Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore GanSist semuanya!
Setelah membahas kemerdekaan diri, kesehatan, kemandirian finansial, hingga hubungan perempuan dengan makanan pada thread-thread sebelumnya, kali ini Superwoman Seriesyang ke-172 kembali membahas satu dasar yang sangat penting, yaitu mengasihi diri sendiri.
Ada sebuah gagasan sederhana yang layak direnungkan, bahwa sebelum mampu memberikan kasih kepada orang lain secara sehat, seseorang perlu memiliki hubungan yang cukup sehat dengan dirinya sendiri.
Namun, mengasihi diri sendiri tidak sama dengan memanjakan diri. Mengasihi diri sendiri bukan berarti selalu membeli sesuatu ketika sedih, menghindari kritik, menganggap semua kesalahan orang lain, atau mengatakan bahwa diri sendiri selalu benar.
Dalam psikologi, self-compassion lebih dekat dengan kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan dan pemahaman ketika mengalami kegagalan atau penderitaan, sambil tetap menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Neff menjelaskan bahwa self-compassion mencakup 3 komponen utama, yaitu self-kindness, common humanity, dan mindfulness.
Jadi, kasih kepada diri sendiri bukan sekadar berkata, “Aku hebat”. Kadang-kadang, justru berbunyi, “Aku memang melakukan kesalahan, aku akan memperbaikinya, tetapi aku tidak perlu membenci diriku sendiri”.
Lalu, bagaimana cara melatihnya?
Quote:
1. Belajar membantu dengan cara yang membuat orang lain mampu
Salah satu kesalahan dalam memahami kasih sayang adalah menganggap bahwa semakin banyak kita melakukan sesuatu untuk orang lain, semakin besar kasih yang kita berikan.
Tidak selalu demikian. Bayangkan ada seseorang yang tidak bisa memasak. Kita dapat terus memasakkan makanan untuknya setiap hari. Namun, kita juga dapat mengajarinya memasak.
Pilihan kedua membutuhkan lebih banyak kesabaran, tetapi memberikan sesuatu yang lebih berharga, yaitu kompetensi dan kemandirian.
Inilah yang sangat relevan dengan benang merah Superwoman Series sebelumnya. Perempuan kuat tidak hanya menjadi “penolong”. Dirinya juga menjadi pemberdaya.
Tentu saja, membantu secara langsung tetap diperlukan dalam situasi tertentu. Orang yang sedang sakit, mengalami kecelakaan, atau berada dalam kondisi darurat membutuhkan bantuan nyata.
Namun, jika seseorang sebenarnya mampu belajar, jangan selalu mengambil alih pekerjaannya. Ajarkan. Dampingi. Berikan kesempatan mencoba. Biarkan orang itu gagal secara aman. Kemudian, biarkan orang itu berhasil.
Memberi ikan memang membantu hari ini. Mengajarkan cara menangkap ikan memberi keterampilan untuk hari berikutnya. Manusia ternyata tetap belum menemukan peribahasa yang lebih efisien untuk menjelaskan konsep pemberdayaan.
Quote:
2. Tuliskan tiga potensi yang menjadi kekuatan Sista
Sekarang, ambil kertas atau buka catatan di ponsel. Tuliskan tiga potensi yang Sista miliki.
Tidak harus sesuatu yang spektakuler. Misalnya, Sista memiliki kemampuan berpikir kritis, memiliki tubuh yang cukup kuat untuk berlari jauh, dan mampu merawat rambut dengan baik.
Atau, Sista pandai mengajari sesuatu kepada orang lain, dapat memasak dengan baik, dan mudah mempelajari tari hip-hop.
Tujuannya bukan membuat daftar kesombongan. Tujuannya adalah melatih perhatian terhadap kapasitas diri.
Psikologi positif banyak membahas pentingnya mengenali kekuatan pribadi. Penelitian mengenai penggunaan character strengthsmenunjukkan bahwa intervensi yang membantu seseorang mengenali dan menggunakan kekuatannya dapat berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan, meskipun efektivitasnya berbeda-beda pada masing-masing orang dan konteks.
Namun, jangan jadikan daftar tersebut sebagai alasan untuk merasa lebih unggul daripada orang lain. Potensi adalah tanggung jawab, bukan sumber harga diri. Jika Sista pandai memasak, gunakan kemampuan tersebut. Jika Sista pandai mengajar, bagikan. Jika Sista kuat secara fisik, gunakan kekuatan itu untuk sesuatu yang bermanfaat.
Quote:
3. Berani mengakui kelemahan tanpa memamerkannya
Mengasihi diri sendiri bukan berarti hanya mengingat kelebihan. Sista juga perlu mampu berkata “Aku belum bisa”, “Aku kurang tahu tentang hal ini”, dan “Aku memang mempunyai kelemahan di bidang tersebut”.
Ini bukan penghinaan terhadap diri sendiri. Justru, kemampuan mengakui keterbatasan dapat menjadi awal pembelajaran.
Namun, ada perbedaan antara mengakui kelemahan dan menjadikan kelemahan sebagai identitas. Contohnya, “Aku belum pandai berbicara di depan umum” berbeda dengan “Aku memang bodoh dan tidak akan pernah bisa berbicara di depan umum”.
