Guru Sabdo Roso
Sedulur Kaskus, pernah mengalami hal seperti ini?
Belum ada seseorang mengatakan apa-apa, tetapi kita seperti merasa adasesuatu yang berbeda.
Belum mengambil sebuah keputusan, tetapi batin terasa memberi isyarat:
“Kayaknya jangan dulu.”
Atau pernah teringat seseorang secara tiba-tiba, lalu tidak lama kemudian orang tersebut menghubungi kita.
Pengalaman seperti ini sering disebut firasat.
Dalam tradisi Jawa ada ungkapan yang sangat menarik:
Secara sederhana dapat dipahami sebagai:
mengetahui sebelum diberi tahu.
Namun apakah itu berarti seseorang mampu melihat masa depan?
Belum tentu.
Menurut pembacaan yang dibawa Guru Sabdo Roso dalam pembelajaran Nafas Batin, ungkapan ini justru menarik jika dipahami melalui kejernihan rasa dan kepekaan batin.
Bukan tentang merasa menjadi manusia yang serba tahu.
Justru semakin peka seseorang, semakin hati-hati pula ia membedakan:
mana firasat, mana ketakutan, mana keinginan, dan mana sekadar prasangka.
TIDAK SEMUA YANG KITA RASAKAN ADALAH FIRASAT
Ini bagian yang menurut saya paling penting.
Kadang seseorang berkata:
“Firasat saya mengatakan dia tidak baik.”
Padahal bisa jadi sebenarnya dia sedang takut.
Atau:
“Batin saya mengatakan bisnis ini pasti berhasil.”
Padahal mungkin itu hanya keinginan yang sangat kuat.
Bahkan ketika seseorang sedang cemburu, pikirannya dapat menciptakan berbagai cerita yang terasa sangat nyata.
Karena itu, rasa tidak otomatis sama dengan kebenaran.
Rasa perlu dijernihkan.
Dalam laku batin, bukan sekadar:
“Apa yang saya rasakan?”
Tetapi juga:
“Dari mana rasa ini muncul?”
Apakah dari ketenangan?
Atau dari luka?
Apakah dari pengamatan yang jernih?
Atau dari kekhawatiran?
Apakah dari kenyataan yang kita lihat?
Atau dari sesuatu yang memang ingin kita percayai?
BATIN YANG GADUH SULIT MEMBACA DENGAN JERNIH
Bayangkan sebuah kolam.
Ketika airnya terus digerakkan, pantulan di atasnya menjadi pecah.
Kita sulit melihat dengan jelas.
Namun ketika air mulai tenang, pantulan menjadi lebih utuh.
Begitu pula batin manusia.
Ketika seseorang dipenuhi:
amarah,
kecemasan,
keinginan,
ketakutan,
dan prasangka,
maka apa pun yang dirasakannya ikut mendapatkan warna dari keadaan tersebut.
Orang yang sedang takut mudah melihat bahaya.
Orang yang sedang marah mudah melihat kesalahan.
Orang yang sangat menginginkan sesuatu mudah melihat tanda-tanda yang mendukung keinginannya.
Karena itu, menurut Guru Sabdo Roso, latihan kepekaan tidak dimulai dari mencari petunjuk.
Ia dimulai dari:
menjernihkan orang yang sedang membaca petunjuk itu sendiri.
WERUH BUKAN BERARTI MERASA SERBA TAHU
Ini juga penting.
Kata weruh memang berarti mengetahui.
Tetapi dalam perjalanan batin, semakin banyak seseorang belajar, seharusnya semakin sadar pula bahwa banyak hal tidak diketahuinya.
Ada perbedaan antara:
peka
dan
merasa paling tahu.
Orang yang peka dapat mengatakan:
“Saya mempunyai rasa kurang nyaman, tetapi saya tetap perlu melihat kenyataannya.”
Sedangkan ego mudah berkata:
“Saya sudah tahu. Tidak perlu dibuktikan.”
Di sinilah laku batin dan akal sehat harus berjalan bersama.
Firasat boleh didengarkan.
