak langsung panik ketika melihat darah, tetapi berusaha berpikir secara rasional.
Sosial: Sista berani meminta bantuan orang tua, guru, tenaga kesehatan, atau orang dewasa yang dipercaya ketika diperlukan.
Spiritual: Sista dapat memandang tubuh sebagai sesuatu yang perlu dirawat dan tidak menganggap mencari pertolongan sebagai tanda kelemahan.
Kekuatan bukan berarti tidak pernah sakit. Kekuatan berarti mengetahui apa yang harus dilakukan ketika tubuh memberikan sinyal.
Quote:
PENUTUP
Mimisan memang dapat terlihat menakutkan, tetapi sebagian besar mimisan pada anak dan remaja berasal dari bagian depan hidung dan sering kali berkaitan dengan penyebab ringan seperti trauma kecil atau mukosa hidung yang mudah iritasi.
Yang penting adalah mengetahui perbedaannya.
Mimisan yang cenderung normal cenderung berhenti dengan penekanan yang benar, tidak terlalu sering, tidak disertai gejala sistemik, kondisi tubuh tetap baik, dan tidak memiliki pola yang mencurigakan.
Mimisan yang perlu diperiksa cenderung berlangsung lama atau sulit dihentikan, sangat sering atau semakin berat, disertai mudah gangguan perdarahan lain, disertai komplikasi lainnya (pusing berat, pingsan, pucat, atau gangguan kondisi umum), atau memiliki pola yang tidak biasa.
Dan yang paling penting, jangan mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan satu gejala. Mimisan bukan berarti leukemia. Mimisan bukan berarti gangguan pembekuan darah. Mimisan juga bukan berarti keadaan darurat setiap kali terjadi. Namun, mimisan yang berulang, berat, sulit dihentikan, atau disertai gejala lain memang pantas mendapatkan evaluasi medis.
Itulah pesan Supergirl Series #32:. Sista yang kuat bukan Sista yang tidak pernah mengalami masalah kesehatan. Sista yang kuat adalah Sista yang mampu mengenali tanda bahaya, tetap tenang, dan berani mencari pertolongan ketika membutuhkannya.
Quote:
SUMBER
American Academy of Family Physicians. (2020). Clinical practice guideline: Nosebleed (epistaxis). American Academy of Family Physicians.
McGarry, G. W. (2014). Recurrent epistaxis in children. American Family Physician, 90(2), 105.
Royal Children’s Hospital Melbourne. (2025). Clinical practice guidelines: Epistaxis. The Royal Children’s Hospital Melbourne.
Royal Children’s Hospital Melbourne. (2025). Nosebleeds. Kids Health Info.
Cohen, O., Shoffel-Havakuk, H., Warman, M., Tzelnick, S., Haimovich, Y., Kohlberg, G. D., Halperin, D., & Lahav, Y. (2017). Early and late recurrent epistaxis admissions: Patterns of incidence and risk factors. Otolaryngology–Head and Neck Surgery, 157(3), 498–503.
Rincon, E., et al. (2018). Epistaxis in children and adolescents with hereditary hemorrhagic telangiectasia. The Laryngoscope, 128(7), 1714–1719.