Kalimat pertama menggambarkan kondisi yang dapat berubah. Kalimat kedua mengubah kondisi menjadi identitas permanen.
Sista juga tidak perlu memamerkan kelemahan agar mendapatkan simpati. Tidak semua masalah pribadi harus dipublikasikan. Ada kelemahan yang cukup diketahui diri sendiri, orang yang dipercaya, atau profesional yang memang diperlukan untuk membantu mengatasinya. Melindungi privasi juga merupakan bentuk penghormatan kepada diri sendiri.
Quote:
4. Ingat dua prestasi yang paling membuat Sista bangga
Prestasi tidak selalu berarti mendapatkan piala. Kadang-kadang, prestasi yang paling berarti justru sangat sederhana.
Misalnya, berhasil memasak makanan yang sebelumnya belum pernah dibuat. Berhasil menyelesaikan kursus menari. Berhasil mengajari anak tetangga membaca. Berhasil belajar menggunakan perangkat lunak baru. Berhasil menyelesaikan pekerjaan sulit. Atau, berhasil melewati masa yang sangat menantang tanpa menyerah.
Tuliskan dua pencapaian yang benar-benar membuat Sista bangga, kemudian tanyakan “Kemampuan apa yang membuat aku bisa melakukan itu?”. Mungkin, jawabannya adalah ketekunan, disiplin, kesabaran, keberanian, kreativitas, dan kemampuan belajar.
Dengan cara ini, Sista tidak hanya mengingat hasil, tetapi juga mengenali kapasitas yang menghasilkan hasil tersebut. Ini penting, karena rasa percaya diri yang sehat sebaiknya tidak dibangun dari pujian kosong. Rasa percaya diri lebih kuat jika dibangun dari bukti bahwa Sista pernah berhasil melakukan sesuatu yang sulit, berarti Sista memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang.
Quote:
5. Ikuti kompetisi yang sesuai dengan bakat dan minat
Mengasihi diri sendiri tidak berarti selalu menghindari tantangan. Justru, tantangan dapat menjadi tempat seseorang menguji kemampuan.
Jika Sista memiliki bakat menari, ikuti kompetisi menari.
Jika menyukai bola basket, ikuti pertandingan bola basket yang sesuai kemampuan.
Jika menyukai melukis, ikuti lomba melukis.
Jika menyukai matematika, ikut kompetisi yang relevan.
Jika menyukai debat, latih kemampuan argumentasi.
Dan kalau memang ingin menang, berusahalah dengan serius. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menang selama prosesnya dilakukan secara sportif.
Namun, perlu dibedakan antara ambisi sehat dan harga diri yang sepenuhnya bergantung pada kemenangan.
Kalau menang, evaluasi apa yang dilakukan dengan benar. Kalau kalah, evaluasi apa yang perlu diperbaiki. Dengan begitu, kompetisi menjadi alat pengembangan diri, bukan mesin penghancur harga diri.
Quote:
6. Latih tubuh agar mampu membantu diri sendiri dan orang lain
Salah satu bentuk kasih kepada diri sendiri adalah menjaga tubuh tetap mampu berfungsi. Tidak harus menjadi atlet. Tidak harus memiliki tubuh seperti model kebugaran.
Sista dapat memulai dari latihan kalistenik sederhana sesuai kemampuan, seperti squat, push-upyang dimodifikasi, plank, lunges, atau latihan menggunakan berat badan lainnya.
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang setidaknya 150–300 menit per minggu dan melakukan aktivitas penguatan otot secara teratur. Aktivitas fisik memberikan manfaat terhadap kesehatan fisik dan mental.
Namun, ada alasan lain untuk menjadi lebih kuat, bahwa kekuatan fisik dapat meningkatkan kemampuan fungsional.
Bayangkan harus menggendong seseorang yang pingsan, membawa barang, membantu anggota keluarga yang membutuhkan, menyelamatkan diri dalam keadaan tertentu, atau sekadar menjalani aktivitas sehari-hari tanpa mudah kelelahan.
Tubuh bukan pajangan. Tubuh adalah alat yang memungkinkan kita melakukan sesuatu.
Oleh karena itu, merawat tubuh bukan hanya tentang penampilan. Latih tubuh agar tubuh dapat membantu kehidupan Sista.
Quote:
7. Tinggalkan lingkungan yang membuat Sista terus membenci diri sendiri
Tidak semua lingkungan harus dipertahankan. Jika sebuah lingkungan terus-menerus membuat seseorang merasa rendah diri, cemas, tidak berharga, atau terus melakukan overthinking, evaluasi hubungan tersebut.
Tentu saja, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua kritik adalah lingkungan toksik. Teman yang berkata, “Menurutku, keputusanmu kurang tepat karena alasan ini” belum tentu toksik.
Sebaliknya, seseorang yang terus menghina, mempermalukan, memanipulasi, atau merendahkan dapat memberikan dampak yang jauh lebih serius.