Tetapi keputusan besar tetap perlu diperiksa.
Data tetap dilihat.
Fakta tetap dipertimbangkan.
Orang lain tetap didengar.
Karena spiritualitas yang matang bukan alasan untuk meninggalkan kewarasan.
KADANG FIRASAT ADALAH HASIL DARI HAL-HAL KECIL YANG KITA TANGKAP
Manusia sebenarnya sangat peka terhadap lingkungan.
Kita membaca ekspresi wajah.
Perubahan suara.
Cara seseorang menjawab.
Perubahan kebiasaan.
Suasana ruangan.
Hal-hal kecil seperti ini terkadang ditangkap tanpa kita sadari sepenuhnya.
Akal sadar mungkin belum mampu menjelaskan.
Tetapi di dalam diri sudah muncul perasaan:
“Ada yang berbeda.”
Itulah mengapa beberapa firasat tidak harus langsung dijelaskan sebagai sesuatu yang gaib.
Bisa saja tubuh dan batin kita sedang membaca banyak tanda kecil sekaligus.
Lalu semuanya muncul sebagai satu kesan sederhana:
roso.
Ini tidak membuat pengalaman tersebut menjadi kurang bermakna.
Justru menunjukkan bahwa manusia mempunyai kemampuan pengamatan yang sangat halus.
LALU DI MANA TEMPAT SPIRITUALITAS?
Menurut saya, spiritualitas masuk bukan ketika kita buru-buru memberikan label gaib.
Tetapi ketika kita belajar menjadi lebih sadar terhadap diri sendiri.
Dalam Nafas Batin, kepekaan rasa tidak dipisahkan dari:
eling, waspada, hening, dan budi.
Eling membuat kita sadar terhadap apa yang sedang terjadi.
Waspada membuat kita tidak mudah hanyut.
Hening membantu mengurangi kebisingan.
Dan budi menjadi ukuran bagaimana rasa itu diwujudkan.
Sebab apa gunanya merasa mempunyai firasat tajam kalau akhirnya justru membuat kita:
mudah menuduh,
mudah mencurigai,
merasa paling benar,
atau menghakimi orang lain tanpa bukti?
Kepekaan seharusnya melahirkan kehati-hatian.
Bukan kesombongan.
FIRASAT DAN PRASANGKA SERING TERLIHAT MIRIP
Misalnya kita bertemu seseorang.
Entah kenapa terasa tidak nyaman.
Ada dua kemungkinan.
Mungkin ada sesuatu dalam perilakunya yang memang sedang kita tangkap.
Tetapi mungkin juga ia mengingatkan kita pada pengalaman buruk di masa lalu.
Kalau langsung berkata:
“Roso saya mengatakan dia orang jahat.”
kita bisa melakukan ketidakadilan.
Karena itu perlu ada ruang di antara rasa dan kesimpulan.
Rasakan dulu.
Jangan langsung menghakimi.
Amati.
Tunggu.
Lihat kenyataan.
Batin boleh memberi sinyal.
Tetapi akal membantu kita memeriksanya.
Di sinilah tulisan sebelumnya mengenai:
akal, rasa, dan karsa
menjadi sangat relevan.
Ketiganya tidak perlu saling meniadakan.
KEJERNIHAN HATI BUKAN KEADAAN TANPA EMOSI
Kadang orang membayangkan hati yang jernih berarti tidak pernah marah, sedih, kecewa, atau takut.
Menurut saya bukan demikian.
Semua itu tetap bagian dari manusia.
Kejernihan bukan berarti tidak memiliki gelombang.
Kejernihan berarti:
kita mampu mengenali gelombang tanpa selalu terbawa olehnya.
Misalnya:
“Aku sedang takut.”
Berbeda dengan:
“Karena aku takut, berarti sesuatu yang buruk pasti terjadi.”
Atau:
“Aku merasa tidak nyaman.”
Berbeda dengan:
“Karena aku tidak nyaman, berarti orang itu pasti berniat buruk.”
Ada ruang di antara rasa dan kesimpulan.
Ruang itulah yang perlu dirawat.