Hubungan sosial memiliki kaitan erat dengan kesehatan dan kesejahteraan. Meta-analisis besar oleh Holt-Lunstad dan rekan-rekan menemukan bahwa hubungan sosial memiliki hubungan dengan risiko kesehatan dan mortalitas. Artinya, manusia memang membutuhkan hubungan sosial.
Namun, membutuhkan hubungan sosial tidak berarti harus mempertahankan semua hubungan. Pilih lingkungan yang memungkinkan Sista bertumbuh. Teman yang dapat memberikan kritik tanpa merendahkan. Orang yang dapat merayakan keberhasilan tanpa iri. Orang yang dapat mengatakan kesalahan tanpa menghancurkan harga diri. Dan yang terpenting, lingkungan yang membuat Sista dapat menjadi diri sendiri tanpa harus terus-menerus membuat drama untuk mengejar penerimaan.
Quote:
8. Sisihkan waktu untuk melakukan sesuatu yang benar-benar Sista sukai
Kesibukan dapat membuat kehidupan terasa seperti daftar tugas yang tidak pernah selesai. Bangun. Bekerja. Belajar. Mengurus rumah. Menyelesaikan kewajiban. Tidur. Kembali lagi ke bangun dan bekerja.
Padahal, manusia juga membutuhkan aktivitas yang memberikan pengalaman positif dan rasa bermakna.
Oleh karena itu, luangkan waktu setiap hari, meskipun singkat, untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan bakat atau hobi. Membaca. Menggambar. Memasak. Menulis. Berkebun. Bermain musik. Berolahraga. Belajar menari. Membuat kerajinan. Atau, aktivitas lain yang benar-benar membuat pikiran terasa hidup.
Namun, “tenang tanpa memikirkan tekanan hidup” bukan berarti melarikan diri dari semua tanggung jawab. Tujuannya adalah memberikan ruang pemulihan mental, bukan menghapus realitas.
Dalam penelitian psikologi, aktivitas rekreasi dan pengalaman waktu luang dapat berhubungan dengan kesejahteraan, terutama ketika aktivitas tersebut memberikan pengalaman positif, otonomi, dan pemulihan dari tuntutan sehari-hari.
Jadi, jangan merasa bersalah karena memiliki hobi. Manusia bukan mesin super tangguh.
Quote:
Mengasihi diri sendiri bukan berarti memuja diri sendiri
Inilah inti Superwoman Series #172. Mengasihi diri sendiri bukan berarti mengatakan “Aku selalu benar”. Bukan pula “Aku harus selalu menang”. Dan bukan pula “Semua orang harus memperlakukanku sesuai keinginanku”.
Mengasihi diri sendiri berarti Sista menghargai diri Sista, sehingga Sista mau merawat diri. Sista mengetahui kekuatan Sista, sehingga Sista mau mengembangkan itu. Sista mengetahui kelemahan Sista, sehingga Sista mau memperbaiki itu. Saya memahami batas Sista, sehingga Sista tidak membiarkan diri dieksploitasi. Sista menghargai orang lain, tetapi Sista tidak perlu kehilangan harga diri demi mengejar validasi.
Dan yang paling penting, kasih kepada diri sendiri tidak harus berhenti pada diri sendiri. Sista yang sehat secara psikologis dapat menggunakan kekuatannya untuk membantu orang lain.
Kalau pandai menari, ajarkan.
Kalau kuat secara fisik, gunakan untuk membantu.
Kalau pandai ilmu kedokteran, bagikan ilmu itu.
Kalau memiliki pengalaman yang berguna, bantu orang lain agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Inilah yang berhubungan dengan Superwoman Series pada thread-thread sebelumnya. Perempuan kuat bukan perempuan yang hanya mencintai dirinya sendiri. Wanita tangguh adalah perempuan yang mampu menghargai dirinya tanpa merendahkan orang lain, mampu menjaga dirinya tanpa menjadi egois, dan mampu membantu orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Sebab, kasih kepada orang lain yang sehat tidak membutuhkan kehancuran diri, dan kasih kepada diri sendiri yang sehat tidak membutuhkan pengorbanan orang lain.
Rawat diri. Kenali diri. Kembangkan diri. Lalu, gunakan kekuatan itu untuk membuat kehidupan di sekitar Sista menjadi sedikit lebih baik.
Quote:
SUMBER
Hobfoll, S. E., Halbesleben, J., Neveu, J.-P., & Westman, M. (2018). Conservation of resources in the organizational context: The reality of resources and their consequences. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior, 5, 103–128.
Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., & Layton, J. B. (2010). Social relationships and mortality risk: A meta-analytic review. PLoS Medicine, 7(7), e1000316.
Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78.
Seligman, M. E. P., Steen, T. A., Park, N., & Peterson, C. (2005). Positive psychology progress: Empirical validation of interventions. American Psychologist, 60(5), 410–421.
White, M. P., Pahl, S., Wheeler, B. W., Fleming, L. E. F., Depledge, M. H., & Boulay, G. (2017). Natural environments and subjective wellbeing: Different types of exposure are associated with different aspects of wellbeing. Health & Place, 45, 77–84.
World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. World Health Organization.