NAPAS SEBAGAI JALAN KEMBALI KE HENING
Dalam pembelajaran Nafas Batin, napas menjadi salah satu cara sederhana untuk kembali ke keadaan sekarang.
Ketika muncul firasat kuat, jangan buru-buru bereaksi.
Berhenti sebentar.
Sadari napas.
Sadari tubuh.
Tanyakan:
Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan?
Takut?
Marah?
Cemas?
Berharap?
Atau memang ada rasa tenang yang sulit dijelaskan?
Kadang setelah beberapa saat, rasa berubah.
Yang tadinya terasa seperti “petunjuk” ternyata hanyalah kecemasan.
Namun terkadang setelah emosi mereda, sebuah rasa tetap hadir.
Di sinilah kita bisa memperhatikannya dengan lebih jernih.
Bukan langsung mempercayainya seratus persen.
Tetapi juga tidak harus langsung menolaknya.
FIRASAT YANG JERNIH TIDAK SELALU DRAMATIS
Ada anggapan bahwa firasat harus datang dengan sesuatu yang luar biasa.
Merinding.
Mimpi.
Suara tertentu.
Pertanda khusus.
Padahal kepekaan kadang hadir sangat sederhana.
Seseorang yang sudah lama mengenal keluarganya mungkin bisa merasakan ada yang berbeda hanya dari satu kalimat.
Seorang ibu bisa menangkap perubahan kecil pada anaknya.
Seorang pemimpin yang mengenal timnya dengan baik bisa merasakan masalah sebelum semuanya terlihat jelas.
Seorang pedagang lama dapat melihat perubahan perilaku pasar bahkan sebelum mempunyai angka lengkap.
Apakah semuanya mistik?
Tidak harus.
Kepekaan juga tumbuh dari:
pengalaman, perhatian, dan kedekatan.
Semakin benar-benar hadir seseorang terhadap sesuatu, semakin banyak hal kecil yang mampu ia baca.
JANGAN MENCARI FIRASAT UNTUK MEMBUKTIKAN DIRI ISTIMEWA
Ini jebakan ego yang halus.
Ketika beberapa firasat terasa benar, manusia mudah mulai berpikir:
“Berarti saya punya kemampuan khusus.”
Lalu mulai menunggu tanda.
Menafsirkan semua kejadian.
Merasa setiap kebetulan mempunyai pesan khusus untuk dirinya.
Pada titik tertentu, kehidupan bisa menjadi melelahkan.
Karena semua hal dianggap pertanda.
Menurut pandangan Guru Sabdo Roso, laku batin justru perlu membuat manusia semakin membumi.
Kalau ada firasat, perhatikan.
Kalau ternyata benar, syukuri sebagai pelajaran.
Kalau salah, akui bahwa kita juga bisa keliru.
Tidak perlu menjadikan semuanya identitas.
Sebab tujuan laku bukan untuk menjadi:
“orang yang paling tajam firasatnya.”
Tetapi menjadi manusia yang:
lebih jernih, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab.
WERUH SAK DURUNGE WINARAH DAN ELING LAN WASPADA
Menurut saya dua piwulang ini sangat dekat.
Weruh tanpa waspada bisa menjadi kesombongan.
Sedangkan eling lan waspada menjaga manusia supaya tetap sadar terhadap dirinya sendiri.
Ketika sebuah rasa muncul:
eling.
Sadari.
Ketika ingin langsung menyimpulkan:
waspada.
Periksa.
Ketika ternyata rasa itu benar:
jangan sombong.
Ketika ternyata salah:
jangan malu mengakui.
Semua tetap menjadi bahan belajar.
KEPEKAAN TERBESAR BUKAN HANYA MEMBACA ORANG LAIN
Kadang manusia ingin mempunyai kemampuan membaca orang lain.
Mengetahui niat orang.
Mengetahui kebohongan.
Mengetahui apa yang akan terjadi.
Tetapi ada kemampuan yang mungkin jauh lebih penting:
membaca diri sendiri.
Mampu menyadari ketika ego sedang berbicara.
Menyadari ketika iri muncul.
Menyadari ketika takut sedang menyamar sebagai “firasat”.
Menyadari ketika keinginan pribadi membuat kita kehilangan objektivitas.
Kalau seseorang mampu membaca dirinya sendiri dengan lebih jujur, kepekaannya terhadap dunia luar juga menjadi lebih sehat.
Sebab kaca yang digunakan untuk melihat dunia sudah mulai dibersihkan.
FIRASAT TIDAK MENGGANTIKAN DOA, USAHA, DAN PERTIMBANGAN
Kalau merasa sesuatu tidak baik, tetap cari tahu.
Kalau hendak mengambil keputusan besar, tetap pertimbangkan risikonya.
Kalau menyangkut kesehatan, tetap periksa kepada tenaga profesional.
Kalau menyangkut hukum, tetap cari informasi yang benar.
Kalau menyangkut uang, tetap hitung dengan akal sehat.
Rasa dapat menjadi salah satu masukan.
Bukan satu-satunya hakim.
Justru menurut saya, salah satu tanda kematangan spiritual adalah kemampuan menyatukan:
rasa yang peka,
akal yang jernih,
dan tindakan yang bertanggung jawab.
GURU SABDO ROSO: KEPEKAAN ADALAH AMANAH, BUKAN PANGGUNG
Kalau seseorang mempunyai kepekaan yang baik, itu bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Justru semakin peka, semakin besar tanggung jawab untuk menjaga ucapan.
Sebab mengatakan:
“Saya punya firasat kamu akan begini.”
kepada orang lain dapat memengaruhi pikiran mereka.
Karena itu rasa perlu ditemani budi.
Tidak semua yang dirasakan harus diucapkan.
Tidak semua yang diketahui harus diumumkan.
Tidak semua dugaan perlu menjadi nasihat.
Kadang bentuk kebijaksanaan justru:
diam sambil tetap memperhatikan.
PADA AKHIRNYA, FIRASAT BUKAN TUJUAN
Mungkin setelah menjalani laku hening seseorang menjadi lebih peka.
Lebih mudah membaca suasana.
Lebih cepat mengenali perubahan.
Lebih mampu menangkap sesuatu yang sebelumnya terlewat.
Tetapi semua itu bukan tujuan akhir.
Tujuannya tetap kembali kepada kehidupan.
Apakah kepekaan membuat kita semakin welas asih?
Apakah semakin hati-hati berbicara?
Apakah semakin sadar terhadap diri?
Apakah keputusan menjadi lebih matang?
Kalau iya, maka rasa mulai mempunyai buah.
Karena perjalanan batin bukan tentang memperoleh sesuatu agar terlihat istimewa.
Tetapi tentang menjernihkan sesuatu yang sudah ada di dalam diri.
Barangkali Weruh Sak Durunge Winarah tidak harus selalu dimaknai sebagai kemampuan mengetahui masa depan.
Ia juga dapat menjadi pengingat bahwa:
ketika pikiran tenang, perhatian tajam, pengalaman matang, dan hati tidak terlalu dikuasai ego, manusia mampu melihat sesuatu yang sebelumnya tertutup oleh kebisingan.
Namun tetaplah rendah hati.
Karena rasa bisa tajam.
Tetapi manusia tetap bisa keliru.
Eling nalika rumangsa weruh.
Waspada nalika arep mutusake.
Sadar ketika merasa mengetahui.
Dan berhati-hati sebelum mengambil kesimpulan.
Diskusi Sedulur Kaskus
Pernahkah agan dan sista mempunyai firasat yang kemudian benar-benar terjadi?
Atau pernah juga mengalami sesuatu yang awalnya dianggap firasat, tetapi ternyata hanya kekhawatiran sendiri?
Menurut agan, apa yang membedakan firasat yang jernih dengan prasangka atau overthinking?
Silakan sharing pengalaman dengan santun.
Pengalaman batin setiap orang berbeda, jadi menarik kalau kita membahasnya tanpa harus saling merasa paling benar.
Rahayu.
